Cak Andri,

Kalau pak Kalla berpendapat bahwa demokrasi itu alat...
saya cenderung bahwa bentuk negara dan hub-pusat daerah itu lah yg merupakan 
alat...

yg bisa di-nomor-dua-kan untuk kesejahteraan rakyat... 

kewenangan... itu alat... bahwa bisa di-anulir demi kesejahteraan rakyat...

kalau demokrasi sudah terbukti ... demokrasi yg 'gagal' membawa kesejahteraan 
adalah demokrasi yg sebatas prosedur...dan ini yg terjadi di Indonesia... 
demokrasi baru ritual...
mana ada orang yg sejahtera tanpa pengakuan atas hak nya...

dari fakta kondisi geografi fisik dan socio-etno-geografi Indonesia... saya 
lebih optimis dengan otonomi plus pengembangan kapasitas pemda... 

pengalaman jaman OrBa... yg terjadi adalah penyedotan human-capital di jajaran 
Pemerintahan ke Jawa terutama Jakarta... orang yg bagus dari daerah di-tarik ke 
'pusat'....
harusnya sekarang terbalik... 
yah.. sekarang kita mulai dengan Kepala Daerahnya dulu deh... 

Timor memang merdeka... semoga Rakyat Timor... dan Rakyat Indonesia juga 
merdeka.. bukan cuma 'birokrat-nya yg merdeka..

salam,
-K-

 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta INDONESIA

----- Original Message ----
From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>
To: Referensi <[email protected]>
Sent: Thursday, November 29, 2007 8:47:18 PM
Subject: [referensi] Re: [ClarifyThis] Pembangunan: Mengapa Otda di Tingkat Dua?










  


    
            Pak BSP dan rekan milisters ysm.,



Catatan saya agaknya mirip dengan Pak BSP, namun saya ingin 

tahu pendapat Bapak terhadap pandangan saya berikut:



Pertama, dikotomi pusat dan daerah tertonjolkan karena 

sudah jelas bahwa pembangunan di Pusat [baca: Jakarta dan 

sekitarnya - bukan DKI secara provinsial] menimbulkan 

kecemburuan bagi daerah-daerah yang (punten) sudah dijejali 

TV yang berisikan acara kegemerlapan 

Jakarta-tapi- kok-di-kampung- kami-tidak- ya. :)



Timor - yang kontribusinya terhadap Negara relatif lebih 

rendah dibandingkan Aceh dan Papua - sudah merdeka.

Alibi kemerdekaan Timor boleh saja historis, secara sosial 

tidak cocok karena dijajah Portugis, bukan Belanda, dll., 

namun bukankah Singapura sewaktu "memisahkan" diri dari 

Malaysia perekonomiannya juga buruk dan setelah pisah malah 

maju?



Pak BSP ysm., saya kok mengira bahwa NKRI yang sudah harga 

mati lebih baik secara bersama-sama kita pertahankan dengan 

pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya - bukan 

mensejahterakan Jakarta dan sekitarnya lalu memberantas 

"Gerakan Anu Merdeka" di daerah-daerah.

Terlalu besar energi, waktu, pikiran, dan dana yang 

digunakan untuk "meniadakan residu."



Kedua, untuk poin "bahaya otonomi," saya banyak bersetuju 

dengan pandangan Pak BSP mengenai (memakai frase lain) 

etno-nasionalisme yang bisa menjadi ekses kontraproduktif 

yang rawan "pecah-belah bangsa."

Saya berpikir, apapun bentuk otonominya, apakah Otda di 

Tingkat I/II, negara bagian [seperti Mas Harya Setyaka, 

saya juga agak heran mengapa Pemerintah agak alergi dengan 

sistem ini :) ], dll., yang penting adalah bagaimana lex 

specialis-nya di Pusat dan daerah. Namun ini pun belum 

menjamin, karena "de jure" tidak selamanya menjamin "de 

facto" di beberapa negara.



OOT, memang menyedihkan, Pak keadaan psikis masyarakat 

Republik BBM (dan mungkin siapa tahu juga Pemerintah-nya) 

akibat semua krisis ini termasuk krisis moral dan krisis 

kepercayaan.

Jadi, alangkah baiknya bila para sosiolog, psikolog atau 

psikiater bersedia menerangkan apakah kondisi bangsa ini 

sudah termasuk DSM IV.



Bila masyarakat depresi, mungkin bangsa BBM perlu jadi 

Prozac Nation macam Uncle Sam; bila schizophrenia, mungkin 

bisa dicoba Haldol atau Zyprexa.



Namun bila psikopat, saya nggak tahu obat apa yang cocok 

karena mindset-nya boleh jadi, "Korupsi itu halal dan 

lumrah saja, toh gaji saya memang nggak cukup." :)



Maaf punten nuwun nyuwun pangapunten, Pak BSP, lagi error 

nih sayanya. :)



Salam persatuan dan pemerataan,



Andri

SI 93

"Bias-Bias Cak Andri"

http://mandrib. kuyasipil. net/

http://mandrib. multiply. com/



--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "[EMAIL PROTECTED] " 

<[EMAIL PROTECTED] > wrote:

 > Mas Andri, Uda Eka dan rekan milister ysm.

 >

 > Ada dua catatan yang ingin saya sampaikan kepada 

audience disini.

 >

 > Pertama. Kok kesan dikotomi pusat-daerah demikian 

ditonjolkan ya. Walaupun memang saat ini harus diakui bahwa 

terjadi ketimpangan. .. tetapi yang membangun negara ini 

adalah masyarakat dan negara secara sekaligus. Jadi yang 

paling terpenting adalah bagaimana menciptakan daerah yang 

kompetitip dan menarik bagi investasi... itu yang sebiaknya 

kita bahas. Karena pembahasan yang mengolak alik dikotomi 

tersebut akan menyebabkan habis energi gak ada 

hasil....(maaf punten nuwun nyuwun pangapunten) .

 >

 > Kedua, terjadi simplifikasi dalam melihat permasalahan 

otonomi. Kaca mata otonomi hanya dilihat dari sisi 

pembangunan. Ada sebuah bahaya yang menghadang yang 

sebenarnya ada didepan mata. Untuk wilayahnya mas Andri 

misalnya di SU sana. Coba tengok Kabupaten di wilayah Karo 

akan dipenuhi oleh pejabat dari Karo. Dst dst .. Mengapa 

... otonomi di kabupaten dan kota mempunyai threat yaitu 

munculnya blocking dari sisi etnik. Akibatnya yang terjadi 

dengan UU 29/1999 adalah munculnya etno politic dan 

etnoadministratif .... hal yang tidak pernah terjadi 

kecuali di Indonesia dan Yugoslavia. Ini sangat bahaya. 

Kasusnya sudah merebak di Sulawesi Barat.

 >

 > Salam

 >

 > bambang sp



    
  

    
    




<!--

#ygrp-mkp{
border:1px solid #d8d8d8;font-family:Arial;margin:14px 0px;padding:0px 14px;}
#ygrp-mkp hr{
border:1px solid #d8d8d8;}
#ygrp-mkp #hd{
color:#628c2a;font-size:85%;font-weight:bold;line-height:122%;margin:10px 0px;}
#ygrp-mkp #ads{
margin-bottom:10px;}
#ygrp-mkp .ad{
padding:0 0;}
#ygrp-mkp .ad a{
color:#0000ff;text-decoration:none;}
-->



<!--

#ygrp-sponsor #ygrp-lc{
font-family:Arial;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc #hd{
margin:10px 0px;font-weight:bold;font-size:78%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor #ygrp-lc .ad{
margin-bottom:10px;padding:0 0;}
-->



<!--

#ygrp-mlmsg {font-size:13px;font-family:arial, helvetica, clean, sans-serif;}
#ygrp-mlmsg table {font-size:inherit;font:100%;}
#ygrp-mlmsg select, input, textarea {font:99% arial, helvetica, clean, 
sans-serif;}
#ygrp-mlmsg pre, code {font:115% monospace;}
#ygrp-mlmsg * {line-height:1.22em;}
#ygrp-text{
font-family:Georgia;
}
#ygrp-text p{
margin:0 0 1em 0;}
#ygrp-tpmsgs{
font-family:Arial;
clear:both;}
#ygrp-vitnav{
padding-top:10px;font-family:Verdana;font-size:77%;margin:0;}
#ygrp-vitnav a{
padding:0 1px;}
#ygrp-actbar{
clear:both;margin:25px 0;white-space:nowrap;color:#666;text-align:right;}
#ygrp-actbar .left{
float:left;white-space:nowrap;}
.bld{font-weight:bold;}
#ygrp-grft{
font-family:Verdana;font-size:77%;padding:15px 0;}
#ygrp-ft{
font-family:verdana;font-size:77%;border-top:1px solid #666;
padding:5px 0;
}
#ygrp-mlmsg #logo{
padding-bottom:10px;}

#ygrp-vital{
background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;padding:2px 0 8px 8px;}
#ygrp-vital #vithd{
font-size:77%;font-family:Verdana;font-weight:bold;color:#333;text-transform:uppercase;}
#ygrp-vital ul{
padding:0;margin:2px 0;}
#ygrp-vital ul li{
list-style-type:none;clear:both;border:1px solid #e0ecee;
}
#ygrp-vital ul li .ct{
font-weight:bold;color:#ff7900;float:right;width:2em;text-align:right;padding-right:.5em;}
#ygrp-vital ul li .cat{
font-weight:bold;}
#ygrp-vital a{
text-decoration:none;}

#ygrp-vital a:hover{
text-decoration:underline;}

#ygrp-sponsor #hd{
color:#999;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov{
padding:6px 13px;background-color:#e0ecee;margin-bottom:20px;}
#ygrp-sponsor #ov ul{
padding:0 0 0 8px;margin:0;}
#ygrp-sponsor #ov li{
list-style-type:square;padding:6px 0;font-size:77%;}
#ygrp-sponsor #ov li a{
text-decoration:none;font-size:130%;}
#ygrp-sponsor #nc{
background-color:#eee;margin-bottom:20px;padding:0 8px;}
#ygrp-sponsor .ad{
padding:8px 0;}
#ygrp-sponsor .ad #hd1{
font-family:Arial;font-weight:bold;color:#628c2a;font-size:100%;line-height:122%;}
#ygrp-sponsor .ad a{
text-decoration:none;}
#ygrp-sponsor .ad a:hover{
text-decoration:underline;}
#ygrp-sponsor .ad p{
margin:0;}
o{font-size:0;}
.MsoNormal{
margin:0 0 0 0;}
#ygrp-text tt{
font-size:120%;}
blockquote{margin:0 0 0 4px;}
.replbq{margin:4;}
-->








      
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing.  Make Yahoo your home page. 
http://www.yahoo.com/r/hs

Kirim email ke