Pak Joseph Motte ysh,

Saya senang dan bangga bapak sudah mulai interaksi di milis ini, sebagai
putera Papua pertama yang terdidik sebagai perencana, saya kira.
Informasi bapak untuk versi online-nya bersumber dari link ini:
http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=10768&ses
<http://www.cenderawasihpos.com/detail.php?id=10768&ses> = dengan
kutipan lengkapnya saya sampaikan di bawah.

Masalah yang bapak sampaikan sebenarnya hal yang sangat mendasar dan
sebenarnya issue penting yang selama ini selalu dikemukakan. Kebetulan
di milis ini ada beberapa rekan yang kompeten untuk membedah
permasalahan seperti itu, seperti Pak Yando yang pernah menulis buku
tentang tanah ulayat, Pak Nuzul Achjar untuk aspek investasi, Pak
Bambang SP yang peka dengan budaya dan kemasyarakatan, Pak Rientje yang
lama menggeluti Papua, Pak Risman, Pak BTS, Pak Abim, Pak Aby, dan
lain-lain. Bilamana perlu para guru bapak juga ada di sini, Pak Jusron,
Pak Jawoto, Pak Holi, dan lain-lain. Saya malah mengharapkan Pak Aca,
yang katanya dulu ingin bekerja di Papua namun terdampar di Bali,
berkenan juga menceritakan pembangunan Renon yang sarat dengan
permasalahan hak ulayat dan adat itu.

Demikian sementara waktu pak. Salam.

-ekadj

... sepercik doa untuk Pak Harto yang telah mendahului kita ...

28 Januari 2008 02:32:58




Investor Terkendala Hak Ulayat dan Birokrasi

JAYAPURA-Ketua Umum Badan Pengurus Daerah (BPD) Himpunan Pengusahan Muda
Indonesia (HIPMI) Papua, Andi Rukman Nurdin, mengatakan bahwa apabila
ada satu investasi besar masuk Papua, maka dampaknya akan menjadi multi
efek kepada usaha-usaha lainnya yang dapat memajukan perekonomian menuju
Papua Baru.
"Mendatangkan investor ke suatu daerah tidak mudah, namun apabila
ada 1 investor mulai berkarya di suatu daerah, maka hal tersebut akan
menjadi bahan pertimbangan investor lainnya masuk ke daerah
tersebut,"katanya kepada wartawan sebelum membuka rapat pleno BPD
HIPMI Papua, di Swiss belHotel Papua, Ahad (27/1), malam.
Menurutnya, 3 tahun yang lalu, BPD HIPMI Papua mengajak 14 investor ke
Papua untuk ikut memberikan sumbangsih bagi pembangunan perekonomiannya
Papua, namun baru sekitar 6 bulan mereka yang diantaranya terdapat Group
Samporna dan Bentol Group tidak melanjutkan investasinya di Papua.
Dikatakannya, kendala yang dihadapi para investor pada saat itu sehingga
tidak meneruskan upaya investasi di Papua, tidak jauh berbeda dengan
beberapa investor yang akan masuk ke Papua saat ini. "Antara
investor dahulu dengan sekarang mempunyai kendala sama,"jelasnya.
Lanjut dia, beberapa kendala investor masuk ke Papua, yang paling sulit
dilalui adalah birokrasi dan masalah hak ulayat. Namun begitu, mengenai
hak ulayat, saat ini sedang disusun perdasi dan perdasusnya, sehingga
diharapkan dalam waktu dekat ini sudah dapat disahkan. Dengan demikian
dapat memberikan kejelasan dan batasan mana yang harus dilakukan
investor dalam berinvestasi di Papua.
Menyoal rapat pleno BDP HIPMI Papua, bahwa hal tersebut dilakukan untuk
mengakhiri masa jabatannya setelah 3 tahun memimpin BDP HIPMI Papua,
dengan memberikan kesempatan kepada kader-kader BPD HIPMI Papua lainnya
meneruskan estafet dalam memajukan usaha sektor riil di Papua, sehingga
kedepannya perekonomian di Papua tidak bergantung kepada proyek-proyek
pemerintah.
Diungkapkannya, sejak kiprahnya di Papua sejak 1983 BPD HIPMI Papua
sampai 2008 ini telah memiliki 20 cabang Se Provinsi Papua dan sampai
2008 telah melakukan pergantian kepengurusan sampai 8 kali, dimana 1
priode jabatan kepengurusan berlangsung selama 3 tahun.
"Sebenarnya kepengurusa saya berakhir 24 November 2007, namun diberi
tenggang waktu sampai 3 bulan ke depan sampai terbentuknya pengurus
baru,"terangnya.
Untuk itu, sebagaimana dilakukan pemimpin-pemimpin BPD HIPMI Papua
sebelumnya, maka para calon yang secara lisan telah ditetapkan, yaitu
Max R. Krey, Syahril Hasan, Lutfi Arisandi dan bahlil LHD, harus
melakukan road show ke daerah-daerah sebelum pemilihan dimulai, karena
nantinya yang akan menentukan siapa yang akan menentukan Ketua Umum BPD
HIPMI Papua adalah mereka-mereka yang ada di daerah.
Namun begitu, diharapkan Andi Rukman Nurdin, siapapun yang akan terpilih
menjadi Ketua Umum BPD HIPMI Papua harus didukung, dan khusus bagi yang
bersangkutan untuk tetap menjalin kerjasama dengan lainnya dalam
membangun Papua melalui wadah BPD HIPMI Papua yang bekerjasama dengan
elemen-elemen lainnya baik yang ada di Papua maupun di luar daerah.(api)

--- In [email protected], JOSEPH MOTTE <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Yth pak eka dan teman - teman milis,
> berita cepos edisi senin 28 Januari 2008, Investor terkendala Hak
Ulayat dan Birokrasi, dari 14 investor namun baru sekitar 6 bulan mereka
yang diantaranya terdapat grup Sampurna dan bentol grup tidak
melanjutkan investasinya di papua.
> Kendala yang dihadapi para investor dari dulu sampai sekarang tetap
sama...!
>
> Mohon masukan teman - teman terhadap solusi hak ulayat terhadap
investasi,hak ulayat kepemilikan lahan publik dan privat, dan hak ulayat
terhadap RTRW ?
>
> Sekian dan Terima Kasih
> Salam dari Papua.


Kirim email ke