Halo... Saya tidak anti investasi asing... justru itu saya sgt prihatin FDI-net kita negatif... Duit orang Indo malah di-invest ke luar.
OK.. dengan kartu kredit bisa beli HP sebelum gajian.. tapi apa hubungannya dengan 10 juta penganggur? apa penganggur diuntungkan oleh kartu kredit? setahu saya target bisnis kartu kredit adalah pekerja tetap, berpendapatan tetap? Jgn terlalu naif lah berasumsi bahwa dengan HP baru, dan lain-2 produktifitas meningkat... yg jelas makin banyak uang keluar utk kegiatan konsumtif, makin sedikit yg di-re-invest utk sektor produktif. Please dont confuse extractive capitalism with technological advancement... Sy anti penjajahan... artinya kalau orang Papua dan Aceh merasa dijajah.. maka mereka berhak memerdekakan diri.. sama seperti kita berhak memerdekakan diri dari sikap inferior terhadap orang asing.. Itu lah yg saya amini dalam nasionalisme.. bukan Wawasan Nusantara (nasionalisme teritorial) dan produk-2 propaganda LEMHANAS dll.. Nasionalisme saya... bukan nasionalisme sempit... mohon dimengerti. Saya setuju dengan pemberantasan korupsi dan good governance... itu sine qua non. jangan korbankan kaum yg paling miskin demi Image... mari kita lebih bijaksana... jgn korbankan pedagang kecil demi image modernitas palsu yg ditawarkan... katanya mau mengurangi pengangguran... kok malah melibas pedagang kecil... kenapa energi-nya ga dipake utk memberdayakan mereka... agar mereka bisa bersaing... bukan memberi ruang buat swalayan bermodal besar... jangan naif kita bisa mengatur lokasi Carrefour dsb.. buktinya gagal kok.. Memfasilitasi pembelian barang impor bukan lah ide yg paling baik.. Kenapa ga upayakan agar expatriat membeli barang produksi dalam negeri? Kok mencari pembenaran bahwa barang impor dibeli expatriat?? Apa betul mayoritas konsumen barang impor adalah expat? Asumsinya berlebihan aah.. Kalau pun betul, kita justru harus upayakan agar Expat mengkonsumsi barang produksi dalam negeri.. ini baru yg bisa mengurangi pengangguran.. Import... artinya mengurangi pengangguran di luar negeri dimana produk tsb diproduksi... kesempatan kerja yg dibuat di Indonesia ga sebanding dengan yg di luar... Import mungkin bisa diterima... tapi kalau memang tujuan sejati adalah meningkatkan produktifitas dan membuka peluang kerja.. maka ekspor dong... Memang tidak bisa melarang import... tapi bisa kan mengupayakan expor ketimbang mengamini import? Mengekspor TKI menurut saya bukan suatu pertanda terjajah... Mereka berhak atas kemerdekaan ekonomi juga kan? tokh memang kenyataannya banyak juga TKI yg bisa jadi manajer di perusahaan asing... mungkin bisa lebih efektif mengurangi pengangguran.. tks. -K- _______________________________________________________________________________ Milister ysh, Lanjutan diskusi dengan mas Koko: * * *+++: di Indonesia cuma jualan kartu kredit yg hanya memperbesar konsumsi dan tidak meningkatkan produktifitas riil... * *apa iya Citibank gencar menyalurkan kredit utk UKM?* >>>: Iya ..pandangan itu sebagiannya betul.... Satu pandangan lain : kartu kredit adalah bagian dari life style.... Dan tentang hubungannya dengan produktivitas....... Ini tergantung inidividunya ..... Kalo gesek kartunya untuk maksud ingin lebih produktip....Bisa saja ini bermakna positip..... Misalnya saja .... Ingin ganti HP terbaru uang belum ada atau gaji belum cukup.... Dengan HP baru... Baju baru.. komputer baru .. jam tangan baru... Bisa saja produktivitas seseorang akan meningkat karena hati gembira.... Ada rasa nyaman dan percaya diri yang lebih besar ..... dsb..... Tentang kredit Citibank utk UKM?.... Ada lho mas!.... KTA : Kredit Tanpa Agunan sampai 200 juta rp.... Kalo soal penyalurannya gencar atau nggak ... Semua bank juga tergantung pada kelayakan debitornya ... Bukan asal kreditnya harus ngocor saja... (wah saya lama2 spt officer citibank saja ngomongnya ...hehe..)... Tapi sekali lagi ... Citibank (Dateng gak diundang.. pulang gak dianter) bukan bagian dari upaya sumber keuangan pembangunan UKM kita..... Dan Citibank dll. Sebagai bagian dari Fortune 500 atau 2000 ini sekedar contoh indikator sederhana saja tentang "jasa tingkat tinggi kota".. Apakah suatu kota besar kita itu "dari suatu sudut pandang tertentu" sudah cukup 'menyenangkan' atau belum...... Dengan indikator yang obyektip, sederhana (dan internasional?) ... orang (perencana kota) bisa tahu hasil kerjanya (ttg kwalitas suatu kota besar) sudah sampai mana..... dan mutunya bagaimana........ Toyota Motor juga bagian dari Fortune 500 itu... tetapi produknya walau per unitnya harganya selangit .. namun tidak melulu untuk kota saja .. produk truk dan alat beratnya justru banyak dipakai dipedalaman dan dipedesaan .. jadi tidak bisa dipakai untuk contoh "indikator kehadiran jasa tingkat tinggi 'khas' dikota besar"..... * * *+++Begitupula SOGO, Carrefour, dan simbol-2 kapitalis global lainnya... * *hanya menunjukkan betapa pola dan preferensi konsumsi kita sudah di-dikte oleh kapitalis yg eksploitatif.* >>>: Kapitalis mau eksploitatif atau nggak .... Tapi nyatanya anda bisa nggak sih...Hidup tanpa itu?...... Tanpa teve?...Tanpa internet?.. Tanpa HP?... Tanpa AC?... Apa anda juga masih tetap setia belanja dipasar tradisional naik sepeda atau becak dan nggak pernah nginjek segala mal2 itu?.... Atau ke LN atau kekota2 dipulau2 Indonesia masih naik kapal layar pinisi?.....** * * *+++Di Jakarta pun Carrefour menjadi predator bagi pasar-2 tradisional. .. apa iya pedagang pasar tradisional di kota-2 lain juga harus ikut dibabat??* >>>: Carrefour dan hypermart lainnya tak akan beroperasi disebarang kota secara asal2an...... Setidaknya dipilih hanya kota2 metropolitan dan kawasan sekitarnya yang potensial..... Itupun ditiap kota masih dipilih lagi lokasi2 strategis pada tiap kotanya...... Tak mungkin setiap orang akan selalu berbelanja hanya di Carrefour saja..... Banyak pertimbangan untuk orang juga tetap akan berbelanja dipasar, warung atau toko terdekat.... Apalagi kalo hanya pake sandal jepit, daster dan belum mandi...... Carrefourpun tidak sendirian.... Ia harus bersaing ketat pula dengan Giant .... Hypermart... Makro... Superindo .... Hero.. dsb...... Siapa yang lemah mati...... Fighting of the fittest kata orang ekonomi....... Dibalik semua ini adalah.... Masalah Distribusi.... Banyak barang industri... yang dibalik itu ada ribuan buruh yang bekerja didalamnya .... Dengan supermarket raksasa ... bermacam barang memperoleh tempat memajangnya yang strategis dan mudah..... Termasuk disitu barang2 besar seperti spring bed.. lemari...... dsb. yang diwarung2 dikampung akan sulit dipajang...... Berbelanja one stop shopping.. Pada ruang yang mewah dan bersih.. Bahkan dimalam hari.... Tanpa laler dan cipratan lumpur ...Tanpa bau menyengat got mampet dan tumpukan sampah ... Untuk segala macam barang... Plus rekreasi ... Tidaklah bisa para industrialis pusat belanja dan konsumen itu dipersalahkan ..... Dibalik semua ini adalah juga... Employment..... Anak2 muda-mudi pemilik warung toko tradisional juga bisa bekerja disana...... Pemilik warung yang sepi pembeli bisa beralih membeli saham..... Yang masih mau lanjut dan bila segala sesuatunya strategis .... Masih ada saja produsen yang berminat menitip menaruh barang .... Karena toko adalah bagaimanapun merupakan spatial capital....... Carrefour tak akan beroperasi di Rengasdengklok, Sukamandi atau di Wonosobo....... * * *+++Harusnya kita mampu utk lebih 'Indonesia' dalam menentukan strategi pembangunan..... * >>>: Wah seneng saya dengarnya... Sekarang nasionalismenya mas Koko hebat ya... Sudah mana sampai mana?.....Atau masih Sabang Merauke minus mana?..... Atau sudah mulai penuh dari Sabang sampai Merauke?.. Syukurlah........ Sebab terakhir dulu kok kalo gak salah masih nggak sreg dengan Sabang sampai Merauke gitu apa ya?... Dan utk strategi perluasan kesempatan kerja pada diskusi terakhir kita dulu kalo gak salah anda masih prefer ekspor TKI trampil gitu ya?.. hehe.. Kalo pengin 'sangat Indonesia' ... Rasanya dimasa Soekarno waktu anda belum lahirdulu... Kita pernah juga .......... Kalo strategi pembangunan dengan warna perekonomian liberal, berwatak 'Pancasila' sekaligus sangat korup dan tidak ada kepastian hukum..... Kita pernah juga mengalaminya pula dimasa orba..... Kalo strategi pembangunan yang tidak korup dan dengan kepastian hukum serta menyegerakan perluasan kesempatan kerja .... Entahlah.. Apa itu termasuk "lebih Indonesia " atau nggak.... saya nggak ngerti... Dan apakah kita sekarang ini sudah mengalaminya atau belum?..... Saya juga gak tahu...... Yah.. kalo soal strategi pembangunan yang the best baiknya bagaimana... itu saya serahkan ke mas Koko saja deh .. saya nggak ngerti soal itu....pokoknya tolong perluasan kesempatan kerja dinomor-1-kan.... Bahwa saya masih bicara 'perkulian' (maaf, ini khusus istilah 'employment' kalo saya sedang diskusi dengan mas Koko saja).... bahkan untuk PMA di Indonesia..... Pertama ... Dinegara maju sekalipun..... Bukanlah suatu kehinaan .. bahwa penduduknya bekerja untuk perusahaan asing ....... Yang penting upahnya layak... Negaranya maupun PMAnya itu punya kepastian hukum.....Tidak amat korup...... Dan negara juga diuntungkan dengan kehadiran perusahaan asing ............. Kedua .... Dengan proses pembangunan orba sampai 6 Pelita dan hutang lunak LN sangat besar ... Kita malah krisis... Maka angka pengangguran 10 juta TK adalah masalah utama bangsa hari ini yang gawat........ Entahlah kalo kata anda......... Maka upaya perluasan kesempatan kerja... Bareng dengan pemberan-tasan korupsi serta kepastian penegakan hukum adalah menurut saya prioritas utama pembangunan........... Kalo angka pengangguran sudah turun menjadi 'normal' 4%.... Silahkanlah mau mengatur strategi pembangunan macam apa... mau "lebih Indonesia" .. atau mau "sangat Indonesia"..... Silahkanlah .... saya nggak ngerti.... *+++perilaku konsumtif kota besar tidak perlu ditularkan ke kota-2 kecil lain atas nama pembangunan dan pengentasan kemiskinan.. . apalagi atas nama counter-magnet. .. * >>>: Perilaku konsumtip itu umumnya diimbangi dengan perilaku produktip..... Atau perilaku konsumtip adalah hasil dari produktivitas..... Dan itu saya kira manusiawi dan normal...... Yang samasekali tidak pernah boleh ditular-tularkan adalah perilaku immoral........ Orang dikota kecil dan desa bukanlah orang2 primitip yang harus hidup seperti dizaman batu.... Tidak beli baju... Tidak harus sekolah ...Kemana-mana harus jalan kaki atau naik kuda .... Dengan UU Wajib belajar ...orang desa yang tidak menyekolahkan anaknya saja bisa dihukum...... Karenanya maka orang desa dan kota kecil bukanlah orang-orang primitif....... Mereka adalah orang2 yang harus bekerja ... Atau ingin bekerja tetapi 10 juta TKI dari antara mereka kini menganggur ... Dan maka itu memerlukan juga sumbangan pemikiran anda tentang sains planning untuk penciptaan perluasan kesempatan kerja..... Selain juga perlunya "lirikan tajam ke BKKBN" atas birth control yang tak seimbang dengan upaya perluasan kesempatan kerja...... Orang akan berperilaku konsumtip sepanjang ia memiliki uang lebih ... Kalau tidak ..Apanya yang mau dipakai untuk konsumtip?........ Daerah tertinggal justru memerlukan orang-orang yang berperilaku 'konsumtip'...... Yang artinya untuk itu bahkan perlu diupayakan skenario migrasi masyarakat berpenghasilan lebih menuju wilayah demikian .... Dengan 'perilaku konsumtip'nya yang "menurut mas Koko adalah buruk itu" .... Diharapkan masyarakat dikawasan tertinggal justru akan menerima dampak positipnya .... Ialah bahwa pola konsumsi dari masyarakat berpenghasilan lebih itu justru akan menggerakkan perekonomian wilayah... Dan perluasan kesempatan kerja diwilayah.... Saya tidak melihat kaitan antara upaya "menegakkan 'sistem hirarkhi kota' dan 'Prinsip Jarak antar kota' secara nasional" dengan kalimat nasehat mas Koko : "*perilaku konsumtif kota besar tidak perlu ditularkan ke kota-2 kecil lain atas nama pembangunan dan pengentasan kemiskinan".......* * * *+++Mau membuka peluang usaha?? Sebaiknya yg eksport oriented... yg mampu menembus pasar global..* *bukan malah jadi tempat lemparan barang dari luar...* *Caranya?? bukan dengan memfasilitasi konsumsi barang import lewat SOGO.... tapi merangsang export... * >>>: Untuk masyarakat perencanaan .. Saya kira pertanyaannya yang lebih penting adalah "*Mau memperluas kesempatan kerja*?"... Dan bukannya pertanyaan "*Mau membuka peluang usaha??"..... "Mau ekspor?"....* Karena 2 yang terakhir itu saya kira akan lebih tepat untuk porsinya orang ekonomi..... Sedangkan yang pertama akan cukup tepat menjadi porsinya orang perencanaan....Bersama dengan orang ekonomi atau pelaku usaha...... Mereka harus concern pada produktivitas ekonomi... Dan masyarakat perencanaan saya kira wajib melakukan dukungan untuk kemudahan perkembangan aktivitas ekonomi dengan melalui enjinering keruangannya ........... Tentang barang dari luar masuk ke Indonesia?..... Wow.. kalau semangatnya adalah untuk nantinya sampai di Indonesia akan dijiplak dan akan kita produksi.... tentu itu bagus sekali ...... Memang kalo bangsa kita gila membeli barang impor.. itu namanya tidak nasionalis... Dan sistem pasar bebas saya kira tidak boleh melarang2 orang mau impor...... Nasionalisme dan kesadaran memakai produk nasional saya kira memerlukan kampanye tersendiri .... Barang impor lewat Sogo?..... Kalo yang membeli para expatriat... Apa salahnya?....... Daripada barang demikian tidak ada disini lalu mereka belinya di Singapura?.... Lalu orang asing itu bilang Jkt 'kampungan'... Nggak jual barang mewah... Khan kita malah lebih gondok lagi?.... Kalo disini kan dari Sogonya saja kita sudah dapat employment atau perkuliannya .... Belum lagi nilai dan dampak ganda dari konstruksi toko dan interiornya... Lalu setoran pajaknya ... Imej bahwa jasa kota kita 'lumayan komplit' nggak kampungan amat... Lumayan khan?..... *+++revisi tingkat pajak utk export dan ciptakan iklim investasi yg baik agar para pebisnis lebih semangat utk menembus pasar global..* *dan bukan malah merelokasi industrinya ke VietNam, Kamboja, dll... * >>>: Nah.. Saya kira kiat-kiat kegiatan ekspor ini adalah nasehat yang tepat dari mas Koko untuk para pelaku bisnis atau untuk masyarakat ekonomi .... Tapi bukan untuk masyarakat perencanaan.... hehe.. Terimakasih banyak atas tanggapannya dan kesempatan diskusinya... Sementara demikian dan salam, aby** On 3/24/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > -- Harya Setyaka Duren Tiga Selatan 89 Jakarta Selatan 12760 +62 21 92771862 +62 21 7997039 INDONESIA

