[EMAIL PROTECTED], [email protected]
   
   
  Milisters semuanya  ysh,
   
  +++Halo,
   >>>: Wah mas Koko sudah lama ngilang ... kemana aja?..... Tanpa anda .. 
milis jadi sepi lho!.....
  Sekedar mengingatkan kembali...Rangkaian diskusi kita ini adalah dalam kaitan 
dengan keadaan genting ... Bagaimana menciptakan perluasan kesempatan kerja 
bagi 10 juta penganggur.... Dan bgmn menciptakan sistem kota secara nasional 
yang terpadu ... Yang hirarkhi serta prinsip jaraknya antar kota agar menjadi 
ideal ..... Hingga dengan demikian memudahkan  optimalisasi pengembangan 
aktivitas ekonomi dan employment...... Dan wilayah tertingal agar menjadi 
maju........
   
  +++Sepemahaman saya, sektor swasta menjalankan bisnisnya dengan rasio 
tertentu.
   >>>: Ya, setuju.......
   
  +++Citibank ogah buka cabang di Makassar? mengapa ini yg menjadi indikator 
bagi perencanaan publik?  Mengapa kita jadi di-dikte oleh hirarki-nya Citibank? 
Toh apa sih artinya Citibank tidak buka cabang... 
  bukannya transaksi keuangan sudah bisa on-line ya jaman ini...
   >>>: Banyak kota didunia  berlomba-lomba berbenah... bergincu mempercantik 
diri .. Bersopan-sopan dan beramah-ramah pada investor....... Berharap para 
investor perusahaan besar sudi menanam modalnya dikota mereka .... 
  Dengan itu para nasionalis dikota-kota yang sangat mencintai bangsa mereka 
masing2 itu berharap... Mudah2an rakyat dari kota-kota mereka  itu sedikitnya 
dapat bekerja menguli kepada para perusahaan raksasa itu ... 
  Dari para pekerja lokal.. Selain yang golongan krucuk dengan upah UMR... Ada 
sebagian kecil yang  diangkat menjadi kelas chief atau  manajer... Yang gaji 
atau penghasilannya akan lumayan besar dibanding dengan UMR.......
  Dengan itu lalu mereka bisa memiliki daya beli yang bagus ... Bisa nyicil 
rumah... mobil .. kulkas... belanja sayurnya bukan tempe dan bayem saja .. tapi 
juga  daging, ikan ...makan direstoran....  bisa menabung.. dsb. .... 
  Dengan itu lalu dampak dari potensi pola konsumsinya akan merembet kepada 
berkembangnya kehidupan ekonomi diberbagai sektor lainnya ... Termasuk juga 
sektor informal..... Ini adalah  alasan untuk  yang disektor perkuliannya...... 
 
  Semakin banyak perusahaan..... Akan semakin banyak manajernya yang berupah 
diatas UMR dengan daya beli dan pola konsumsi yang ”bagus”.... Yang ini akan  
menggerakkan perekonomian nasional kita......
  Disektor teknologi : dari berbagai bidang kegiatan dari para perusahaan besar 
itu ....pada akhirnya akan terjadi ‘transfer teknologi’..... baik dibidang 
manajemen.... dibidang teknologi...dsb.....
  Pada saatnya beberapa dari pekerja dengan upah diatas UMR itu  akan 
berwiraswasta.... Dengan bekal  teknologi dan keahlian manajemen  hasil 
transfer itu ........
  Disektor konstruksi : para perusahaan investor akan memerlukan office 
space....  Terbiasa dengan arsitektur yang baik dinegara kampung halaman mereka 
.... Disini kantor2 juga interiornya ditata dengan apik dengan biaya mahal..... 
Ini memberi kesempatan kerja pada sektor konstruksi.... Industri bahan 
bangunan.. Pekerja konstruksi... Pekerja  interior... dsb..........
  Disektor pemasukan uang negara :  mereka juga membayar pajak.......
  Perusahaan-perusahaan besar dunia seperti Top Fortune 500.. atau Fortune 2000 
... yang mengklasifikasikan urutan perusahaan terbesar dunia berdasar jumlah 
keuntungannya.. jumlah modalnya..  atau jumlah karyawannya ..... sering menjadi 
indikator tentang seberapa sebuah kota sangat disukai oleh investor atau tidak 
...... Dengan cara melihat ... Berapa banyak dari Fortune 500 atau Fortune 2000 
itu memiliki kantor tetapnya disuatu negara... Atau lebih spesiifiknya disuatu 
kota....... 
  Nederland misalnya.... Pada 1994 membukukan catatan bahwa sebanyak 150 dari 
top 300 perusahaan besar dunia berkantor tetap disana ......... Ini menunjukkan 
bahwa Nederland dan kota-kotanya  sangat menarik bagi investasi ..... Rakyatnya 
untung ... Baik dari perkuliannya..... Investasinya..... Maupun dari transfer 
teknologinya......
  Kantor-kantor Citibank dalam posting saya hanya salah satu indikator 
saja...... Untuk melihat seberapa jauh kota-kota besar kita menarik atau tidak 
menarik .. Atau telah memenuhi syarat atau belum bagi investasi kantor-kantor 
cabang operasi mereka di Indonesia....... 
   
  +++Lagipula Citibank buka kantor cabang jangan-2 tujuannya adalah menyedot 
dana publik utk di-investasikan pada pembangunan di negara lain... 
   >>>: Tentang dugaan mas Koko  “...Citibank buka kantor cabang jangan-2 
tujuannya adalah menyedot dana publik utk di-investasikan pada pembangunan di 
negara lain...’ mudah2an ini nggak didengar oleh orang Citibank.... Kalo nggak 
kita bisa malu akh.... 
  Dengan modal 247.4 milyar dollar dan menjadi perusahaan terbesar didunia... 
..... Dan tahu kalo kita negara miskin banyak hutang.... Saya kira enggak 
laah.. kalo Citibank masih doyan mau ngincer dana publik kita untuk operasional 
mereka...... Lha kalo bank2 eks BLBI kita itu  rakus sekali  ngincer uang 
rakyat dan uang pemerintah...... Nha itu baru saya percaya sepenuhnya........ 
(bersambung)...
   
  Sementara demikian dulu dan salam,
  aby


Harya Setyaka <[EMAIL PROTECTED]> wrote:             
   
  Halo,
   
  Sepemahaman saya, sektor swasta menjalankan bisnisnya dengan rasio tertentu.
  Citibank ogah buka cabang di Makassar? mengapa ini yg menjadi indikator bagi 
perencanaan publik?
  Mengapa kita jadi di-dikte oleh hirarki-nya Citibank?
   
  Toh apa sih artinya Citibank tidak buka cabang... 
  bukannya transaksi keuangan sudah bisa on-line ya jaman ini...
   
  Lagipula Citibank buka kantor cabang jangan-2 tujuannya adalah menyedot dana 
publik utk di-investasikan pada pembangunan di negara lain... di Indonesia cuma 
jualan kartu kredit yg hanya memperbesar konsumsi dan tidak meningkatkan 
produktifitas riil... 
  apa iya Citibank gencar menyalurkan kredit utk UKM?
   
  Begitupula SOGO, Carrefour, dan simbol-2 kapitalis global lainnya... 
  hanya menunjukkan betapa pola dan preferensi konsumsi kita sudah di-dikte 
oleh kapitalis yg eksploitatif.
   
  Di Jakarta pun Carrefour menjadi predator bagi pasar-2 tradisional... apa iya 
pedagang pasar tradisional di kota-2 lain juga harus ikut dibabat??
   
  Harusnya kita mampu utk lebih 'Indonesia' dalam menentukan strategi 
pembangunan... 
  perilaku konsumtif kota besar tidak perlu ditularkan ke kota-2 kecil lain 
atas nama pembangunan dan pengentasan kemiskinan... apalagi atas nama 
counter-magnet... 
   
  Mau membuka peluang usaha?? Sebaiknya yg eksport oriented... yg mampu 
menembus pasar global..
  bukan malah jadi tempat lemparan barang dari luar...
  Caranya?? bukan dengan memfasilitasi konsumsi barang import lewat SOGO.... 
tapi merangsang export... 
  revisi tingkat pajak utk export dan ciptakan iklim investasi yg baik agar 
para pebisnis lebih semangat utk menembus pasar global..
  dan bukan malah merelokasi industrinya ke VietNam, Kamboja, dll...
   
  salam,
  -K-
   
   
   
   
    Mengapa seperti reaksi pak Abimanyu... 'kota-kota'  lalu seperti  
tentara'..... Karena Citibank.. Pfizer.. atau Carefour atau Sogo atau Bank 
Mandiri misalnya .... Memandang ...... Leuwiliang .... Bojonegoro... 
Medan...Tidore...Tual...  bukanlah kota-kota yang dapat disejajarkan arti 
strategisnya.....
  Bahwa mengapa Citibank sampai hari ini hanya membuka kantor cabang di 
Jkt-Sby-Bdg-Medan-Smg-Denpasar.....Dan untuk jago saya 'Makassar' Citibank 
asem....Kenapa masih belum 'doyan'  juga membuka kantor cabang disana...... 
Atau kenapa Sogo tak membuka cabang di Bojonegoro..... Ya itu karena begitulah 
..... Dunia bisnis memang memandang kota-kota  dan indeks kelengkapan 
atributnya atau  indeks proporsi SDM dan tingkat pendapatannya  dalam hirarkhi 
yang ketat........ 
   

  

 
  On 3/16/08, hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:                 
Milisters semuanya ysh, 
   
  "abimanyu takdir alamsyah" <[EMAIL PROTECTED]>  menulis  (tapi sepertinya 
sambil geregetan..hehe)..... :
   
  +++: Eyang Aby ysh, cucu heran, kok 'kota' seperti tentara ya?
nah kalau 'desa' apa sama seperti pasukan gerilya ya? atau 'buto cakil' ?
lalu... hutan, laut dan pulau kosong kita ga punya status, jadi  ga usah  
dipikirin ...? oh nasib pelengkap penderita... .... 
cucu cuma takut kota menjadi komoditi MLM, yang bermuara nun jauh di 
sono.....maaf, sekali-sekali nyeleneh, boleh kan......? Wassalam,


  >>>: Hehe...bener khan ...... Kalo sampe ekologi nggak kesebut dalam tiap 
wacana ruang .... Pak Abimanyu cucuku yang kritis itu pasti marah  betul... 
hehe... Padahal tempohari diposting saya Ibukota dan Countermagnet (2) 
06/03/08....  Saya sudah permisi ..... 
  "....Telah didiskusikan bahwa penataan ruang  dengan akan terus saja memakai 
pendekatan klasik  aspek tunggal profisik propasif .......  tak akan lagi cukup 
memadai ....... maka tentu diperlukan reorientasi baru...........
  Menilik bahwa diperlukan pendekatan terpadu multi sektoral fisik, ekonomi, 
sosial, demografik, interregional (geografik) dan tentu saja ekologik... yang 
semuanya terangkum dalam enjinering keruangan.......dst..."
   
  >>>: Kalo soal  'tuduhan'  menyamakan 'kota seperti tentara'.... lalu 'desa 
seperti gerilyawan?'... atau 'butocakil'...dst... (pelengkap penderita)..... 
Saya rasanya sudah pernah sampaikan tentang pandangan 'Non-Salaryman Eye View' 
atas kota-kota...... yang jelas berbeda dengan 'PNS Eye View'.. hehe.... 
  Titik tolaknya begini ..... 
  Dari total 235 juta penduduk Indonesia .... Menurut Menakertrans  Erman 
Suparno ........Yang disebut sebagai Tenaga Kerja adalah sebanyak107 juta jiwa 
........Yang nganggur saat ini10 juta jiwa...  Dari sebanyak 97 juta TKI itu 
... 64 jutaTK bekerja disektor informal ... Hanya 33 juta jiwa bekerja disektor 
formal ....Dan kita tahu .... Birokrasi kita totalnya saja  4 juta jiwa...... 
dan entahlah ..... pak Abimanyu termasuk di yang 4 juta jiwa itu atau yang 
dimana  .. hehe... 
  Sebanyak 64 juta TK.. Atau sama dengan mayoritas kelas pekerja kita .... 
Sebagai para pekerja disektor tidak modern atau sekedar nempel pada sektor 
modern ...... Mereka secara mayoritas bukan termasuk 'salaryman' dengan 
penghasilan yang tetap... Dan mau tak mau sangat bergantung hidupnya pada 
mekanisme ekonomi ... Dimana saat ini ekonomi  'pemulihan' kita ... Juga masih 
terhuyung-huyung... Bekas Krismon 1997-98 yang berkepanjangan......
  Demikian juga dengan sebanyak 33 juta TK disektor formal ....... Walau banyak 
diantaranya adalah para salaryman dengan penghasilan tetap serta status 
hubungan  kerja permanen .. Yang nantinya ada juga yang bisa dapat uang 
pensiun... tetapi Sektor formal ini juga mutlak tergantung  pula hidupnya dari 
mekanisme ekonomi nasional bahkan internasional  yang keras......
  Sebesar dan sebanyak apapun modal perusahaan swasta .. dengan mismanajemen ia 
bisa saja tak lama bangkrut.... tetapi pemerintahan tak bisa bangkrut....
  Bila hari ini sebuah rezim jatuh ... pada menit berikutnya rezim baru segera 
berdiri .... dan PNS terus menerus tetap saja diberada didalamnya secara  
permanen.... walau majikan rezimnya datang-pergi silih berganti...... 
  Demikian kokohnya permanent employment pada PNS ... sampai2  PNS bahkan 
pensiun PNS...  merasa tak perlu tahu atau tidak mau tahu tentang uang gaji 
yangpermanen itu di DepKeu itu asalnya diperoleh darimana ....... sampai-sampai 
bahkan ia bisa memastikan dirinya "bebas dari segala urusan pergulatan 
hidup-matinya perekonomian negara dan masyarakat".......
   
  Pegawai swasta atau sektor informal  umumnya merasa perlu  terus memantau ... 
Apakah perusahaan tempat mereka bekerja masih sehat atau tidak manajemen dan 
kinerjanya .... Apakah sumber keuangan untuk gaji mereka itu 'aman' atau 
'suram'....... Karena hidup mereka diliputi setengah bahkan 90% 
ketidak-pastian.........
  Kalo Deptrans PPH diciutkan misalnya ..... maka PNS didalamnya masih bisa 
disebar seperti ke Depnakertrans.. ke DKP ... atau ke Departemen baru yang 
dibentuk.... Pegawai swasta tidak bisa semudah itu...... 
  Nasib pegawai swasta tergantung pada hasil business plan dan hasilnya.... dan 
itu terkait perekonomian dunia ......
  Maka kalo ada PNS atau salaryman 'sewot' bahwa  'wacana ekonomi' kok sampe 
mau masuk keberbagai 'sendi kehidupan bangsa' ...... maka sebaliknya .... dunia 
swasta dan sektor informal juga akan terheran-heran nggak habis pikir ... kok 
ada ya .. dinegeri yang ekonominya amat sangat terpuruk ini.... Dimana ada 10 
juta TK nganggur... Kok ada orang  yang 'economics phobia' gitu.....hehe... 
   
  Nah... cucuku pak Abimanyu .... pada perspektif  'bird eye view of big 
mayority population of dunia swasta dan sektor informal'  itulah saya memandang 
sistem kota-kota secara nasional ......  
  Dimana kalo untuk salaryman dan PNS  .. kota-kota adalah sekedar  'just some 
places for several days official or holiday visit and for having fun 
with'........Maka sementara itu bagi dunia orang swasta dan sektor informal 
........Bagi para industrialis dan bisnisman yang harus menghidupi perusahaan 
tempat bergantung sebagian besar dari  33 juta TK sektor formal dan 64 juta TK 
sektor informal inilah..... Mereka terpaksa memandang  "kota-kota adalah medan 
perang untuk hidup dan mati" dalam soal urusan  'distribusi, sales dan 
survival'... Demi sesuap nasi.... bagi yang terlemah ..... dan demi sebatang 
emas bagi yang kuat.....  
  Untuk hidup... Orang swasta harus menjual dulu jasa atau produk..... Harus 
bersaing ketat dulu dengan  banyak kompetitor... Atau kalo itu tak mungkin .. 
Bahkan sementara terpaksa 'nganggur' dulu!...Sesuatu yang nyaris tak akan 
menyentuh kehidupan sehari-hari  PNS......
   
  Mengapa seperti reaksi pak Abimanyu... 'kota-kota'  lalu seperti  
tentara'..... Karena Citibank.. Pfizer.. atau Carefour atau Sogo atau Bank 
Mandiri misalnya .... Memandang ...... Leuwiliang .... Bojonegoro... 
Medan...Tidore...Tual...  bukanlah kota-kota yang dapat disejajarkan arti 
strategisnya.....
  Bahwa mengapa Citibank sampai hari ini hanya membuka kantor cabang di 
Jkt-Sby-Bdg-Medan-Smg-Denpasar.....Dan untuk jago saya 'Makassar' Citibank 
asem....Kenapa masih belum 'doyan'  juga membuka kantor cabang disana...... 
Atau kenapa Sogo tak membuka cabang di Bojonegoro..... Ya itu karena begitulah 
..... Dunia bisnis memang memandang kota-kota  dan indeks kelengkapan 
atributnya atau  indeks proporsi SDM dan tingkat pendapatannya  dalam hirarkhi 
yang ketat........ 
   
  Desa bukan 'pasukan gerilya' atau 'buto cakil' .... tetapi saya 
menempatkannya sangat mulia ... seperti nanti kalo mas Catur dan pak Eka jadi 
ngadain acara kopi darat .... Katanya  kompilasi lama saya Seri 07 'Kota Pusat 
Layan Desa' akan dibagikan (door prize?) ....... Kalo anda hadir dan kebetulan 
mendapatkannya.....  anda akan mendapatkan bgmn saya amat demikian melebur 
dengan desa......
  Kalo untuk hutan, laut, pulau yang kosong .... nanti kalo pak Eka sudah 
berkenan mengeluarkan kompilasi saya  Seri 08 "Agenda Perencanaan Ruang di 
Perbatasan".... nanti pak Abim  boleh percaya bahwa saya juga tak pernah anggap 
itu 'pelengkap penderita'......
  Jadi jangan 'heran' (atau  geregetan?)  lagi ame kakek ya cuk?..... hehe...
   
  Sementara demikian dan salam,
  aby
  


  .

 





-- 
Harya Setyaka
Duren Tiga Selatan 89
Jakarta Selatan 12760
+62 21 92771862
+62 21 7997039
INDONESIA   

                           

       
---------------------------------
Never miss a thing.   Make Yahoo your homepage.

Kirim email ke