Kayanya dengan pendapat yang bvegitu beragam.. akan bagus untuk kita obrolin
dalam bentuk kopi2 darat nih...
Topiknya " Ibukota Indonesia : jakarta vs Non-Jakarta"..hasil diskusi ini
kayanya bisa jadi input yang bagus untuk kita bagi-bagi dengan orang-orang
lain,,,
Bagaimana rekan-rekan???

-catur-

2008/3/3 hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]>:

>   Kang Deden dan milisters ysh,
>
> Ya... diskusi tentang ibukota dan countermagnet sepertinya telah lewat
> hampir sebulan  y.l. ....sampai hampir lupa...hehe..
> Tapi hanya untuk mengingatnya saja kembali ... untuk yang 'pro pemindahan
> ibukota'.... pak Ekadj telah menginventorinya  dengan hasil sbb :
>
> *On 15/02/2008 Ekadj wrote* :
>
> ......... dan izinkan saya memasukkannya ke dalam list alternatif, yang
> telah saya coba susun sebagai berikut :
> 1 Ibukota di Jakarta (Pak Eko BK [pelajar], …)
> 2 Ibukota di Palangkaraya atau Pontianak (Bung Karno [presiden],. ..
> [Menteri PU era Orla])
> 3 Ibukota di Jonggol (Pak Harto [presiden])
> 4 Ibukota di perbatasan Sumsel-Lampung, 20an km arah timur Pematang
> Panggang (ekadj [pengelana])
> 5 Ibukota di seputaran Gunung Muria (ekadj [pengelana])
> 6 Ibukota di koridor Yogya-Solo (Bambang SP [budayawan])
> 7 Ibukota di Provinsi Kalsel atau Sulsel (Djarot P [pendidik])
> 8 Ibukota di tepi Sungai Barito (ekadj [pengelana])
> 9 Ibukota di Tangerang (Suryono Herlambang [pendidik])
>
> *** waktu itu pak Eka lupa menambahkan satu lagi :
> 10..... Ibukota di Kalimantan atau Sulawesi  (Deden Rukmana 11/02/08)
>
> Masing-masing dengan dukungan varia[n]si, seperti misalnya perhatian Pak
> Aby tentang Makasar dan Pak Rofiq tentang Serpong. Kemungkinan list ini akan
> bertambah dan berubah.
> Demikian terima kasih. Salam.
> -ekadj
> .  .  .  . . .  .  .
>
> Dan sementara itu untuk  yang 'setuju' pengembangan  wacana (baru
> pengembangan wacana saja lho)  'counter magnet to Jkt' apakah boleh juga
> diinventori  sementara sebagai berikut? :
>
> 1. Deden Rukmana (AS....setuju diluar Jawa/luar Jkt)
> 2. Eko Budi K (Perancis... setuju tapi how?)
> 3. Aunur Rofiq (Jkt... dengan studi banding RRC sepertinya pak Rofiq mulai
> minat juga dengan countermagnet toJkt?).....
> 3. Dwiagus (Jkt... kelihatannya mas Dwi nggak nolak.. atau setidaknya
> beliau nggak mencak-mencak hehe..)
> 4. Abimanyu TA (tapi maaf ... lupa pendapatnya bgmn.. belum saya cek
> lagi).......
>
> Saya kira sih kalau yang tidak setuju   countermagnet to Jkt berkenan
> untuk terus menyuarakan ketidak setujuannya .... itu juga akan bagus juga
> untuk pengembangan wacana bahkan mungkin itu juga pengembangan bola salju
> .... karena saya tentu akan terus menanggapinya  balik...hehe.. dan bukan
> tak mungkin yang semula kontra... bisa saja berubah menjadi pikir-pikir ....
>  dan yang semula abstain ... bisa saja berubah menjadi  ingin tahu
> ...........
> Bahwa wacana 'countermagnet  city' seperti kurang meluas...setidaknya
> salah satu sebabnya adalah bahwa  selama ini seperti terdapat kesan (ini
> sih ungkapan yang diperhalus saja hehe..) bahwa kebijakan  tata ruang atau
> paham umum  masyarakat tata ruang  masih lebih bersifat  'pro-pasif' pada
> pendekatan ekonomi (relokasi industri dsb) ... pendekatan  demografi  
> (transmigrasi,
> transurbanisasi)... maupun pendekatan  inter-regional (inter-regional
> development in the frame of integrated national urban development system....
> dan bukannya  lebih menegaskan 'perwilayahan pembangunan' I-IV yang
> masing-masing seperti 'tabu' untuk  saling bersinggungan ).......
>
> Sementara demikian dan salam,
> aby
>
> *"ekadj08" <[EMAIL PROTECTED]>   wrote :*
>
> Pak Herlambang ysh,
> Terima kasih atas masukannya, dan izinkan saya memasukkannya ke dalam list
> alternatif, yang telah saya coba susun sebagai berikut :
> 1 Ibukota di Jakarta (Pak Eko BK [pelajar], …)
> 2 Ibukota di Palangkaraya atau Pontianak (Bung Karno [presiden],. ..
> [Menteri PU era Orla])
> 3 Ibukota di Jonggol (Pak Harto [presiden])
> 4 Ibukota di perbatasan Sumsel-Lampung, 20an km arah timur Pematang
> Panggang (ekadj [pengelana])
> 5 Ibukota di seputaran Gunung Muria (ekadj [pengelana])
> 6 Ibukota di koridor Yogya-Solo (Bambang SP [budayawan])
> 7 Ibukota di Provinsi Kalsel atau Sulsel (Djarot P [pendidik])
> 8 Ibukota di tepi Sungai Barito (ekadj [pengelana])
> 9 Ibukota di Tangerang (Suryono Herlambang [pendidik])
> Masing-masing dengan dukungan varia[n]si, seperti misalnya perhatian Pak
> Aby tentang Makasar dan Pak Rofiq tentang Serpong. Kemungkinan list ini akan
> bertambah dan berubah.
> Demikian terima kasih. Salam.
> -ekadj
>
>
>
> *Deden Rukmana <[EMAIL PROTECTED]>* wrote:
>
>  Meneruskan diskusi terdahulu yg baru sekarang ini saya bisa berkomentar
> lagi...
> My apology for the delay. Juga terima kasih kepada Pak Aby, Dwiagus,
> Ekadj, etc atas tambahan infonya.
> Pada email terdahulu saya sebutkan Pontianak, mestinya adalah
> Palangkaraya. Mungkin karena sama2 di Kalimantan dan berawal huruf "P",
> sehingga kesalahan itu terjadi. Sehari setelah email tsb, saya terima email
> melalui japri dari rekan Wilmar Salim yg menyampaikan alasan mengapa
> Presiden Soekarno tidak melanjutkan rencana kepindahan ibukota RI ke
> Palangkaraya, spt saya kutipkan dibawah ini:
>
> "Selain kondisi perekonomian yang tidak mengijinkan dan situasi politik
> yang memanas, berdasarkan buku "Soekarno dan Desain Rencana Ibukota di
> Palangkaraya" yang ditulis oleh Wijanarka (2006?) ada faktor teknis yang
> menyebabkan rencana tersebut menjadi terlantar, yakni tidak tersedianya
> bahan bangunan dan tidak bersedianya perwakilan asing untuk Indonesiauntuk 
> memindahkan kedutaannya"
> Kalau ada rekan di milis ini yg memiliki buku tsb. mungkin bisa bercerita
> lebih banyak ttg ketidakpindahan ibukota RI ke Palangkaraya tsb. Saya
> harapkan juga mudah2an perpustakaan di Indonesia memiliki koleksi buku ini.
> Mengenai counter magnet, saya sepakat bahwa ini perlu diciptakan di luar
> Jakarta (baca di luar Jawa). Pemahaman counter magnet dalam skala
> subregional i.e. megapolitan Jakarta tidaklah menjawab kegundahan thd
> dominasi Jakarta. Yg sampai saat ini saya masih gundahkan diantaranya sbb:
>
>    1. Pelabuhan Tanjung Priok kenapa mesti terus dibesarkan? Biarkan
>    saja dg kapasitas sekarang ini, dan bangun dan kembangkan pelabuhan di luar
>    Jakarta. Serupa juga buat Bandara Cengkareng.
>    2. Jalan tol trans-Jawa masih juga jalan ditempat. Apalagi jalan tol
>    trans-Sumatera atau Kalimantan atau Sulawesi. Kok yg banyak dibicarakan
>    malahan tol dalam kota Jakarta. Biarkan saja Jakarta mengurus dirinya
>    sendiri, tidak perlu intervensi pemerintah pusat. Masih besar wilayah NKRI
>    yg perlu diurus dan dibangun jaringan transportasinya.
>    3. Jembatan Sumatera-Jawa-Bali-Nusa Tenggara adalah prerequisite utk
>    menumbuhkembangkan counter magnet di Sumatera ataupun Bali dan Nusa
>    Tenggara.
>    4. Sumber daya alam tersebar di luar Jakarta, tapi headquarter (HQ)
>    dari perusahaan2 yg mengolahnya masih tetap di Jakarta. Jakarta masih
>    terlalu digjaya dibandingkan kota2 lainnya di Indonesia utk menjadi lokasi
>    HQs, juga mungkin pengaruh power dari Senayan juga. Kota2 di luar Jakarta
>    juga mesti lebih kreatif utk bersaing dg Jakarta memikat HQs. Mesti ditiru
>    juga mungkin bagaimana kota2 di US bisa bersaing dg New York City.
>
> Sekian dulu dan terima kasih.
> Salam dari Savannah,
> Deden Rukmana
>
> PS:
> Saya sedang menyiapkan tulisan utk blog saya dan dari google search saya
> peroleh data bahwa proporsi ruang terbuka hijau di Jakarta terus menurun
> dari RUTR 1965 sampai ke Rencata Tata Ruang Jakarta terbaru. Mohon
> konfirmasi dari rekan yg barangkali mengetahuinya. Terima kasih.
>
>
>
> ------------------------------
> Never miss a thing. Make Yahoo your 
> homepage.<http://us.rd.yahoo.com/evt=51438/*http://www.yahoo.com/r/hs>
> 
>



-- 
Elkana Catur Hardiansah
CPMU USDRP-Planning Assistant Officer
http://catuy.blogspot.com

Kirim email ke