Dear All,
Waduh adiku di bocah bagus....dst... begitu kalau
Gatotkaca menyapa adik kesayangannya Abimanyu.
Adi Abimanyu, Eyang Abiyoso (maaf kemarin keliru
pencet jadi Abiyono, sori ya Yang), Uwa Samiaji, dll
perlu diketahui bahwa apa yang saya sampaikan itu
merupakan renungan yang cukup lama...setelah
menyaksikan berbulan-bulan berbagai anak panah
berseliweran di medan milis ini.....
Lagian, dalam pandanganku dan penampakanku (seperti
Kakang Rofiq yang melihat penampakanmu)... kita adalah
satria Pandawa dalam artian Indonesia. Jadi bukan
seperti dulu, wayang Jawa dan dalang yang
etnosentristis, melainkan jagad kita adalah Indonesia.
Oleh karenanya, Eyang Wawo barangkali adalah Eyang
Bisma, Pak Ekadj mungkin adalah Prabu Rama yang
bijaksana dan menitis ke Kresna.... Jadi beliau
bukanlah "wong sabrang" dalam kosmologi wayang Jawa
tradisional, sebab kita sudah menjadi satu...
Indonesia dan itu adalah Amarta !
Menurut saya hal ini penting dikembangkan, meskipun
kita bukan kanak-kanak lagi. Saya perhatikan dari
banjir film di televisi....dimata anak-anak kita
negara Jepang penuh dengan monster, tetapi ada tokoh
Jepang yang mampu mengalahkan mereka. Sejak kecil
anak-anak Jepang disugesti dirinya adalah "Anak
Matahari", misalnya muncul dalam tokoh Satria Baja
Hitam. Ada upaya mengajarkan karakter bangsa melalui
anak-anak..... Nah, jika ditanya: siapa kita ?
Maksudnya, karakternya siapa ? Menurut saya, ya satria
Pandawa, yang selalu berusaha mengalahkan kejahatan
dengan usaha sendiri dan pertolongan Yang Maha Kuasa !
Salam,
Djarot
--- abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
> Mas Gatot alias Djarot dan rekan-rekan sekalian,
> tadinya saya agak takut maju lebih lanjut karena
> takut dianggap
> salah medan dan bisa kena panah dari mana-mana
> seperti yang disampaikan
> eyang Abiyoso (seperti di perang Barata). Nasib
> punggawa garis depan bersama
> Antasena dan Antaredja kan jadi sasaran duluan.
> Namun dengan pertanyaan
> langsung ke saya ya saya merasa masih perlu tahan
> kena panah-panah tersebut.
>
> Betul sekali, yang mendasar sebetulnya "man behind
> the gun". Artinya semua
> alat canggih dari buatan sendiri, dari dewa, atau
> mancanegara, tetap
> siapa menggunakan dan dalam peran apa (sekadar
> pemakai/konsumen, perakit
> menjadi alat lain, atau menggunakannya untuk
> mengembangkan gagasan baru yang
> lebih bermanfaat dan unggul (seperti Jepang sejak
> jaman Meiji).
> Wong Jowo juga punya kelemahan karena kadang kala
> merasa paling unggul. Tapi
> kemauan untuk bertapa, merenung dan menggali kembali
> jatidirinya setelah
> menghadapi masalah, perbedaan atau fenomena baru
> juga merupakan kearifan
> yang bila berhasil dapat menjadi kekuatannya.
>
> Saya sendiri beruntung bahwa separuh darah saya
> masih ada "Jowo"nya sehigga
> tau sedikit tentang pewayangan. Namun separuh
> lainnya dari sabrang, sehingga
> agak lepas dari sopan-santun Jowo tersebut, untuk
> itu saya perlu minta
> maaf kalau kurang mengikuti pakem bahwa harus
> menggunakan kromo atau kromo
> inggil kepada sesepuh. Selain itu dua pertiga umur
> ada di Jakarta yang bebas
> merdeka dalam mengemukakan pendapat. Jadi saya
> merasa tidak punya kampung
> halaman selain Indonesia, yang kadang-kadang sukar
> saya temui jai dirinya
> saat ini. Mohon maaf kalau this "man" seperti ini.
>
> Kadang saya risi kalau Eyang Aby mengungkit-ungkit
> pertapaan saya dahulu
> .... arsitektur, sehingga kalau saya menyebut
> permukiman seolah-olah cuma
> bangunan rumah sebagai hasil budaya kriya buatan dan
> estetika yang menjadi
> ciri jati diri dan concern saya (walau saya masih
> hoby untuk menilai karya
> arsitektur). Pertapaan 40 tahun yll tersebut
> mengajarkan "master planing"
> yang lebih berorientasi cetak biru. Sangat fisikal,
> utopis.
> Namun pertapaan saya yang kedua (sekitar 30 tahun
> yll) mengenai
> "development planing" justru banyak berpengaruh
> dalam jalan hidup saya
> selanjutnya. Walaupun masih terbatas dengan aspek
> kota dan wilayah secara
> umum, tanpa konteks "place" yang membumi, saya
> menyadari bahwa ternyata masa
> cetak biru sudah kadaluarsa, terjadi pertentangan
> antara comprehensive
> planing, dengan strategic planning, structure &
> action planning, incremental
> planning, advocacy planing, dll dari perencana fisik
> dengan regional
> planningnya pengikut regional economic. Namun di
> masa itu concern terhadap
> dampak lingkungan dan analisis secara "sistem
> dynamic" sudah menjadi ajang
> diskusi,
> Di pertapaan itu saya diingatkan bahwa kami harus
> mengembangkan konsep
> (dasar pemikiran) sendiri, jangan hanya terikat pada
> apa yang mereka ajarkan
> (karena pesserta dari berbagai negara dan disiplin
> ilmu). Pada awal tahun
> 1970-an school of planning di Eropa mengadakan
> konferensi, membicarakan
> "frustasi'nya mereka mengajar planer dari negera
> berkembang dengan "western
> civilization". Mereka sepakat bahwa mereka perlu
> memfasilitasi cara pandang
> lain karena kondisi dasarnya berbeda.
> Saya di sana juga baru sadar bahwa ITB waktu itu
> merupakan sekolah tinggi
> pertama yang membuka school of planning pada level
> undergraduate (tercantum
> dalam "Ecistic" tahun 1970-an) dengan nama planologi
> (masih "plan"
> oriented?), padahal diluar masih merupakan graduate
> study yang muti disiplin
> (pesertanya dari disiplin
>
social-politik-ekonomi-linkungan-sipil-arsitek--geograf,
> dll). Belakangan,
> alm.pak Sufaat memberi alasan bahwa beliau
> menganjurkan undergraduate karena
> di Indonesia tingkat master masih terlalu tinggi
> (belum ada pasarnya).
> Kondisi ini yang menyebabkan masih banyak jebolan S1
> undergraduate yang
> masih berorientasi "plan" (peta, bukan rencana),
> atau paling-paling ekonomi
> makro (setelah jaman pak Sugiyanto alm), agak alergi
> dengan Science apalagi
> Filosofi. Mungkin kita kembali kepada konsep
> pendidikan kita: S1 =
> menggunakan alat, S2 = mengembangkan alat (MSc =
> Master of Science), S3 =
> menemukan alat baru (PhD = Philosophical Doctor).
> Kalau jalur profesi atau
> spesialis ada di luar akademis/keilmuan.
> Man behind the gun-nya berbeda sesuai dengan latar
> belakang dan level
> kepentingannya. Tinggal situs ini mau berkiprah di
> level mana?.
>
> Kalau saya memang salah kamar, ya musti mau undur
> diri....
> Bagaiman pak de, eyang, kakang, dll ?.
>
> Wasalam,
>
> Abimanyu
>
>
>
> On 1/21/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote:
> >
> > Eyang Abiyono, cucumu Gatotkaca ya Kacanegara
> ingin
> > ingin menghaturkan sesuatu yang menurut aku sangat
> > penting. Jika diperhatikan, warga milis ini
> canggih
> > semua, demikian juga semua buah pikirannya.
> Pokoknya
> > hebuaaaat semua cuanggih semua.... membanggakan
> semua
> > !
> >
> > Tetapi, ada pepatah dari manca negara, yang kalau
> > nggak salah bahasa Jawanya "... man behind the
> gun..."
> > itu juga perlu diperhatikan. Artinya, segala teori
> > adalah alat, perangkat, tools untuk sang Man tadi.
> > Jadi perlu disadari juga bahwa alat yang canggih
> itu
> > menentukan tetapi yang juga menentukan ya sang
> > pemegang alat itu.
> >
> > Aku ingat, canggah buyut keturunan Pandawa yang
> > namanya HB IX pernah berkata "... meskipun aku
> dididik
> > dengan cara barat, tetapi tetaplah aku wong
> Jowo..."
> > Nah dengan silsilah aku ingin mengingatkan bahwa
> > jatidiri kita sendiri itu penting, disamping
> alat-alat
> > berpikir kita itu.
> >
> > Coba bayangkan, jika para pejabat di Indonesia
> seperti
> > Bima bapakku, yang mau njotosi atau
> menginjak-injak
> > kami anak-anaknya sendiri yang dinilainya
> bersalah....
> > pastilah kehidupan akan menjadi lebih baik.
> >
> > Sayangnya, kosmologi Jawa itu ada sempitnya, sebab
> > ide-ide luar dianggap selalu negatif, buruk
> bagaikan
> > raksasa atau wong sabrang yang cenderung
> menghancurkan
> > dan serakah..... tetapi tentulah ada latar
> belakang
> > yang belum kita ketahui... mengapa kok leluhur
> jawa
> > selalu begitu....
> >
> > Begitukah Adi Abimanyu ?
> >
> > Salam,
> > Djarot
> >
> > --- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]
> <watashiaby%40yahoo.com>> wrote:
> >
> > >
> > >
> > >
> > >
> > > *) Mohon maaf untuk semuanya... ini hanya
> > > intermezo dihari minggu saja.....
> > >
>
=== message truncated ===
____________________________________________________________________________________
Be a better friend, newshound, and
know-it-all with Yahoo! Mobile. Try it now.
http://mobile.yahoo.com/;_ylt=Ahu06i62sR8HDtDypao8Wcj9tAcJ