Kang Deden dan milisters ysh,
Ya... diskusi tentang ibukota dan countermagnet sepertinya telah lewat hampir
sebulan y.l. ....sampai hampir lupa...hehe..
Tapi hanya untuk mengingatnya saja kembali ... untuk yang pro pemindahan
ibukota.... pak Ekadj telah menginventorinya dengan hasil sbb :
On 15/02/2008 Ekadj wrote :
......... dan izinkan saya memasukkannya ke dalam list alternatif, yang telah
saya coba susun sebagai berikut :
1 Ibukota di Jakarta (Pak Eko BK [pelajar],
)
2 Ibukota di Palangkaraya atau Pontianak (Bung Karno [presiden],. .. [Menteri
PU era Orla])
3 Ibukota di Jonggol (Pak Harto [presiden])
4 Ibukota di perbatasan Sumsel-Lampung, 20an km arah timur Pematang Panggang
(ekadj [pengelana])
5 Ibukota di seputaran Gunung Muria (ekadj [pengelana])
6 Ibukota di koridor Yogya-Solo (Bambang SP [budayawan])
7 Ibukota di Provinsi Kalsel atau Sulsel (Djarot P [pendidik])
8 Ibukota di tepi Sungai Barito (ekadj [pengelana])
9 Ibukota di Tangerang (Suryono Herlambang [pendidik])
*** waktu itu pak Eka lupa menambahkan satu lagi :
10..... Ibukota di Kalimantan atau Sulawesi (Deden Rukmana 11/02/08)
Masing-masing dengan dukungan varia[n]si, seperti misalnya perhatian Pak Aby
tentang Makasar dan Pak Rofiq tentang Serpong. Kemungkinan list ini akan
bertambah dan berubah.
Demikian terima kasih. Salam.
-ekadj
. . . . . . . .
Dan sementara itu untuk yang setuju pengembangan wacana (baru
pengembangan wacana saja lho) counter magnet to Jkt apakah boleh juga
diinventori sementara sebagai berikut? :
1. Deden Rukmana (AS....setuju diluar Jawa/luar Jkt)
2. Eko Budi K (Perancis... setuju tapi how?)
3. Aunur Rofiq (Jkt... dengan studi banding RRC sepertinya pak Rofiq mulai
minat juga dengan countermagnet toJkt?).....
3. Dwiagus (Jkt... kelihatannya mas Dwi nggak nolak.. atau setidaknya beliau
nggak mencak-mencak hehe..)
4. Abimanyu TA (tapi maaf ... lupa pendapatnya bgmn.. belum saya cek
lagi).......
Saya kira sih kalau yang tidak setuju countermagnet to Jkt berkenan untuk
terus menyuarakan ketidak setujuannya .... itu juga akan bagus juga untuk
pengembangan wacana bahkan mungkin itu juga pengembangan bola salju .... karena
saya tentu akan terus menanggapinya balik...hehe.. dan bukan tak mungkin yang
semula kontra... bisa saja berubah menjadi pikir-pikir .... dan yang semula
abstain ... bisa saja berubah menjadi ingin tahu ...........
Bahwa wacana countermagnet city seperti kurang meluas...setidaknya salah
satu sebabnya adalah bahwa selama ini seperti terdapat kesan (ini sih ungkapan
yang diperhalus saja hehe..) bahwa kebijakan tata ruang atau paham umum
masyarakat tata ruang masih lebih bersifat pro-pasif pada pendekatan
ekonomi (relokasi industri dsb) ... pendekatan demografi (transmigrasi,
transurbanisasi)... maupun pendekatan inter-regional (inter-regional
development in the frame of integrated national urban development system....
dan bukannya lebih menegaskan perwilayahan pembangunan I-IV yang
masing-masing seperti tabu untuk saling bersinggungan ).......
Sementara demikian dan salam,
aby
"ekadj08" <[EMAIL PROTECTED]> wrote :
Pak Herlambang ysh,
Terima kasih atas masukannya, dan izinkan saya memasukkannya ke dalam list
alternatif, yang telah saya coba susun sebagai berikut :
1 Ibukota di Jakarta (Pak Eko BK [pelajar],
)
2 Ibukota di Palangkaraya atau Pontianak (Bung Karno [presiden],. .. [Menteri
PU era Orla])
3 Ibukota di Jonggol (Pak Harto [presiden])
4 Ibukota di perbatasan Sumsel-Lampung, 20an km arah timur Pematang Panggang
(ekadj [pengelana])
5 Ibukota di seputaran Gunung Muria (ekadj [pengelana])
6 Ibukota di koridor Yogya-Solo (Bambang SP [budayawan])
7 Ibukota di Provinsi Kalsel atau Sulsel (Djarot P [pendidik])
8 Ibukota di tepi Sungai Barito (ekadj [pengelana])
9 Ibukota di Tangerang (Suryono Herlambang [pendidik])
Masing-masing dengan dukungan varia[n]si, seperti misalnya perhatian Pak Aby
tentang Makasar dan Pak Rofiq tentang Serpong. Kemungkinan list ini akan
bertambah dan berubah.
Demikian terima kasih. Salam.
-ekadj
Deden Rukmana <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Meneruskan diskusi
terdahulu yg baru sekarang ini saya bisa berkomentar lagi...
My apology for the delay. Juga terima kasih kepada Pak Aby, Dwiagus, Ekadj,
etc atas tambahan infonya.
Pada email terdahulu saya sebutkan Pontianak, mestinya adalah Palangkaraya.
Mungkin karena sama2 di Kalimantan dan berawal huruf "P", sehingga kesalahan
itu terjadi. Sehari setelah email tsb, saya terima email melalui japri dari
rekan Wilmar Salim yg menyampaikan alasan mengapa Presiden Soekarno tidak
melanjutkan rencana kepindahan ibukota RI ke Palangkaraya, spt saya kutipkan
dibawah ini:
"Selain kondisi perekonomian yang tidak mengijinkan dan situasi politik yang
memanas, berdasarkan buku "Soekarno dan Desain Rencana Ibukota di Palangkaraya"
yang ditulis oleh Wijanarka (2006?) ada faktor teknis yang menyebabkan rencana
tersebut menjadi terlantar, yakni tidak tersedianya bahan bangunan dan tidak
bersedianya perwakilan asing untuk Indonesia untuk memindahkan kedutaannya"
Kalau ada rekan di milis ini yg memiliki buku tsb. mungkin bisa bercerita
lebih banyak ttg ketidakpindahan ibukota RI ke Palangkaraya tsb. Saya harapkan
juga mudah2an perpustakaan di Indonesia memiliki koleksi buku ini.
Mengenai counter magnet, saya sepakat bahwa ini perlu diciptakan di luar
Jakarta (baca di luar Jawa). Pemahaman counter magnet dalam skala subregional
i.e. megapolitan Jakarta tidaklah menjawab kegundahan thd dominasi Jakarta. Yg
sampai saat ini saya masih gundahkan diantaranya sbb:
Pelabuhan Tanjung Priok kenapa mesti terus dibesarkan? Biarkan saja dg
kapasitas sekarang ini, dan bangun dan kembangkan pelabuhan di luar Jakarta.
Serupa juga buat Bandara Cengkareng.
Jalan tol trans-Jawa masih juga jalan ditempat. Apalagi jalan tol
trans-Sumatera atau Kalimantan atau Sulawesi. Kok yg banyak dibicarakan malahan
tol dalam kota Jakarta. Biarkan saja Jakarta mengurus dirinya sendiri, tidak
perlu intervensi pemerintah pusat. Masih besar wilayah NKRI yg perlu diurus dan
dibangun jaringan transportasinya.
Jembatan Sumatera-Jawa-Bali-Nusa Tenggara adalah prerequisite utk
menumbuhkembangkan counter magnet di Sumatera ataupun Bali dan Nusa Tenggara.
Sumber daya alam tersebar di luar Jakarta, tapi headquarter (HQ) dari
perusahaan2 yg mengolahnya masih tetap di Jakarta. Jakarta masih terlalu
digjaya dibandingkan kota2 lainnya di Indonesia utk menjadi lokasi HQs, juga
mungkin pengaruh power dari Senayan juga. Kota2 di luar Jakarta juga mesti
lebih kreatif utk bersaing dg Jakarta memikat HQs. Mesti ditiru juga mungkin
bagaimana kota2 di US bisa bersaing dg New York City.
Sekian dulu dan terima kasih.
Salam dari Savannah,
Deden Rukmana
PS:
Saya sedang menyiapkan tulisan utk blog saya dan dari google search saya
peroleh data bahwa proporsi ruang terbuka hijau di Jakarta terus menurun dari
RUTR 1965 sampai ke Rencata Tata Ruang Jakarta terbaru. Mohon konfirmasi dari
rekan yg barangkali mengetahuinya. Terima kasih.
---------------------------------
Never miss a thing. Make Yahoo your homepage.