Waduh-waduh kok malah jadi rame ya antara mas Andri dg mas Idjaz. 

Peace-peace semuanya kan warga kampung Indonesia tho... he he he.

Untuk mas Andri dan mas Idjaz, saya mungkin ingin untuk menyampaikan sedikit 
gambaran sampai ada pendapat yang saling berbeda tersebut. Marilah kita lihat 
dari sisi APBD. Saya menggunakan data tahun 2006 ya. Propinsi DKI Jakarta pada 
tahun tersebut mengalokasikan APBD 17,4T dan sebagai perbandingan propinsi 
terkecil Sulawesi Barat 320M.  Ini kalau kita akan berbicara APBD ketemu APBD. 
Artinya, bahwa memang dari sisi keseimbangan pendanaan ada perbedaan. Propinsi 
yang terdekat adalah Jawa Barat, Jawa timur, Jawa Tengah, Aceh, Riau, dan 
Kalimantan Timur.

Dari sisi penggunaan dana, ternyata Pemda DKI sama borosnya dengan pemda-pemda 
lainnya (saya tidak menggunakan data kabupaten/kota supaya perbandingan apple 
to apple). Rata-rata mereka menggunakan 34% APBD untuk belanja aparatur. Ini 
masih ditambah dengan belanja2 lainnya. Artinya, sama borosnya. Mengapa saya 
bisa mengatakan boros, karena DIY pada tahun 2006 bisa hanya memanfaatkan 18,7% 
untuk belanja aparatur. (lihat sumber data dari Dirjen BKAD-DDN). Artinya, 
sebenarnya terdapat potensi penghematan yg tidak dilakukan pemda-pemda.

Selain dana tersebut, terdapat dana APBN yang juga tersebar ke daerah-daerah. 
Bila ini dilihat, kembali Jakarta akan mendapatkan porsi yang lebih besar. 
Tetapi dari sisi pembagian, relatif proporsional (ini menurut pemerintah pusat 
lho). Buktinya, di jakarta ada pembangunan jalan toll, di Jawa ada pembangunan 
jalan kereta api rel ganda, di Medan ada pembangunan bandara. Ya more or less 
comparable lah. 

Yang menjadi masalah adalah kegiatan bisnis yang dilakukan oleh swasta. Karena 
bisnis oleh swasta di Indonesia masih sangat terikat dengan pengambil 
keputusan, sehingga pilihan logisnya adalah swasta mendekati Jakarta. Ini lebih 
diperparah lagi dengan banyaknya kebijakan yang selalu menggunakan Jakarta 
sebagai hub. Contoh jelasnya, bagaimana kita harus mendistribusikan semen di 
bagian timur Indonesia yang pasoknya harus lewat Jakarta. Demikian juga beras.

Lebih diperparah lagi oleh kondisi peraturan perpajakan yg lebih membuat 
Jakarta dianak emaskan. PPN yang merupakan pajak pendapatan dari perusahaan 
ternyata ditariknya tidak di daerah, hal ini disebabkan bahwa PPN tersebut 
dipungut di kantor pusat. Sementara kantor pengolah yang notabene tersebar di 
daerah, tidak terpungut. Akibatnya proporsi pajak yang menjadi salah satu 
pertimbangan dalam redistribusi pendapatan menjadi sangat menguntungkan Jakarta.

Hal inilah yang mengakibatkan sumber yang sebenarnya bisa dimanfaatkan oleh 
daerah lainnya menjadi tidak tertarik. Belum lagi bahwa dana perimbangan 
ternyata masih sangat heavy pada SDA. Akibatnya, wilayah yang miskin SDA 
menjadi tidak mempunyai kemampuan sumber untuk pendapatan.

Demikian, mungkin bisa sedikit menambah wawasan. Saya tidak melihat masalah 
uang berputar di Jakarta itu bukan karena pemdanya foya-foya atau tidak. Karena 
semua pemda boros. Tetapi justru mekanisme bisnis di Indonesia yang masih 
sangat mendekati kekuasaan mengakibatkan pengelompokan kegiatan di Jakarta.

Salam

bambang sp

Kirim email ke