Rekans,

Membaca posting nya Pak Risman dibawah saya jadi merasa bersalah. 
Karena opini saya lebih saya tujukan untuk planner yang bekerja di 
semua Departemen/Kemeterian/Badan, Pemda, swasta, LSM. Sehingga 
menggebu-gebu bicara PERENCANAAN PEMBANGUNAN DAERAH/KOTA.

Sementara asumsi Pak Risman, dari posting ini, memang bagi audiens 
keluarga besar Departemen PU/ Ditjen Tata Ruang. Karena itu fokusnya 
adalah PERENCANAAN TATA RUANG.

Jadi mohon maaf kalau opini saya agak kejauhan.

Salam,
Risfan Munir


--- In [email protected], "Risman Maris" <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yth Pak Mod, Pak BTS, teman-teman,
> 
> 1.    Pertama-tama, haraplah saya dimaafkan lahir-bathin karena 
selama ini
> uzur melulu. Dan teruslah kita setiap hari saling memaafkan, 
layaknya
> gaya-hidup syariah.
> 2.    Amma ba'du. Pak BTS, sungguh mati sejak mula mengikuti "Tata 
Ruang
> Nggak Ade Matinye" sakit perut saya menahan geli. Teringat istilah-
istilah
> yang pernah kita pakai, 'planners tiarap', 'planners terlena (Iis
> Darliah?)', 'planners jurus Dewa Mabuk', bahkan waktu sekolah dulu 
ada
> 'planners jurusan Cicaheum-Dago (kenek oplet)' dll. Namun di balik 
semua,
> ada 'the few, the proud, the planners'; kini datang Pak BTS 
konfirm kredo
> saya juga, 'nggak ada matinye!'.
> 3.    Intinya fisik, memang, kalau mau inti sosiologi sekolah sana 
ke UGM,
> kalau mau inti ekonomi sana 'gih ke UI (ini kredo tahun 50-an). 
Itu kata
> supplier. Apa kata demand?
> 4.    Demand terukur paling mutakhir, ya UUPR Th 2007 itu, dan 
hasil
> kongres IAP yang demikian sukses, dan keynote address Menteri PU 
yang
> demikian menjanjikan (banyak kerjaan). Nah, di kongres pula  saya 
menghimbau
> kesadaran planners, jangan keterusan jadi kodok direbus pelan-
pelan seperti
> kejadian sejak 1990. Diberi kesenangan fisik-material, disertai 
jampi-jampi
> paling tahu paling komprehensif, hanya untuk dimatikan 
professionalismenya,
> agar bebas beredar cukong-cukong developer besar. Maka cepatlah 
perkuat
> metodologi, benahi toolkit, dalami details (ya Pak Mod? Sebenarnya 
inipun
> jurus asli physical planners, distilam, disiplin-teliti-mendalam,
> disumbangkan Poernomosidi Hadjisarosa, 1978. By the way, Pak PH 
almarhum ini
> kita golongkan raksasa pembaru teori lokasi, melengkapi urutan Von
> Thunen-Christaller-Perroux-Baudeville-Friedman-Alonso-
Poernomosidi). Namun
> apa boleh buat, situasi termutakhir, tepat digambarkan kemarin 
oleh Ibu Lina
> direktur kita di DJPR, kodok planners kini sudah pengen meloncat, 
justru
> baru tahu kakinya putus!
> 5.    Demand objektif, ya itu, sebagai negara kepulauan terbesar
> seperdelapan ekuator bumi, 250-an juta manusia yang pantas 
dibandingkan
> hanya dengan  Amerika Serikat (ya, Pak Deden?), 17.000 tapak 
darat, mesin
> bermukim yang dari zaman batu sampai ke zaman gaul. Mlanning-nya 
tak ada
> contoh dunia, apa planners nggak tertantang, apa nggak harus pikir 
sendiri,
> karya sendiri, mandiri? Pak Akhmad Idjaz, seberapa jauh kompilasi
> rumus-rumus?
> 6.    Tambahan: jangan pula terlena dengan segala PP, Perpres, 
Permen,
> Perda, etc yang sekarang beredar; pesan UUPR 2007, kalau tak 
sesuai lagi,
> revisi saja, bikin baru saja! Peran Departemen Dalam Negeri? 
Kiranya untuk
> masa 5-10 tahun mendatang ikutlah saja memantapkan ketegasan job 
description
> suatu 'Departemen Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang'.
> 7.    Diskusi kita lanjutkan nanti?
> 
>  
> 
>  
> 
> Wassalam,
> 
> RMaris
> 

Kirim email ke