Milisters ysh,
  berikut adalah diskusi dengan sahabat saya mas BTS, mohon peran sertanya 
juga.........
  
  +++“...Nah, jadi pertanyaan saya "... SKN di bawah kendali siapa?" adalah 
tawaran subjek baru untuk diperdebatkan...
  >>>: ya kalau kalimat ini dilontarkannya pada posting dengan judul baru 
diatas .... memang ia lebih pas.... kalau ia semula dilontarkan pertama kali 
pada posting sebelumnya ‘Jkt Setelah 100 Hari Ditangan Ahlinya’.... maka saya 
mengatakan pertanyaan itu terlampau pagi .... dan saya tidak mau menjawabnya 
diposting sebelumnya...... karena itu juga terlalu pagi..... 
   
  +++: Tanggapan saya atas ide Pak Aby soal ruang media dan Sistem Kota-kota 
Nasional, yang kemudian saya pertanyakan "....  di bawah kendali siapa?", 
sebenarnya bukan soal medianya, tapi ingin menyoal sistem kota-kota nasional 
(SKN).
  >>>: Saya percaya milisters semuanya sangat memahami  bahwa memang yang anda 
persoalkan bukan medianya.... tapi SKN nya.........
   
  +++: Dalam posting Pak Aby sebelumnya, Pak Aby menyayangkan penggunaan ruang 
media yang kurang efektif. Contohnya soal banjir, kemacetan lalu lintas, dsb 
itu tidak termasuk kendali Bang Foke dalam 100 hari awal jabatannya. Jadi buat 
apa dipersoalkan dalam ruang media  kalau tidak dalam kendali Bang Foke. Yang 
dalam kendali Bang Foke dalam 100 hari terbatas pada organisasi (internal). 
Kemudian Pak Aby memunculkan ide bagaimana kalau ruang media itu bisa 
diwacanakan soal penataan ruang. 
  >>>: Yang saya persoalkan disini bukanlah banjir dan macetnya Jkt kok 
dipersoalkan dimedia ... tetapi ‘jajak pendapat’ tentang kinerja 100 hari Foke 
untuk hal yang jelas berada diluar kendali dia adalah pekerjaan yang 
‘mengada-ada’  dan ‘menyia-nyiakan ruang media...... maka mendingan itu dipakai 
untuk mewacanakan penataan ruang yang ’lebih mencerdaskan bangsa’..........
   
  +++: Saya sangat setujunya, khususnya penataan ruang skala kota karena jelas 
siapa pengendalinya (ketika menanggapi postingnya Dwiagus). 
  >>>: walaupun jelas bagi mas BTS ataupun bagi kita semua ‘ada pengendalinya’ 
untuk skala kota .... tetapi kita nanti juga belum tentu bersepakat ‘siapa  
atau skakeholdersnya  siapa saja’  dari para pengendali  itu.........
   
  +++:  Cuman ketika Pak Aby mencontohnya soal SKN bisa di wacanakan di ruang 
media, di situ saya mempertanyakan ".. di bawah kendali siapa?" Kalau tidak ada 
pihak yang punya kendali terhadap SKN, ya buat apa masuk dalam ruang media. 
Sama kasusnya menyoal banjir dan kemacetan yang bukan kendali Bang Foke selama 
100 hari.
  >>>:  Pertama, pinjam dulu jawab dari pak Wawo :  “...Jadi kesimpulan saya 
sekarang adalah:  Biarlah milis ini mendiskussikan segala masalah tata ruang 
atau yang bersangkutan dengan tata ruang,  tanpa ada jaminan  kendali dahulu, 
setelah ini berlalu maka dapat kita pertimbangkan 'siapa atau apa yang akan 
mengendalikan atau me - manage masalah ini, pada tahap ini sebetulnya milis ini 
tidak lagi punya kewajiban.....”.
  Jawab saya sendiri... pertama : ....buat apa masuk ruang media?..... ya 
pertama biar supaya setidaknya publik dapat memahami  dulu ... bahwa  pertama 
... strategi tataruang,  strategi tataruang nasional atau sistem kota secara 
nasional yang betul itu adalah ‘apa’?....  lalu kemudian meningkat kepada 
pemahaman bahwa ternyata ia  ‘perlu’ dan dapat menunjang strategi kesejahteraan 
hidup bangsa........
  Tentu saja media  dan wacana adalah bukan segalanya...... tetapi 
‘sosialisasi’ kepada masyarakat  luas alias ‘mencerdaskan visi bangsa’  tentang 
manfaat mulia penataan ruang  dan penegakan sistem kota secara nasional adalah 
perkara srtategis bangsa........
  Jawab kedua: .... jangankan kok ‘cuma mengendalikan sistem kota’..... lha 
wong sekarang mengendalikan TNI saja rakyat mampu kok..... buktinya sekarang 
kalau presiden mau ngangkat Panglima TNI saja ... mesti perlu pake persetujuan 
DPR  dulu segala ..... kalau dulu ‘kan boro-boro....
   
  +++: Terlepas dari subjek  "Jkt setelah 100 hari...", sebenarnya ada 
perbedaan pandangan antara Pak Aby dan saya soal SKN. Pak Aby sepertinya 
mendewakan SKN sebagai solusi masalah ketataruangan nasional, sementara saya 
"ingin membuangnya" (dalam pikiran saya). Saya sendiri dulu pecinta SKN.
  >>>: Ya kalau soal ’perbedaan’.... jelaslah ..... banyak orang tahu kita 
hampir tak pernah bersepakat untuk banyak hal .....
  Nah, kalau untuk soal ‘mendewakan atau mencintai  SKN’...  Saya kurang tahu 
..... apakah ketika anda dulu pertama kali diserahi ‘membidangi’ SKN diproyek 
UNDP/UNCHS - National Urban Development Strategy (NUDS) .. itu karena riwayat 
sebelumnya semula UNDP melihat bahwa anda dikenal sebagai  tokoh planolog yang 
’pecinta SKN’ atau mungkin juga  ‘mendewakan SKN’ seperti yang sekarang sedang 
anda istilahkan kepada saya ...  lalu maka oleh UNDP anda disuruh 
membidanginya?............. 
  Atau karena ditugaskan membidangi .. lalu barulah maka esok lusanya atau 
minggu/ bulan berikutnya anda mulai jatuh cinta dan menjadi pendatang baru 
’pecinta SKN’........
  Lalu ketika kemudian dengan perjalanan waktu terbukti strategi itu kedodoran 
... banyak pemda berhutang dan macet dsb.... maka lalu anda berubah drastis 
dari semula cinta  lalu benci SKN seperti syair lagu Broery atau Betharia 
Sonata,  Minel atau entah siapa itu ..... maka kalau begitu maap .... lalu 
tidak ada konsistensi dong ...... ‘mencintai’ sambil belum tahu sepenuhnya 
..... dan ‘membuangnya’ sambil jangan-jangan maaf, anda juga tidak tahu 
sebenarnya pokok kesalahan utamanya masalah anda itu ada dimana ..... dan 
‘mengira’ kesalahannya adalah pada kontekstualitasnya  yang mulai nampak ‘tidak 
pas’...... padahal belum tentu juga kesalahannya ada disitu...........
  +++: Saya sendiri dulu pecinta SKN. Ketika bekerja di proyek UNDP/UNCHS - 
National Urban Development Strategy (NUDS), saya membidangi SKN itu dan pada 
akhirnya output SKN dalam NUDS itu berupa pengembangan National Development 
Center (NDC), Inter-regional Development Center (IRDC), Regional Development 
Center (RDC), dan Local Development Center (LDC). Tetapi kemudian, setelah 
mempelajari sistem kelembagaan, regional economy, keuangan, dan desentralisasi 
dalam irama kerja saya sebagai konsultan; saya mulai memahami bahwa SKN itu 
sudah tidak kontekstual lagi dengan permasalahan wilayah belakangan ini. 
  >>>: Dari kalimat “tetapi kemudian, setelah mempelajari.... lalu ...saya 
mulai memahami”....  maka  anda sudah menjawab sendiri .... ketika pertamakali 
mencintai SKN ..  maka sambil mencintai tetapi sambil anda sendiri pada saat 
yang sama belum memahami sepenuhnya segala materi dan aspek dari program yang 
anda ‘bidangi’  dan ‘cintai’ itu.........
   
  +++ :Nah, jadi pertanyaan saya "... SKN di bawah kendali siapa?" adalah 
tawaran subjek baru untuk diperdebatkan (sorry Mas BSP, kita di sini bisanya 
memang debat-debatan saja. Maklum, karena belum sempat jadi pejabat).  Thanks. 
CU. BTS.
  >>>: Ya, maaf, ++/>> yang ini sudah saya  pasang dipaling atas tadi .......
  Terimakasih banyak atas kesempatan pertama diskusi SKN ini… saya menunggu 
lanjutannya..........
   
  Salam,
  aby 
   
  ----- Original Message ----
From: Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED] id>
To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
Sent: Friday, January 18, 2008 6:07:47 PM
Subject: [referensi] Menyoal Sistem Kota-kota
  Ysh. Pak Aby dan rekan-rekan sekalian
   
  Tanggapan saya atas ide Pak Aby soal ruang media dan Sistem Kota-kota 
Nasional, yang kemudian saya pertanyakan "....  di bawah kendali siapa?", 
sebenarnya bukan soal medianya, tapi ingin menyoal sistem kota-kota nasional 
(SKN).
   
  Dalam posting Pak Aby sebelumnya, Pak Aby menyayangkan penggunaan ruang media 
yang kurang efektif. Contohnya soal banjir, kemacetan lalu lintas, dsb itu 
tidak termasuk kendali Bang Foke dalam 100 hari awal jabatannya. Jadi buat apa 
dipersoalkan dalam ruang media  kalau tidak dalam kendali Bang Foke. Yang dalam 
kendali Bang Foke dalam 100 hari terbatas pada organisasi (internal). Kemudian 
Pak Aby memunculkan ide bagaimana kalau ruang media itu bisa diwacanakan soal 
penataan ruang. Saya sangat setujunya, khususnya penataan ruang skala kota 
karena jelas siapa pengendalinya (ketika menanggapi postingnya Dwiagus).  Cuman 
ketika Pak Aby mencontohnya soal SKN bisa di wacanakan di ruang media, di situ 
saya mempertanyakan ".. di bawah kendali siapa?" Kalau tidak ada pihak yang 
punya kendali terhadap SKN, ya buat apa masuk dalam ruang media. Sama kasusnya 
menyoal banjir dan kemacetan yang bukan kendali Bang Foke selama 100 hari.
   
  Terlepas dari subjek  "Jkt setelah 100 hari...", sebenarnya ada perbedaan 
pandangan antara Pak Aby dan saya soal SKN. Pak Aby sepertinya mendewakan SKN 
sebagai solusi masalah ketataruangan nasional, sementara saya "ingin 
membuangnya" (dalam pikiran saya). Saya sendiri dulu pecinta SKN. Ketika 
bekerja di proyek UNDP/UNCHS - National Urban Development Strategy (NUDS), saya 
membidangi SKN itu dan pada akhirnya output SKN dalam NUDS itu berupa 
pengembangan National Development Center (NDC), Inter-regional Development 
Center (IRDC), Regional Development Center (RDC), dan Local Development Center 
(LDC). Tetapi kemudian, setelah mempelajari sistem kelembagaan, regional 
economy, keuangan, dan desentralisasi dalam irama kerja saya sebagai konsultan; 
saya mulai memahami bahwa SKN itu sudah tidak kontekstual lagi dengan 
permasalahan wilayah belakangan ini. Nah, jadi pertanyaan saya "... SKN di 
bawah kendali siapa?" adalah tawaran subjek baru untuk diperdebatkan (sorry Mas 
BSP, kita
 di sini bisanya memang debat-debatan saja. Maklum, karena belum sempat jadi 
pejabat).
   
  Thanks. CU. BTS.
   
   
  On 18 Jan 2008 
  "Hannie Waworoentoe"<[EMAIL PROTECTED]>  wrote: 
   
  Bambang dan Hengky  dan jelas semua rekan-rekan dalam segala jajaran yang 
dekat dan jauh, 
  minggu lalu saya masih merasa suka ketinggalan dalam  gelombang diskussi 
week-end traffic itu . ternyata  sabtu pagi ini mulai dengan posting Hengky 
yang langsung disambut oleh Bambang lalu lintas menjadi sangat jelas dari 
tingkat bung Foke sampai ke media Kompas yang rada popular bombastic itu, 
ternyata bahasa media dan pejabat tidak begitu berbedalah.
  Tetapi akhirnya yamg paling beruntung adalah milis ini bukan, apalagi jikalau 
milis ini tidak hanya merekam me moderasi tapi juga menganalisa lebih lanjut 
untuk semua rekan se-professi.  
  Sebetulnya milis ini memang sudah mencapai effisiensi yang cukup tinggi,  
mulai dari script writer Hengky yang tidak saja lempar bola dulu (dalam hal ini 
.........), lalu ada yang langsung bisa membahas juga denga effisiensi yang 
sangat tinggi, wah memang luar biasa Bambang tidak saja daya analitis, 
comprehension dan pengalaman juga sangat kuat. seperti a.l. terlihat dalam 
pengalaman NUDS, IRDC dan seterusnya, terutama juga dalam perumusan pertanyaan 
dasar: : "..dibawah kendali siapa"  yang sebetulnya Bambang sudah simpulkan 
sendiri, namun secara bijak diserahkan kepada kita,  saya merasa bahwa 
deliberasi tanpa jaminan kendali bisa saja bermanfaat walaupun tidak ada yang 
bayar atau mempertanggung jawab kan  fiscal dutynya.  
  (kalau dalam bahasa filsafat fiscal:  '....you cannot buy wisdom, but you 
allways have to pay for it " (rupanya wisdom itu memang tidak akan tunduk pada 
kaidah  buy = beli dan pay = bayar) 
  Jadi kesimpulan saya sekarang adalah:  Biarlah milis ini mendiskussikan 
segala masalah tata ruang atau yang bersangkutan dengan tata ruang,  tanpa ada 
jaminan  kendali dahulu, 
  setelah ini berlalu maka dapat kita pertimbangkan 'siapa atau apa yang akan 
mengendalikan atau me - manage masalah ini, pada tahap ini sebetulnya milis ini 
tidak lagiu punya kewajiban. Para pemrakarsa sekarang bisa cari masalah lain, 
tapi milis masih akan memproses diskussi sampai jadi suatu dokumen. (terserah 
secara tercetak atau dalam bentuk elektronik) 
  OK rasanya weekend ini masih muda bukan.  
  Pak  Wawo. 

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke