Pak BSP dan rekan milisters ysm.,

Catatan saya agaknya mirip dengan Pak BSP, namun saya ingin 
tahu pendapat Bapak terhadap pandangan saya berikut:


Pertama, dikotomi pusat dan daerah tertonjolkan karena 
sudah jelas bahwa pembangunan di Pusat [baca: Jakarta dan 
sekitarnya - bukan DKI secara provinsial] menimbulkan 
kecemburuan bagi daerah-daerah yang (punten) sudah dijejali 
TV yang berisikan acara kegemerlapan 
Jakarta-tapi-kok-di-kampung-kami-tidak-ya. :)

Timor - yang kontribusinya terhadap Negara relatif lebih 
rendah dibandingkan Aceh dan Papua - sudah merdeka.
Alibi kemerdekaan Timor boleh saja historis, secara sosial 
tidak cocok karena dijajah Portugis, bukan Belanda, dll., 
namun bukankah Singapura sewaktu "memisahkan" diri dari 
Malaysia perekonomiannya juga buruk dan setelah pisah malah 
maju?

Pak BSP ysm., saya kok mengira bahwa NKRI yang sudah harga 
mati lebih baik secara bersama-sama kita pertahankan dengan 
pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya - bukan 
mensejahterakan Jakarta dan sekitarnya lalu memberantas 
"Gerakan Anu Merdeka" di daerah-daerah.
Terlalu besar energi, waktu, pikiran, dan dana yang 
digunakan untuk "meniadakan residu."


Kedua, untuk poin "bahaya otonomi," saya banyak bersetuju 
dengan pandangan Pak BSP mengenai (memakai frase lain) 
etno-nasionalisme yang bisa menjadi ekses kontraproduktif 
yang rawan "pecah-belah bangsa."
Saya berpikir, apapun bentuk otonominya, apakah Otda di 
Tingkat I/II, negara bagian [seperti Mas Harya Setyaka, 
saya juga agak heran mengapa Pemerintah agak alergi dengan 
sistem ini :) ], dll., yang penting adalah bagaimana lex 
specialis-nya di Pusat dan daerah. Namun ini pun belum 
menjamin, karena "de jure" tidak selamanya menjamin "de 
facto" di beberapa negara.


OOT, memang menyedihkan, Pak keadaan psikis masyarakat 
Republik BBM (dan mungkin siapa tahu juga Pemerintah-nya) 
akibat semua krisis ini termasuk krisis moral dan krisis 
kepercayaan.
Jadi, alangkah baiknya bila para sosiolog, psikolog atau 
psikiater bersedia menerangkan apakah kondisi bangsa ini 
sudah termasuk DSM IV.

Bila masyarakat depresi, mungkin bangsa BBM perlu jadi 
Prozac Nation macam Uncle Sam; bila schizophrenia, mungkin 
bisa dicoba Haldol atau Zyprexa.

Namun bila psikopat, saya nggak tahu obat apa yang cocok 
karena mindset-nya boleh jadi, "Korupsi itu halal dan 
lumrah saja, toh gaji saya memang nggak cukup." :)

Maaf punten nuwun nyuwun pangapunten, Pak BSP, lagi error 
nih sayanya. :)


Salam persatuan dan pemerataan,

Andri
SI 93
"Bias-Bias Cak Andri"
http://mandrib.kuyasipil.net/
http://mandrib.multiply.com/


--- In [email protected], "[EMAIL PROTECTED]" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
 > Mas Andri, Uda Eka dan rekan milister ysm.
 >
 > Ada dua catatan yang ingin saya sampaikan kepada 
audience disini.
 >
 > Pertama. Kok kesan dikotomi pusat-daerah demikian 
ditonjolkan ya. Walaupun memang saat ini harus diakui bahwa 
terjadi ketimpangan... tetapi yang membangun negara ini 
adalah masyarakat dan negara secara sekaligus. Jadi yang 
paling terpenting adalah bagaimana menciptakan daerah yang 
kompetitip dan menarik bagi investasi... itu yang sebiaknya 
kita bahas. Karena pembahasan yang mengolak alik dikotomi 
tersebut akan menyebabkan habis energi gak ada 
hasil....(maaf punten nuwun nyuwun pangapunten).
 >
 > Kedua, terjadi simplifikasi dalam melihat permasalahan 
otonomi. Kaca mata otonomi hanya dilihat dari sisi 
pembangunan. Ada sebuah bahaya yang menghadang yang 
sebenarnya ada didepan mata. Untuk wilayahnya mas Andri 
misalnya di SU sana. Coba tengok Kabupaten di wilayah Karo 
akan dipenuhi oleh pejabat dari Karo. Dst dst .. Mengapa 
... otonomi di kabupaten dan kota mempunyai threat yaitu 
munculnya blocking dari sisi etnik. Akibatnya yang terjadi 
dengan UU 29/1999 adalah munculnya etno politic dan 
etnoadministratif .... hal yang tidak pernah terjadi 
kecuali di Indonesia dan Yugoslavia. Ini sangat bahaya. 
Kasusnya sudah merebak di Sulawesi Barat.
 >
 > Salam
 >
 > bambang sp

Kirim email ke