Pak Risfan dan milister lainnya:

Rasanya pertanyaan/komentar serupa pernah disampaikan dalam milis Referensi 
yang aktif and konstruktif ini. Saya pernah mengomentarinya dan pada intinya 
pekerjaan seorang perencana tidaklah melulu tata ruang. Saya kutipkan lagi saja 
apa yang pernah saya sampaikan (pls check out my blog: 
http://indonesiaurbanstudies.blogspot.com for details):
Planners formulate policies to meet the needs of communities including social, 
economic, and physical needs and they develop the strategies to make these 
plans work
Planners develop plans for land use patterns, housing needs, parks and 
recreation facilities, transportation systems, economic development, 
environmental protection and other aspects of the future
Planners work with the public to develop a vision of the future and to build on 
that vision
Planners often function as mediator among conflicting community interests; they 
may also become facilititors using their professional judgment to help identify 
the best resolutions to the conflict
Planners advise public officials and citizens in shaping the future
Planners design and manage the planning process and attract public to involve 
in the process. 
Mengenai pertanyaan IAP, saya pikir tetaplah IAP sebagai Ikatan Ahli 
Perencanaan. Perencanaan sendiri secara harfiah, saya artikan sebagai "a 
systematic attempt and actions in the public domain to shape the future". Tapi 
bila pengertian ini dikaitkan dg profesi, tiada lain bahwa profesi perencana 
melekat dg perencana wilayah dan kota. Meskipun hanya kata perencanaan yg 
melekat dg IAP, tapi biarlah publik yang memaknainya sendiri sebagai 
perencanaan wilayah dan kota. 

Rasanya topik diskusi ini sangat relevan dengan terpilihnya pengurus baru IAP. 
Inilah tantangan IAP untuk memasyarakatkan profesi perencana sebagai profesi 
perencana kota dan wilayah. 

Mengenai tantangan buat pengurus IAP baru ini saya pun ingin menyampaikan 
disini bahwa IAP masihlah kurang diminati oleh perencana di Indonesia sebagai 
wadah yang dapat menyuarakan kebutuhan, ide dan aspirasinya dan yg dapat 
meningkatkan kompetensinya dalam pembangunan di Indonesia. Dua hari yl. saya 
cek di website IAP (dan masih juga belum diupdate dg hasil dari Kongres kemarin 
ini), terdapat 1384 anggota dalam IAP, dan kebanyakan belum her registrasi. 
Saya bandingkan dg anggota the American Planning Association yg jumlah anggota 
aktifnya mencapai 43,000! Memang rasanya tidak relevan membandingkan dg US, 
tapi ya... jangan terlalu jauh lah..angkanya tsb, mengingat jumlah penduduk 
Indonesia yg hampir sama dg US. 

Pengurus baru mesti kreatif utk meningkatkan kompetensi profesi perencanaan di 
Indonesia. Janganlah jabatan dalam kepengurusan itu hanya digunakan untuk 
meningkatkan peluang seorang direktur menjadi dirjen atau seorang dirjen 
menjadi menteri. Ini sah-sah saja, tapi ya.. pentingkan dulu organisasi dan 
profesi perencana di Indonesia. 
Saya paham sekali bahwa jabatan dalam IAP is a non-paid position, shg 
"tuntutan" utk bekerja dan berpikir penuh terhadap organisasi tidaklah 
mendesak. Bgm mungkin seorang yg memiliki kesibukan full-time job di 
pemerintahan ataupun swasta berbuat "all-out effort and energy" utk organisasi. 
Kalau saya bandingkan dg struktur organisasi APA ataupun AIA di US, posisi yg 
diemban oleh Pak Iman Soedrajat dan Pak Bernardus Djonoputro saat ini adalah 
sebagai Board of Directors. Board of Directors, yang semua anggotanya adalah 
full-time planners or architecs di public or private agencies, dan mereka tidak 
perlu melakukan aktivitas day-to-day utk organisasi. Mereka memilih orang-orang 
sebagai staffs yg bekerja full-time dan dibayar. Staffs inilah yg berbuat 
"all-out effort and energy on day-to-day basis".

Bisakah IAP berbuat serupa? Saya tidak tahu persis. Saya coba cari AD/ART di 
website IAP, tapi tidak berhasil. Sebagai saran saja, saya ingin melihat 
minimal satu orang planner yg berdedikasi dan berwawasan luas utk ditugasi 
sebagai executive director dan dia digaji oleh IAP. Salah satu tanggung 
jawabnya adalah mengurus newsletters atau majalah. Newletters atau majalah 
inilah diberikan kepada anggota yg sudah membayar iuran anggota. Media 
komunikasi ini juga dijadikan sbg media peningkatan kompetensi perencana, 
misalnya tulisan mengenai hasil-hasil laporan studi atau pun 
peraturan-peraturan baru menyangkut perencanaan. 

Masih banyak hal lainnya yg perlu dipikirkan, misalnya bagaimana bentuk 
kolaborasi terbaik dengan ASPI ataupun INKINDO. Banyak hal yang dpt 
dikembangkan dg kedua institusi ini utk pengembangan kompetensi perencana di 
Indonesia. 

Mohon tulisan ini diartikan sebagai kepedulian seorang anak Indonesia yg ingin 
melihat majunya dunia perencanaan di Indonesia. Ini bukan main-main, this is a 
damned serious business. Kemajuan dunia perencanaan adalah bukan hanya tanggung 
jawab pengurus IAP saja, tapi semua komponen masyarakat perencanaan di 
Indonesia. 

Saya tulis juga hasil Kongres IAP kemarin berikut dg saran saya terhadap 
pengurus baru IAP di blog saya. As always, comments are invited.

Salam hangat dari Savannah (yg mulai dingin menjelang winter)

Deden. 

 


__________________________________________________
Do You Yahoo!?
Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
http://mail.yahoo.com 

Kirim email ke