Meneruskan diskusi terdahulu yg baru sekarang ini saya bisa berkomentar
lagi...
My apology for the delay. Juga terima kasih kepada Pak Aby, Dwiagus,
Ekadj, etc atas tambahan infonya.
Pada email terdahulu saya sebutkan Pontianak, mestinya adalah
Palangkaraya. Mungkin karena sama2 di Kalimantan dan berawal huruf "P",
sehingga kesalahan itu terjadi. Sehari setelah email tsb, saya terima
email melalui japri dari rekan Wilmar Salim yg menyampaikan alasan
mengapa Presiden Soekarno tidak melanjutkan rencana kepindahan ibukota
RI ke Palangkaraya, spt saya kutipkan dibawah ini:
"Selain kondisi perekonomian yang tidak mengijinkan dan situasi politik
yang memanas, berdasarkan buku "Soekarno dan Desain Rencana Ibukota di
Palangkaraya" yang ditulis oleh Wijanarka (2006?) ada faktor teknis yang
menyebabkan rencana tersebut menjadi terlantar, yakni tidak tersedianya
bahan bangunan dan tidak bersedianya perwakilan asing untuk Indonesia
untuk memindahkan kedutaannya"
Kalau ada rekan di milis ini yg memiliki buku tsb. mungkin bisa
bercerita lebih banyak ttg ketidakpindahan ibukota RI ke Palangkaraya
tsb. Saya harapkan juga mudah2an perpustakaan di Indonesia memiliki
koleksi buku ini.
Mengenai counter magnet, saya sepakat bahwa ini perlu diciptakan di luar
Jakarta (baca di luar Jawa). Pemahaman counter magnet dalam skala
subregional i.e. megapolitan Jakarta tidaklah menjawab kegundahan thd
dominasi Jakarta. Yg sampai saat ini saya masih gundahkan diantaranya
sbb:
1. Pelabuhan Tanjung Priok kenapa mesti terus dibesarkan? Biarkan
saja dg kapasitas sekarang ini, dan bangun dan kembangkan pelabuhan di
luar Jakarta. Serupa juga buat Bandara Cengkareng.
2. Jalan tol trans-Jawa masih juga jalan ditempat. Apalagi jalan tol
trans-Sumatera atau Kalimantan atau Sulawesi. Kok yg banyak dibicarakan
malahan tol dalam kota Jakarta. Biarkan saja Jakarta mengurus dirinya
sendiri, tidak perlu intervensi pemerintah pusat. Masih besar wilayah
NKRI yg perlu diurus dan dibangun jaringan transportasinya.
3. Jembatan Sumatera-Jawa-Bali-Nusa Tenggara adalah prerequisite utk
menumbuhkembangkan counter magnet di Sumatera ataupun Bali dan Nusa
Tenggara.
4. Sumber daya alam tersebar di luar Jakarta, tapi headquarter (HQ)
dari perusahaan2 yg mengolahnya masih tetap di Jakarta. Jakarta masih
terlalu digjaya dibandingkan kota2 lainnya di Indonesia utk menjadi
lokasi HQs, juga mungkin pengaruh power dari Senayan juga. Kota2 di luar
Jakarta juga mesti lebih kreatif utk bersaing dg Jakarta memikat HQs.
Mesti ditiru juga mungkin bagaimana kota2 di US bisa bersaing dg New
York City.
Sekian dulu dan terima kasih.
Salam dari Savannah,
Deden Rukmana
PS:
Saya sedang menyiapkan tulisan utk blog saya dan dari google search saya
peroleh data bahwa proporsi ruang terbuka hijau di Jakarta terus menurun
dari RUTR 1965 sampai ke Rencata Tata Ruang Jakarta terbaru. Mohon
konfirmasi dari rekan yg barangkali mengetahuinya. Terima kasih.