Halo, Sepemahaman saya, sektor swasta menjalankan bisnisnya dengan rasio tertentu. Citibank ogah buka cabang di Makassar? mengapa ini yg menjadi indikator bagi perencanaan publik? Mengapa kita jadi di-dikte oleh hirarki-nya Citibank?
Toh apa sih artinya Citibank tidak buka cabang... bukannya transaksi keuangan sudah bisa on-line ya jaman ini... Lagipula Citibank buka kantor cabang jangan-2 tujuannya adalah menyedot dana publik utk di-investasikan pada pembangunan di negara lain... di Indonesia cuma jualan kartu kredit yg hanya memperbesar konsumsi dan tidak meningkatkan produktifitas riil... apa iya Citibank gencar menyalurkan kredit utk UKM? Begitupula SOGO, Carrefour, dan simbol-2 kapitalis global lainnya... hanya menunjukkan betapa pola dan preferensi konsumsi kita sudah di-dikte oleh kapitalis yg eksploitatif. Di Jakarta pun Carrefour menjadi predator bagi pasar-2 tradisional... apa iya pedagang pasar tradisional di kota-2 lain juga harus ikut dibabat?? Harusnya kita mampu utk lebih 'Indonesia' dalam menentukan strategi pembangunan... perilaku konsumtif kota besar tidak perlu ditularkan ke kota-2 kecil lain atas nama pembangunan dan pengentasan kemiskinan... apalagi atas nama counter-magnet... Mau membuka peluang usaha?? Sebaiknya yg eksport oriented... yg mampu menembus pasar global.. bukan malah jadi tempat lemparan barang dari luar... Caranya?? bukan dengan memfasilitasi konsumsi barang import lewat SOGO.... tapi merangsang export... revisi tingkat pajak utk export dan ciptakan iklim investasi yg baik agar para pebisnis lebih semangat utk menembus pasar global.. dan bukan malah merelokasi industrinya ke VietNam, Kamboja, dll... salam, -K- Mengapa seperti reaksi pak Abimanyu... 'kota-kota' lalu seperti tentara'..... Karena Citibank.. Pfizer.. atau Carefour atau Sogo atau Bank Mandiri misalnya .... Memandang ...... Leuwiliang .... Bojonegoro... Medan...Tidore...Tual... bukanlah kota-kota yang dapat disejajarkan arti strategisnya..... Bahwa mengapa Citibank sampai hari ini hanya membuka kantor cabang di Jkt-Sby-Bdg-Medan-Smg-Denpasar.....Dan untuk jago saya 'Makassar' Citibank asem....Kenapa masih belum 'doyan' juga membuka kantor cabang disana...... Atau kenapa Sogo tak membuka cabang di Bojonegoro..... Ya itu karena begitulah ..... Dunia bisnis memang memandang kota-kota dan indeks kelengkapan atributnya atau indeks proporsi SDM dan tingkat pendapatannya dalam hirarkhi yang ketat........ On 3/16/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Milisters semuanya ysh, > * * > "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED] <[EMAIL PROTECTED]>> menulis > (tapi sepertinya sambil geregetan..hehe)..... : > * * > *+++: Eyang Aby ysh, cucu heran, kok 'kota' seperti tentara ya? > nah kalau 'desa' apa sama seperti pasukan gerilya ya? atau 'buto cakil' ? > lalu... hutan, laut dan pulau kosong kita ga punya status, jadi ga usah > dipikirin ...? oh nasib pelengkap penderita... .... > cucu cuma takut kota menjadi komoditi MLM, yang bermuara nun jauh di > sono.....maaf, sekali-sekali nyeleneh, boleh kan......? Wassalam, > > * > >>>: Hehe...bener khan ...... Kalo sampe ekologi nggak kesebut dalam tiap > wacana ruang .... Pak Abimanyu cucuku yang kritis itu pasti marah betul... > hehe... Padahal tempohari diposting saya Ibukota dan Countermagnet (2) > 06/03/08.... Saya sudah permisi ..... > *"....Telah didiskusikan bahwa penataan ruang dengan akan terus saja > memakai pendekatan klasik aspek tunggal profisik propasif ....... tak > akan lagi cukup memadai ....... maka tentu diperlukan reorientasi > baru...........* > *Menilik bahwa diperlukan pendekatan terpadu multi sektoral fisik, > ekonomi, sosial, demografik, interregional (geografik) dan tentu saja > ekologik... yang semuanya terangkum dalam enjinering keruangan.......dst..." > * > > >>>: Kalo soal 'tuduhan' menyamakan 'kota seperti tentara'.... lalu > 'desa seperti gerilyawan?'... atau 'butocakil'...dst... (pelengkap > penderita)..... Saya rasanya sudah pernah sampaikan tentang pandangan > 'Non-Salaryman Eye View' atas kota-kota...... yang jelas berbeda dengan 'PNS > Eye View'.. hehe.... > Titik tolaknya begini ..... > Dari total 235 juta penduduk Indonesia .... Menurut Menakertrans Erman > Suparno ........Yang disebut sebagai Tenaga Kerja adalah sebanyak107 juta > jiwa ........Yang nganggur saat ini10 juta jiwa... Dari sebanyak 97 juta > TKI itu ... 64 jutaTK bekerja disektor informal ... Hanya 33 juta jiwa > bekerja disektor formal ....Dan kita tahu .... Birokrasi kita totalnya saja > 4 juta jiwa...... dan entahlah ..... pak Abimanyu termasuk di yang 4 juta > jiwa itu atau yang dimana .. hehe... > Sebanyak 64 juta TK.. Atau sama dengan mayoritas kelas pekerja kita .... > Sebagai para pekerja disektor tidak modern atau sekedar nempel pada sektor > modern ...... Mereka secara mayoritas bukan termasuk 'salaryman' dengan > penghasilan yang tetap... Dan mau tak mau sangat bergantung hidupnya pada > mekanisme ekonomi ... Dimana saat ini ekonomi 'pemulihan' kita ... Juga > masih terhuyung-huyung... Bekas Krismon 1997-98 yang berkepanjangan...... > Demikian juga dengan sebanyak 33 juta TK disektor formal ....... Walau > banyak diantaranya adalah para salaryman dengan penghasilan tetap serta > status hubungan kerja permanen .. Yang nantinya ada juga yang bisa dapat > uang pensiun... tetapi Sektor formal ini juga mutlak tergantung pula > hidupnya dari mekanisme ekonomi nasional bahkan internasional yang > keras...... > Sebesar dan sebanyak apapun modal perusahaan swasta .. dengan mismanajemen > ia bisa saja tak lama bangkrut.... tetapi pemerintahan tak bisa bangkrut.... > Bila hari ini sebuah rezim jatuh ... pada menit berikutnya rezim baru > segera berdiri .... dan PNS terus menerus tetap saja diberada didalamnya > secara permanen.... walau majikan rezimnya datang-pergi silih > berganti...... > Demikian kokohnya permanent employment pada PNS ... sampai2 PNS bahkan > pensiun PNS... merasa tak perlu tahu atau tidak mau tahu tentang uang > gaji yangpermanen itu di DepKeu itu asalnya diperoleh darimana ....... > sampai-sampai bahkan ia bisa memastikan dirinya "bebas dari segala urusan > pergulatan hidup-matinya perekonomian negara dan masyarakat"....... > > Pegawai swasta atau sektor informal umumnya merasa perlu terus memantau > ... Apakah perusahaan tempat mereka bekerja masih sehat atau tidak manajemen > dan kinerjanya .... Apakah sumber keuangan untuk gaji mereka itu 'aman' atau > 'suram'....... Karena hidup mereka diliputi setengah bahkan 90% > ketidak-pastian......... > Kalo Deptrans PPH diciutkan misalnya ..... maka PNS didalamnya masih bisa > disebar seperti ke Depnakertrans.. ke DKP ... atau ke Departemen baru yang > dibentuk.... Pegawai swasta tidak bisa semudah itu...... > Nasib pegawai swasta tergantung pada hasil business plan dan hasilnya.... > dan itu terkait perekonomian dunia ...... > Maka kalo ada PNS atau salaryman 'sewot' bahwa 'wacana ekonomi' kok sampe > mau masuk keberbagai 'sendi kehidupan bangsa' ...... maka sebaliknya .... > dunia swasta dan sektor informal juga akan terheran-heran nggak habis pikir > ... kok ada ya .. dinegeri yang ekonominya amat sangat terpuruk ini.... > Dimana ada 10 juta TK nganggur... Kok ada orang yang 'economics phobia' > gitu.....hehe... > > Nah... cucuku pak Abimanyu .... pada perspektif 'bird eye view of big > mayority population of dunia swasta dan sektor informal' itulah saya > memandang sistem kota-kota secara nasional ...... > Dimana kalo untuk salaryman dan PNS .. kota-kota adalah sekedar 'just > some places for several days official or holiday visit and for having fun > with'........Maka sementara itu bagi dunia orang swasta dan sektor informal > ........Bagi para industrialis dan bisnisman yang harus menghidupi > perusahaan tempat bergantung sebagian besar dari 33 juta TK sektor formal > dan 64 juta TK sektor informal inilah..... Mereka terpaksa memandang > "kota-kota > adalah medan perang untuk hidup dan mati" dalam soal urusan 'distribusi, > sales dan survival'... Demi sesuap nasi.... bagi yang terlemah ..... dan > demi sebatang emas bagi yang kuat..... > Untuk hidup... Orang swasta harus menjual dulu jasa atau produk..... Harus > bersaing ketat dulu dengan banyak kompetitor... Atau kalo itu tak mungkin > .. Bahkan sementara terpaksa 'nganggur' dulu!...Sesuatu yang nyaris tak akan > menyentuh kehidupan sehari-hari PNS...... > > Mengapa seperti reaksi pak Abimanyu... 'kota-kota' lalu seperti > tentara'..... > Karena Citibank.. Pfizer.. atau Carefour atau Sogo atau Bank Mandiri > misalnya .... Memandang ...... Leuwiliang .... Bojonegoro... > Medan...Tidore...Tual... bukanlah kota-kota yang dapat disejajarkan arti > strategisnya..... > Bahwa mengapa Citibank sampai hari ini hanya membuka kantor cabang di > Jkt-Sby-Bdg-Medan-Smg-Denpasar.....Dan untuk jago saya 'Makassar' Citibank > asem....Kenapa masih belum 'doyan' juga membuka kantor cabang > disana...... Atau kenapa Sogo tak membuka cabang di Bojonegoro..... Ya itu > karena begitulah ..... Dunia bisnis memang memandang kota-kota dan indeks > kelengkapan atributnya atau indeks proporsi SDM dan tingkat pendapatannya > dalam hirarkhi yang ketat........ > > Desa bukan 'pasukan gerilya' atau 'buto cakil' .... tetapi saya > menempatkannya sangat mulia ... seperti nanti kalo mas Catur dan pak Eka > jadi ngadain acara kopi darat .... Katanya kompilasi lama saya Seri 07 > 'Kota Pusat Layan Desa' akan dibagikan (door prize?) ....... Kalo anda hadir > dan kebetulan mendapatkannya..... anda akan mendapatkan bgmn saya amat > demikian melebur dengan desa...... > Kalo untuk hutan, laut, pulau yang kosong .... nanti kalo pak Eka sudah > berkenan mengeluarkan kompilasi saya Seri 08 "Agenda Perencanaan Ruang di > Perbatasan".... nanti pak Abim boleh percaya bahwa saya juga tak pernah > anggap itu 'pelengkap penderita'...... > Jadi jangan 'heran' (atau geregetan?) lagi ame kakek ya cuk?..... > hehe... > > Sementara demikian dan salam, > aby > . > > > -- Harya Setyaka Duren Tiga Selatan 89 Jakarta Selatan 12760 +62 21 92771862 +62 21 7997039 INDONESIA

