Mas Gatot alias Djarot dan rekan-rekan sekalian,
tadinya saya agak takut maju lebih lanjut karena takut dianggap
salah medan dan bisa kena panah dari mana-mana seperti yang disampaikan
eyang Abiyoso (seperti di perang Barata). Nasib punggawa garis depan bersama
Antasena dan Antaredja kan jadi sasaran duluan. Namun dengan pertanyaan
langsung ke saya ya saya merasa masih perlu tahan kena panah-panah tersebut.

Betul sekali, yang mendasar sebetulnya "man behind the gun". Artinya semua
alat canggih dari buatan sendiri, dari dewa, atau mancanegara, tetap
siapa menggunakan dan dalam peran apa (sekadar pemakai/konsumen, perakit
menjadi alat lain, atau menggunakannya untuk mengembangkan gagasan baru yang
lebih bermanfaat dan unggul (seperti Jepang sejak jaman Meiji).
Wong Jowo juga punya kelemahan karena kadang kala merasa paling unggul. Tapi
kemauan untuk bertapa, merenung dan menggali kembali jatidirinya setelah
menghadapi masalah, perbedaan atau fenomena baru juga merupakan kearifan
yang bila berhasil dapat menjadi kekuatannya.

Saya sendiri beruntung bahwa separuh darah saya masih ada "Jowo"nya sehigga
tau sedikit tentang pewayangan. Namun separuh lainnya dari sabrang, sehingga
agak lepas dari sopan-santun Jowo tersebut, untuk itu saya perlu minta
maaf kalau kurang mengikuti pakem bahwa harus menggunakan kromo atau kromo
inggil kepada sesepuh. Selain itu dua pertiga umur ada di Jakarta yang bebas
merdeka dalam mengemukakan pendapat. Jadi saya merasa tidak punya kampung
halaman selain Indonesia, yang kadang-kadang sukar saya temui jai dirinya
saat ini. Mohon maaf kalau this "man" seperti ini.

Kadang saya risi kalau Eyang Aby mengungkit-ungkit pertapaan saya dahulu
.... arsitektur, sehingga kalau saya menyebut permukiman seolah-olah cuma
bangunan rumah sebagai hasil budaya kriya buatan dan estetika yang menjadi
ciri jati diri dan concern saya (walau saya masih hoby untuk menilai karya
arsitektur). Pertapaan 40 tahun yll tersebut mengajarkan "master planing"
yang lebih berorientasi cetak biru. Sangat fisikal, utopis.
Namun pertapaan saya yang kedua (sekitar 30 tahun yll)  mengenai
"development planing" justru banyak berpengaruh dalam jalan hidup saya
selanjutnya. Walaupun masih terbatas dengan aspek kota dan wilayah secara
umum, tanpa konteks "place" yang membumi, saya menyadari bahwa ternyata masa
cetak biru sudah kadaluarsa, terjadi pertentangan antara comprehensive
planing, dengan strategic planning, structure & action planning, incremental
planning, advocacy planing, dll dari perencana fisik dengan regional
planningnya pengikut regional economic. Namun di masa itu concern terhadap
dampak lingkungan dan analisis secara "sistem dynamic" sudah menjadi ajang
diskusi,
Di pertapaan itu saya diingatkan bahwa kami harus mengembangkan konsep
(dasar pemikiran) sendiri, jangan hanya terikat pada apa yang mereka ajarkan
(karena pesserta dari berbagai negara dan disiplin ilmu). Pada awal tahun
1970-an school of planning di Eropa mengadakan konferensi, membicarakan
"frustasi'nya mereka mengajar planer dari negera berkembang dengan "western
civilization". Mereka sepakat bahwa mereka perlu memfasilitasi cara pandang
lain karena kondisi dasarnya berbeda.
Saya di sana juga baru sadar bahwa ITB waktu itu merupakan sekolah tinggi
pertama yang membuka school of planning pada level undergraduate (tercantum
dalam "Ecistic" tahun 1970-an) dengan nama planologi (masih "plan"
oriented?), padahal diluar masih merupakan graduate study yang muti disiplin
(pesertanya dari disiplin
social-politik-ekonomi-linkungan-sipil-arsitek--geograf, dll). Belakangan,
alm.pak Sufaat memberi alasan bahwa beliau menganjurkan undergraduate karena
di Indonesia tingkat master masih terlalu tinggi (belum ada pasarnya).
Kondisi ini yang menyebabkan masih banyak jebolan S1 undergraduate yang
masih berorientasi "plan" (peta, bukan rencana), atau paling-paling ekonomi
makro (setelah jaman pak Sugiyanto alm), agak alergi dengan Science apalagi
Filosofi. Mungkin kita kembali kepada konsep pendidikan kita: S1 =
menggunakan alat, S2 = mengembangkan alat (MSc = Master of Science), S3 =
menemukan alat baru (PhD = Philosophical Doctor). Kalau jalur profesi atau
spesialis ada di luar akademis/keilmuan.
Man behind the gun-nya berbeda sesuai dengan latar belakang dan level
kepentingannya. Tinggal situs ini mau berkiprah di level mana?.

Kalau saya memang salah kamar, ya  musti mau undur diri....
Bagaiman pak de, eyang, kakang, dll ?.

Wasalam,

Abimanyu



On 1/21/08, Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>   Eyang Abiyono, cucumu Gatotkaca ya Kacanegara ingin
> ingin menghaturkan sesuatu yang menurut aku sangat
> penting. Jika diperhatikan, warga milis ini canggih
> semua, demikian juga semua buah pikirannya. Pokoknya
> hebuaaaat semua cuanggih semua.... membanggakan semua
> !
>
> Tetapi, ada pepatah dari manca negara, yang kalau
> nggak salah bahasa Jawanya "... man behind the gun..."
> itu juga perlu diperhatikan. Artinya, segala teori
> adalah alat, perangkat, tools untuk sang Man tadi.
> Jadi perlu disadari juga bahwa alat yang canggih itu
> menentukan tetapi yang juga menentukan ya sang
> pemegang alat itu.
>
> Aku ingat, canggah buyut keturunan Pandawa yang
> namanya HB IX pernah berkata "... meskipun aku dididik
> dengan cara barat, tetapi tetaplah aku wong Jowo..."
> Nah dengan silsilah aku ingin mengingatkan bahwa
> jatidiri kita sendiri itu penting, disamping alat-alat
> berpikir kita itu.
>
> Coba bayangkan, jika para pejabat di Indonesia seperti
> Bima bapakku, yang mau njotosi atau menginjak-injak
> kami anak-anaknya sendiri yang dinilainya bersalah....
> pastilah kehidupan akan menjadi lebih baik.
>
> Sayangnya, kosmologi Jawa itu ada sempitnya, sebab
> ide-ide luar dianggap selalu negatif, buruk bagaikan
> raksasa atau wong sabrang yang cenderung menghancurkan
> dan serakah..... tetapi tentulah ada latar belakang
> yang belum kita ketahui... mengapa kok leluhur jawa
> selalu begitu....
>
> Begitukah Adi Abimanyu ?
>
> Salam,
> Djarot
>
> --- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED] <watashiaby%40yahoo.com>> wrote:
>
> >
> >
> >
> >
> > *) Mohon maaf untuk semuanya... ini hanya
> > intermezo dihari minggu saja.....
> >
> > Terinspirasi oleh judul film 'Semua Karena
> > Ginah', sutradara : Nya' Abas Akub, produksi Parkit
> > Film, 1985, pemeran utama : Zoraya Perucha, subyek :
> > Film drama komedi sosial ......
> > Sinopsis :
> > Meski hanya sebagai tukang jamu gendongan, Ginah
> > (Zoraya Perucha) pembawaannya menarik. Penampilan
> > Ginah terlihat luwes dan menggairahkan. Keramahannya
> > ternyata berakibat banyak pria dari segala tingkatan
> > jatuh cinta kepada Ginah. Sebelum Ginah menjadi
> > terkenal mereka dengan mudah dapat bertemu. Tetapi
> > setelah Ginah menjadi terkenal dan kaya karena ia
> > menjadi model sebuah perusahaan jamu, para pria
> > susah bertemu setiap saat. Fotonya terpampang dalam
> > koran-koran dan majalah, justru Ginah menjadi resah.
> >
> > * * * * *
> >
> > Cucuku tersayang pak Abimanyu......
> >
> > Semuanya ini tiada lain memang karena gara-gara
> > teman barumu si mas Djarot dari Yogya yang bandel
> > itu .... yang menggali-gali silsilah ...... sehingga
> > ketahuan bahwa kakekmu ini waktu mudanya dulu
> > pernah falling in love with nenek buyutmu.......
> > lalu setelah dua generasi lahirlah seri 5
> > bersaudara dari pakdemu si oom Samiadji itu dan 4
> > adik-adiknya yang diantaranya adalah ayahandamu si
> > Arjuna ...... lalu pada generasi berikutnya
> > lahirlah kamu... dan berikutnya lagi lahirlah
> > Yudhoyono si peragu itu yang katanya kalo bersama
> > kita bisa .......
> >
> > Mungkin salah kakek....maka kakek hanya kasihan
> > sama kamu saja deh cucu.... sekarang jadi ribet
> > .... mesti manggilnya apa ke pakde Samiadji atau
> > kekakek.... belum lagi kepada tuan rumah milis si
> > oom Ekadj dan oom Cak Ekobudik.... pakde Wawo, pakde
> > Risman.. dan sahabat lainnya.........
> > Padahal dimilis ini ibarat medan peperangan .....
> > anak panah terlalu sering beterbangan diudara....
> > dan orang harus bisa cepat gesit berkelit supaya
> > tidak tertancap panah..... dan padahal siapa yang
> > dekat berkelebat sering perlu langsung segera
> > dibabat dulu baru ditanyain atau disalamin
> > belakangan ......
> >
> > Cucuku.... kamu keterlaluan sekali deh
> > sopan-santunnya..... masak pakek sungkem segala ...
> > dan kalo jumpa nanti juga jangan-jangan pengin pake
> > salim lagi segala.... akh pasti ribet .......
> >
> > Akh udahan aja cuk ya ... malu sama all the
> > milisters... sekarang manggilnya yang bebas saja
> > .... lupakan silsilah temuan teman barumu si mas
> > Djarot yang bandel itu ..... biar cucu nggak jadi
> > ribet ...... mau ngganyang pakde Samiadji juga biar
> > jadi nggak sungkan ..... mau nyela kakek juga biar
> > leluasa ...... sekarang apa salahnya cucu
> > manggilnya pakdemu itu bila perlu ganti dengan 'dik
> > Samiadji' aja lalu minggu lainnya ganti fren Sami
> > misalnya ..... lha kalau ke kakek boleh aja
> > panggilnya sekarang aby saja atau aa' aby gitu
> > misalnya juga boleh ...... biar kakek nampak sedikit
> > muda ...........
> >
> > Kalau soal 3 atau 5 matra yang cucu diskusikan
> > dengan pakdemu ....
> > yaitu ekonomi, ekologi, sosial, budaya, dan waktu
> > .... kakek sih nggak tahu matra.... yang sering
> > dengar sih mantra ..... tapi cuk .... masalahnya
> > saya kira begini ..... maka arsitektur itu dahulu
> > kala lalu 'dipecah' menjadi arsitektur dan
> > perencanaan .... tidak mungkin dong untuk sesuatu
> > disiplin ilmiah yang terus berkembang itu
> > diajarkan segala-galanya demikian luasnya dan
> > demikian mendalam ..... tentu perlu ada
> > specialization.........
> > Kalau pakdemu yang di planologi mengatakan yang 3
> > .... itu kan artinya karena memang yang 2 lagi
> > digabung dengan mencomot 1 atau 2 dari yang 3 itu
> > ... dan diasumsikan akan dibawakan oleh disiplinnya
> > cucu......
> > Karena sebaliknya ... bukan tidak mungkin juga lho
> > kalau planolog bicara juga tentang budaya dan waktu
> > misalnya.... nanti teman situ ada juga yang sewot
> > ....mengatakan itu sudah melampaui garis demarkasi
> > ..... dan pada umumnya teman-temannya cucu juga
> > tidak selalu lho bicara yang 5 matra itu .....
> > sering kakek jumpai hanya lebih banyak bicara yang 3
> > juga (atau paling banter 4).... tetapi yaitu beda
> > juga dari pakdemu ... mereka bicara ekologi, budaya,
> > waktu, mungkin juga sosial.... dan banyak dari
> > temanmu keasyikan bicara tentang waktu dan budaya
> > itu hingga sering hampir tidak bicara tentang
> > ekonomi juga lho ......... dan masak iya sih untuk
> > yang begitu orang lain harus menuntut mereka harus
> > bicara yang 5 juga.....
> > Tidak mungkinlah planolog mau sekaligus merancang
> > detil estetika dan budaya ruang... dimana itu patut
> > diserahkan 'ketangan ahlinya'... yaitu arsitek
> > seperti cucu.... dan sementara itu pula....arsitek
> > juga tak banyak diajarkan tentang ekonomi ruang
> > atau mungkin juga kurang untuk sosial ruang .....
> > dimana itu patut diserahkan pada planolog ....
> > kecuali seseorang mau 'menyakiti diri' menghabiskan
> > hampir seluruh waktunya untuk belajar
> > segalanya............
> > Maka itulah diperlukan kerjasama lintas disipliner
> > yang luas dan erat ........ sehingga pandangan
> > kolektif menjadi wise..... dan hasil pembangunan
> > tentu memuaskan........
> >
> > Tetapi ngomong-ngomong kalau membaca posting
> > terakhir dari pakdemu Samiadji itu... terlihat lho
> > bahwa beliau sudah ngasih kode mau kembali ngajakin
> > debat panjang lagi sama kakek untuk soal sistem
> > kota secara nasional .....
> > Biasanya yang seneng menikmati debat itu lagi-lagi
> > ya siapa lagi .... tiada lain teman barumu si mas
> > Djarot itu .... padahal kan kakek sudah uzur, mudah
> > capek dan pasti mudah kalah......
> > Maka cuk... pesan kakek... kalau nanti kakek jadi
> > debat lagi sama pakdemu itu .... jangan lupa ya ...
> > begitu kakek nampak keteter .... jangan terlambat
> > segeralah turun membantu ..... jangan malah
> > ninggalin dan neriakin sukurin lho ya ... dan
> > jangan lupa ajak juga temanmu si mas Djarot itu
> > untuk ngedukung kakek juga ya.... janji
> > ya?.............
> >
> > Salam hari libur dan mohon maaf untuk semuanya,
> > aby
> >
> > "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED] <takdir65%40gmail.com>>
> > wrote :
> >
> > "....Saya sangat setuju dengan mas, pak, atau
> > eyang..Ekadj (? wah, jadi rikuh sejak ketemu De
> > Yudistira dan ditegur Mbah Abyoso agar nggak boleh
> > "njangkar" panggilannya) , untuk Mbah Kiyai (?)Gus
> > Shalah turun gunung nengahi debat yang semula dikira
> > sederhana ternyata ada "jebakan" (makna lebih) di
> > belakangnya. .....".
> >
> >
> > "......kalau saya percaya bahwa kita
> > sekurang-kurangnya dapat memahami nilai ruang 3
> > matra seisinya hanya bila sebagai kesatuan dengan
> > waktu dan kultur. Tidak ada pemahaman ruang yang
> > netral dari waktu dan kultur pemahamnya. Jadi tanpa
> > memahami secara 5 dimensional kita cuma bicara
> > sesuatu yang maya. Jaman Einstein dan Minkowsky saja
> > kita sudah menyebut spacetime (wakturuang) , dan
> > konsep ruang tanpa waktu sudah dianggap mati.
> > Apalagi kalau cuma berbais konsep dua dimensional
> > (land use), bukan saja sangat sempit dan jangka
> > pendek, tetapi malah tidak punya nilai apa-apa.
> > Begitu lho Pak De pemahamanku.....".
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> >
> > ---------------------------------
> > Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
>
> __________________________________________________________
> Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
> http://www.yahoo.com/r/hs
>
> 
>

Kirim email ke