*) Mohon maaf untuk semuanya... ini hanya intermezo dihari minggu saja.....
Terinspirasi oleh judul film 'Semua Karena Ginah', sutradara : Nya' Abas
Akub, produksi Parkit Film, 1985, pemeran utama : Zoraya Perucha, subyek : Film
drama komedi sosial ......
Sinopsis :
Meski hanya sebagai tukang jamu gendongan, Ginah (Zoraya Perucha)
pembawaannya menarik. Penampilan Ginah terlihat luwes dan menggairahkan.
Keramahannya ternyata berakibat banyak pria dari segala tingkatan jatuh cinta
kepada Ginah. Sebelum Ginah menjadi terkenal mereka dengan mudah dapat bertemu.
Tetapi setelah Ginah menjadi terkenal dan kaya karena ia menjadi model sebuah
perusahaan jamu, para pria susah bertemu setiap saat. Fotonya terpampang dalam
koran-koran dan majalah, justru Ginah menjadi resah.
* * * * *
Cucuku tersayang pak Abimanyu......
Semuanya ini tiada lain memang karena gara-gara teman barumu si mas Djarot
dari Yogya yang bandel itu .... yang menggali-gali silsilah ...... sehingga
ketahuan bahwa kakekmu ini waktu mudanya dulu pernah falling in love with
nenek buyutmu....... lalu setelah dua generasi lahirlah seri 5 bersaudara dari
pakdemu si oom Samiadji itu dan 4 adik-adiknya yang diantaranya adalah
ayahandamu si Arjuna ...... lalu pada generasi berikutnya lahirlah kamu...
dan berikutnya lagi lahirlah Yudhoyono si peragu itu yang katanya kalo bersama
kita bisa .......
Mungkin salah kakek....maka kakek hanya kasihan sama kamu saja deh cucu....
sekarang jadi ribet .... mesti manggilnya apa ke pakde Samiadji atau
kekakek.... belum lagi kepada tuan rumah milis si oom Ekadj dan oom Cak
Ekobudik.... pakde Wawo, pakde Risman.. dan sahabat lainnya.........
Padahal dimilis ini ibarat medan peperangan ..... anak panah terlalu sering
beterbangan diudara.... dan orang harus bisa cepat gesit berkelit supaya tidak
tertancap panah..... dan padahal siapa yang dekat berkelebat sering perlu
langsung segera dibabat dulu baru ditanyain atau disalamin belakangan ......
Cucuku.... kamu keterlaluan sekali deh sopan-santunnya..... masak pakek
sungkem segala ... dan kalo jumpa nanti juga jangan-jangan pengin pake salim
lagi segala.... akh pasti ribet .......
Akh udahan aja cuk ya ... malu sama all the milisters... sekarang
manggilnya yang bebas saja .... lupakan silsilah temuan teman barumu si mas
Djarot yang bandel itu ..... biar cucu nggak jadi ribet ...... mau ngganyang
pakde Samiadji juga biar jadi nggak sungkan ..... mau nyela kakek juga biar
leluasa ...... sekarang apa salahnya cucu manggilnya pakdemu itu bila perlu
ganti dengan dik Samiadji aja lalu minggu lainnya ganti fren Sami misalnya
..... lha kalau ke kakek boleh aja panggilnya sekarang aby saja atau aa aby
gitu misalnya juga boleh ...... biar kakek nampak sedikit muda ...........
Kalau soal 3 atau 5 matra yang cucu diskusikan dengan pakdemu ....
yaitu ekonomi, ekologi, sosial, budaya, dan waktu .... kakek sih nggak tahu
matra.... yang sering dengar sih mantra ..... tapi cuk .... masalahnya saya
kira begini ..... maka arsitektur itu dahulu kala lalu dipecah menjadi
arsitektur dan perencanaan .... tidak mungkin dong untuk sesuatu disiplin
ilmiah yang terus berkembang itu diajarkan segala-galanya demikian luasnya
dan demikian mendalam ..... tentu perlu ada specialization.........
Kalau pakdemu yang di planologi mengatakan yang 3 .... itu kan artinya
karena memang yang 2 lagi digabung dengan mencomot 1 atau 2 dari yang 3 itu ...
dan diasumsikan akan dibawakan oleh disiplinnya cucu......
Karena sebaliknya ... bukan tidak mungkin juga lho kalau planolog bicara juga
tentang budaya dan waktu misalnya.... nanti teman situ ada juga yang sewot
....mengatakan itu sudah melampaui garis demarkasi ..... dan pada umumnya
teman-temannya cucu juga tidak selalu lho bicara yang 5 matra itu ..... sering
kakek jumpai hanya lebih banyak bicara yang 3 juga (atau paling banter 4)....
tetapi yaitu beda juga dari pakdemu ... mereka bicara ekologi, budaya, waktu,
mungkin juga sosial.... dan banyak dari temanmu keasyikan bicara tentang waktu
dan budaya itu hingga sering hampir tidak bicara tentang ekonomi juga lho
......... dan masak iya sih untuk yang begitu orang lain harus menuntut
mereka harus bicara yang 5 juga.....
Tidak mungkinlah planolog mau sekaligus merancang detil estetika dan budaya
ruang... dimana itu patut diserahkan ketangan ahlinya... yaitu arsitek
seperti cucu.... dan sementara itu pula....arsitek juga tak banyak diajarkan
tentang ekonomi ruang atau mungkin juga kurang untuk sosial ruang ..... dimana
itu patut diserahkan pada planolog .... kecuali seseorang mau menyakiti diri
menghabiskan hampir seluruh waktunya untuk belajar segalanya............
Maka itulah diperlukan kerjasama lintas disipliner yang luas dan erat
........ sehingga pandangan kolektif menjadi wise..... dan hasil pembangunan
tentu memuaskan........
Tetapi ngomong-ngomong kalau membaca posting terakhir dari pakdemu Samiadji
itu... terlihat lho bahwa beliau sudah ngasih kode mau kembali ngajakin debat
panjang lagi sama kakek untuk soal sistem kota secara nasional .....
Biasanya yang seneng menikmati debat itu lagi-lagi ya siapa lagi .... tiada
lain teman barumu si mas Djarot itu .... padahal kan kakek sudah uzur, mudah
capek dan pasti mudah kalah......
Maka cuk... pesan kakek... kalau nanti kakek jadi debat lagi sama pakdemu
itu .... jangan lupa ya ... begitu kakek nampak keteter .... jangan terlambat
segeralah turun membantu ..... jangan malah ninggalin dan neriakin sukurin lho
ya ... dan jangan lupa ajak juga temanmu si mas Djarot itu untuk ngedukung
kakek juga ya.... janji ya?.............
Salam hari libur dan mohon maaf untuk semuanya,
aby
"abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
....Saya sangat setuju dengan mas, pak, atau eyang..Ekadj (? wah, jadi rikuh
sejak ketemu De Yudistira dan ditegur Mbah Abyoso agar nggak boleh "njangkar"
panggilannya) , untuk Mbah Kiyai (?)Gus Shalah turun gunung nengahi debat yang
semula dikira sederhana ternyata ada "jebakan" (makna lebih) di belakangnya.
......
......kalau saya percaya bahwa kita sekurang-kurangnya dapat memahami nilai
ruang 3 matra seisinya hanya bila sebagai kesatuan dengan waktu dan kultur.
Tidak ada pemahaman ruang yang netral dari waktu dan kultur pemahamnya. Jadi
tanpa memahami secara 5 dimensional kita cuma bicara sesuatu yang maya. Jaman
Einstein dan Minkowsky saja kita sudah menyebut spacetime (wakturuang) , dan
konsep ruang tanpa waktu sudah dianggap mati. Apalagi kalau cuma berbais konsep
dua dimensional (land use), bukan saja sangat sempit dan jangka pendek, tetapi
malah tidak punya nilai apa-apa. Begitu lho Pak De pemahamanku......
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.