Ysh Pak Aby dan milister lainnya. Terima kasih dan saya hargai tanggapannya, .... tapi belum menyentuh yang saya persoalkan sebagaimana subjek di atas.
Thanks. CU. BTS. Terima kasih atas tanggapan dari tawaran saya ----- Original Message ----- From: hengky abiyoso To: [email protected] Cc: [EMAIL PROTECTED] Sent: Monday, January 21, 2008 7:38 AM Subject: [referensi] Re : Menyoal Sistem Kota-kota Milisters ysh, berikut adalah diskusi dengan sahabat saya mas BTS, mohon peran sertanya juga......... +++"...Nah, jadi pertanyaan saya "... SKN di bawah kendali siapa?" adalah tawaran subjek baru untuk diperdebatkan... >>>: ya kalau kalimat ini dilontarkannya pada posting dengan judul baru diatas .... memang ia lebih pas.... kalau ia semula dilontarkan pertama kali pada posting sebelumnya 'Jkt Setelah 100 Hari Ditangan Ahlinya'.... maka saya mengatakan pertanyaan itu terlampau pagi .... dan saya tidak mau menjawabnya diposting sebelumnya...... karena itu juga terlalu pagi..... +++: Tanggapan saya atas ide Pak Aby soal ruang media dan Sistem Kota-kota Nasional, yang kemudian saya pertanyakan ".... di bawah kendali siapa?", sebenarnya bukan soal medianya, tapi ingin menyoal sistem kota-kota nasional (SKN). >>>: Saya percaya milisters semuanya sangat memahami bahwa memang yang anda persoalkan bukan medianya.... tapi SKN nya......... +++: Dalam posting Pak Aby sebelumnya, Pak Aby menyayangkan penggunaan ruang media yang kurang efektif. Contohnya soal banjir, kemacetan lalu lintas, dsb itu tidak termasuk kendali Bang Foke dalam 100 hari awal jabatannya. Jadi buat apa dipersoalkan dalam ruang media kalau tidak dalam kendali Bang Foke. Yang dalam kendali Bang Foke dalam 100 hari terbatas pada organisasi (internal). Kemudian Pak Aby memunculkan ide bagaimana kalau ruang media itu bisa diwacanakan soal penataan ruang. >>>: Yang saya persoalkan disini bukanlah banjir dan macetnya Jkt kok dipersoalkan dimedia ... tetapi 'jajak pendapat' tentang kinerja 100 hari Foke untuk hal yang jelas berada diluar kendali dia adalah pekerjaan yang 'mengada-ada' dan 'menyia-nyiakan ruang media...... maka mendingan itu dipakai untuk mewacanakan penataan ruang yang 'lebih mencerdaskan bangsa'.......... +++: Saya sangat setujunya, khususnya penataan ruang skala kota karena jelas siapa pengendalinya (ketika menanggapi postingnya Dwiagus). >>>: walaupun jelas bagi mas BTS ataupun bagi kita semua 'ada pengendalinya' untuk skala kota .... tetapi kita nanti juga belum tentu bersepakat 'siapa atau skakeholdersnya siapa saja' dari para pengendali itu......... +++: Cuman ketika Pak Aby mencontohnya soal SKN bisa di wacanakan di ruang media, di situ saya mempertanyakan ".. di bawah kendali siapa?" Kalau tidak ada pihak yang punya kendali terhadap SKN, ya buat apa masuk dalam ruang media. Sama kasusnya menyoal banjir dan kemacetan yang bukan kendali Bang Foke selama 100 hari. >>>: Pertama, pinjam dulu jawab dari pak Wawo : "...Jadi kesimpulan saya sekarang adalah: Biarlah milis ini mendiskussikan segala masalah tata ruang atau yang bersangkutan dengan tata ruang, tanpa ada jaminan kendali dahulu, setelah ini berlalu maka dapat kita pertimbangkan 'siapa atau apa yang akan mengendalikan atau me - manage masalah ini, pada tahap ini sebetulnya milis ini tidak lagi punya kewajiban.....". Jawab saya sendiri... pertama : ....buat apa masuk ruang media?..... ya pertama biar supaya setidaknya publik dapat memahami dulu ... bahwa pertama ... strategi tataruang, strategi tataruang nasional atau sistem kota secara nasional yang betul itu adalah 'apa'?.... lalu kemudian meningkat kepada pemahaman bahwa ternyata ia 'perlu' dan dapat menunjang strategi kesejahteraan hidup bangsa........ Tentu saja media dan wacana adalah bukan segalanya...... tetapi 'sosialisasi' kepada masyarakat luas alias 'mencerdaskan visi bangsa' tentang manfaat mulia penataan ruang dan penegakan sistem kota secara nasional adalah perkara srtategis bangsa........ Jawab kedua: .... jangankan kok 'cuma mengendalikan sistem kota'..... lha wong sekarang menge n dalikan TNI saja rakyat mampu kok..... buktinya sekarang kalau presiden mau ngangkat Panglima TNI saja ... mesti perlu pake persetujuan DPR dulu segala ..... kalau dulu 'kan boro-boro.... +++: Terlepas dari subjek "Jkt setelah 100 hari...", sebenarnya ada perbedaan pandangan antara Pak Aby dan saya soal SKN. Pak Aby sepertinya mendewakan SKN sebagai solusi masalah ketataruangan nasional, sementara saya "ingin membuangnya" (dalam pikiran saya). Saya sendiri dulu pecinta SKN. >>>: Ya kalau soal 'perbedaan'.... jelaslah ..... banyak orang tahu kita hampir tak pernah bersepakat untuk banyak hal ..... Nah, kalau untuk soal 'mendewakan atau mencintai SKN'... Saya kurang tahu ..... apakah ketika anda dulu pertama kali diserahi 'membidangi' SKN diproyek UNDP/UNCHS - National Urban Development Strategy (NUDS) .. itu karena riwayat sebelumnya semula UNDP melihat bahwa anda dikenal sebagai tokoh planolog yang 'pecinta SKN' atau mungkin juga 'mendewakan SKN' seperti yang sekarang sedang anda istilahkan kepada saya ... lalu maka oleh UNDP anda disuruh membidanginya?............. Atau karena ditugaskan membidangi .. lalu barulah maka esok lusanya atau minggu/ bulan berikutnya anda mulai jatuh cinta dan menjadi pendatang baru 'pec inta SKN'........ Lalu ketika kemudian dengan perjalanan waktu terbukti strategi itu kedodoran ... banyak pemda berhutang dan macet dsb.... maka lalu anda berubah drastis dari semula cinta lalu benci SKN seperti syair lagu Broery atau Betharia Sonata, Minel atau entah siapa itu ..... maka kalau begitu maap .... lalu tidak ada konsistensi dong ...... 'mencintai' sambil belum tahu sepenuhnya ..... dan 'membuangnya' sambil jangan-jangan maaf, anda juga tidak tahu sebenarnya pokok kesalahan utamanya masalah anda itu ada dimana ..... dan 'mengira' kesalahannya adalah pada kontekstualitasnya yang mulai nampak 'tidak pas'...... padahal belum tentu juga kesalahannya ada disitu........... +++: Saya sendiri dulu pecinta SKN. Ketika bekerja di proyek UNDP/UNCHS - National Urban Development Strategy (NUDS), saya membidangi SKN itu dan pada akhirnya output SKN dalam NUDS itu berupa pengembangan National Development Center (NDC), Inter-regional Development Center (IRDC), Regional Development Center (RDC), dan Local Development Center (LDC). Tetapi kemudian, setelah mempelajari sistem kelembagaan, regional economy, keuangan, dan desentralisasi dalam irama kerja saya sebagai konsultan; saya mulai memahami bahwa SKN itu sudah tidak kontekstual lagi dengan permasalahan wilayah belakangan ini. >>>: Dari kalimat "tetapi kemudian, setelah mempelajari.... lalu ...saya mulai memahami".... maka anda sudah menjawab sendiri .... ketika pertamakali mencintai SKN .. maka sambil mencintai tetapi sambil anda sendiri pada saat yang sama belum memahami sepenuhnya segala materi dan aspek dari program yang anda 'bidangi' dan 'cintai' itu......... +++ :Nah, jadi pertanyaan saya "... SKN di bawah kendali siapa?" adalah tawaran subjek baru untuk diperdebatkan (sorry Mas BSP, kita di sini bisanya memang debat-debatan saja. Maklum, karena belum sempat jadi pejabat). Thanks. CU. BTS. >>>: Ya, maaf, ++/>> yang ini sudah saya pasang dipaling atas tadi ....... Terimakasih ban yak atas kesempatan pertama diskusi SKN ini. saya menunggu lanjutannya.......... Salam, aby Recent Activity a.. 2New Members Visit Your Group Y! Messenger Files to share? Send up to 1GB of files in an IM. New web site? Drive traffic now. Get your business on Yahoo! search. Yahoo! Groups Latest product news Join Mod. Central stay connected. .

