Eyang Abiyono, cucumu Gatotkaca ya Kacanegara ingin
ingin menghaturkan sesuatu yang menurut aku sangat
penting. Jika diperhatikan, warga milis ini canggih
semua, demikian juga semua buah pikirannya. Pokoknya
hebuaaaat semua cuanggih semua.... membanggakan semua
!
Tetapi, ada pepatah dari manca negara, yang kalau
nggak salah bahasa Jawanya "... man behind the gun..."
itu juga perlu diperhatikan. Artinya, segala teori
adalah alat, perangkat, tools untuk sang Man tadi.
Jadi perlu disadari juga bahwa alat yang canggih itu
menentukan tetapi yang juga menentukan ya sang
pemegang alat itu.
Aku ingat, canggah buyut keturunan Pandawa yang
namanya HB IX pernah berkata "... meskipun aku dididik
dengan cara barat, tetapi tetaplah aku wong Jowo..."
Nah dengan silsilah aku ingin mengingatkan bahwa
jatidiri kita sendiri itu penting, disamping alat-alat
berpikir kita itu.
Coba bayangkan, jika para pejabat di Indonesia seperti
Bima bapakku, yang mau njotosi atau menginjak-injak
kami anak-anaknya sendiri yang dinilainya bersalah....
pastilah kehidupan akan menjadi lebih baik.
Sayangnya, kosmologi Jawa itu ada sempitnya, sebab
ide-ide luar dianggap selalu negatif, buruk bagaikan
raksasa atau wong sabrang yang cenderung menghancurkan
dan serakah..... tetapi tentulah ada latar belakang
yang belum kita ketahui... mengapa kok leluhur jawa
selalu begitu....
Begitukah Adi Abimanyu ?
Salam,
Djarot
--- hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>
>
>
> *) Mohon maaf untuk semuanya... ini hanya
> intermezo dihari minggu saja.....
>
> Terinspirasi oleh judul film 'Semua Karena
> Ginah', sutradara : Nya' Abas Akub, produksi Parkit
> Film, 1985, pemeran utama : Zoraya Perucha, subyek :
> Film drama komedi sosial ......
> Sinopsis :
> Meski hanya sebagai tukang jamu gendongan, Ginah
> (Zoraya Perucha) pembawaannya menarik. Penampilan
> Ginah terlihat luwes dan menggairahkan. Keramahannya
> ternyata berakibat banyak pria dari segala tingkatan
> jatuh cinta kepada Ginah. Sebelum Ginah menjadi
> terkenal mereka dengan mudah dapat bertemu. Tetapi
> setelah Ginah menjadi terkenal dan kaya karena ia
> menjadi model sebuah perusahaan jamu, para pria
> susah bertemu setiap saat. Fotonya terpampang dalam
> koran-koran dan majalah, justru Ginah menjadi resah.
>
> * * * * *
>
> Cucuku tersayang pak Abimanyu......
>
> Semuanya ini tiada lain memang karena gara-gara
> teman barumu si mas Djarot dari Yogya yang bandel
> itu .... yang menggali-gali silsilah ...... sehingga
> ketahuan bahwa kakekmu ini waktu mudanya dulu
> pernah falling in love with nenek buyutmu.......
> lalu setelah dua generasi lahirlah seri 5
> bersaudara dari pakdemu si oom Samiadji itu dan 4
> adik-adiknya yang diantaranya adalah ayahandamu si
> Arjuna ...... lalu pada generasi berikutnya
> lahirlah kamu... dan berikutnya lagi lahirlah
> Yudhoyono si peragu itu yang katanya kalo bersama
> kita bisa .......
>
> Mungkin salah kakek....maka kakek hanya kasihan
> sama kamu saja deh cucu.... sekarang jadi ribet
> .... mesti manggilnya apa ke pakde Samiadji atau
> kekakek.... belum lagi kepada tuan rumah milis si
> oom Ekadj dan oom Cak Ekobudik.... pakde Wawo, pakde
> Risman.. dan sahabat lainnya.........
> Padahal dimilis ini ibarat medan peperangan .....
> anak panah terlalu sering beterbangan diudara....
> dan orang harus bisa cepat gesit berkelit supaya
> tidak tertancap panah..... dan padahal siapa yang
> dekat berkelebat sering perlu langsung segera
> dibabat dulu baru ditanyain atau disalamin
> belakangan ......
>
> Cucuku.... kamu keterlaluan sekali deh
> sopan-santunnya..... masak pakek sungkem segala ...
> dan kalo jumpa nanti juga jangan-jangan pengin pake
> salim lagi segala.... akh pasti ribet .......
>
> Akh udahan aja cuk ya ... malu sama all the
> milisters... sekarang manggilnya yang bebas saja
> .... lupakan silsilah temuan teman barumu si mas
> Djarot yang bandel itu ..... biar cucu nggak jadi
> ribet ...... mau ngganyang pakde Samiadji juga biar
> jadi nggak sungkan ..... mau nyela kakek juga biar
> leluasa ...... sekarang apa salahnya cucu
> manggilnya pakdemu itu bila perlu ganti dengan dik
> Samiadji aja lalu minggu lainnya ganti fren Sami
> misalnya ..... lha kalau ke kakek boleh aja
> panggilnya sekarang aby saja atau aa aby gitu
> misalnya juga boleh ...... biar kakek nampak sedikit
> muda ...........
>
> Kalau soal 3 atau 5 matra yang cucu diskusikan
> dengan pakdemu ....
> yaitu ekonomi, ekologi, sosial, budaya, dan waktu
> .... kakek sih nggak tahu matra.... yang sering
> dengar sih mantra ..... tapi cuk .... masalahnya
> saya kira begini ..... maka arsitektur itu dahulu
> kala lalu dipecah menjadi arsitektur dan
> perencanaan .... tidak mungkin dong untuk sesuatu
> disiplin ilmiah yang terus berkembang itu
> diajarkan segala-galanya demikian luasnya dan
> demikian mendalam ..... tentu perlu ada
> specialization.........
> Kalau pakdemu yang di planologi mengatakan yang 3
> .... itu kan artinya karena memang yang 2 lagi
> digabung dengan mencomot 1 atau 2 dari yang 3 itu
> ... dan diasumsikan akan dibawakan oleh disiplinnya
> cucu......
> Karena sebaliknya ... bukan tidak mungkin juga lho
> kalau planolog bicara juga tentang budaya dan waktu
> misalnya.... nanti teman situ ada juga yang sewot
> ....mengatakan itu sudah melampaui garis demarkasi
> ..... dan pada umumnya teman-temannya cucu juga
> tidak selalu lho bicara yang 5 matra itu .....
> sering kakek jumpai hanya lebih banyak bicara yang 3
> juga (atau paling banter 4).... tetapi yaitu beda
> juga dari pakdemu ... mereka bicara ekologi, budaya,
> waktu, mungkin juga sosial.... dan banyak dari
> temanmu keasyikan bicara tentang waktu dan budaya
> itu hingga sering hampir tidak bicara tentang
> ekonomi juga lho ......... dan masak iya sih untuk
> yang begitu orang lain harus menuntut mereka harus
> bicara yang 5 juga.....
> Tidak mungkinlah planolog mau sekaligus merancang
> detil estetika dan budaya ruang... dimana itu patut
> diserahkan ketangan ahlinya... yaitu arsitek
> seperti cucu.... dan sementara itu pula....arsitek
> juga tak banyak diajarkan tentang ekonomi ruang
> atau mungkin juga kurang untuk sosial ruang .....
> dimana itu patut diserahkan pada planolog ....
> kecuali seseorang mau menyakiti diri menghabiskan
> hampir seluruh waktunya untuk belajar
> segalanya............
> Maka itulah diperlukan kerjasama lintas disipliner
> yang luas dan erat ........ sehingga pandangan
> kolektif menjadi wise..... dan hasil pembangunan
> tentu memuaskan........
>
> Tetapi ngomong-ngomong kalau membaca posting
> terakhir dari pakdemu Samiadji itu... terlihat lho
> bahwa beliau sudah ngasih kode mau kembali ngajakin
> debat panjang lagi sama kakek untuk soal sistem
> kota secara nasional .....
> Biasanya yang seneng menikmati debat itu lagi-lagi
> ya siapa lagi .... tiada lain teman barumu si mas
> Djarot itu .... padahal kan kakek sudah uzur, mudah
> capek dan pasti mudah kalah......
> Maka cuk... pesan kakek... kalau nanti kakek jadi
> debat lagi sama pakdemu itu .... jangan lupa ya ...
> begitu kakek nampak keteter .... jangan terlambat
> segeralah turun membantu ..... jangan malah
> ninggalin dan neriakin sukurin lho ya ... dan
> jangan lupa ajak juga temanmu si mas Djarot itu
> untuk ngedukung kakek juga ya.... janji
> ya?.............
>
> Salam hari libur dan mohon maaf untuk semuanya,
> aby
>
> "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]>
> wrote :
>
> ....Saya sangat setuju dengan mas, pak, atau
> eyang..Ekadj (? wah, jadi rikuh sejak ketemu De
> Yudistira dan ditegur Mbah Abyoso agar nggak boleh
> "njangkar" panggilannya) , untuk Mbah Kiyai (?)Gus
> Shalah turun gunung nengahi debat yang semula dikira
> sederhana ternyata ada "jebakan" (makna lebih) di
> belakangnya. ......
>
>
> ......kalau saya percaya bahwa kita
> sekurang-kurangnya dapat memahami nilai ruang 3
> matra seisinya hanya bila sebagai kesatuan dengan
> waktu dan kultur. Tidak ada pemahaman ruang yang
> netral dari waktu dan kultur pemahamnya. Jadi tanpa
> memahami secara 5 dimensional kita cuma bicara
> sesuatu yang maya. Jaman Einstein dan Minkowsky saja
> kita sudah menyebut spacetime (wakturuang) , dan
> konsep ruang tanpa waktu sudah dianggap mati.
> Apalagi kalau cuma berbais konsep dua dimensional
> (land use), bukan saja sangat sempit dan jangka
> pendek, tetapi malah tidak punya nilai apa-apa.
> Begitu lho Pak De pemahamanku......
>
>
>
>
>
>
>
>
> ---------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.
____________________________________________________________________________________
Never miss a thing. Make Yahoo your home page.
http://www.yahoo.com/r/hs