Milisters  ysh, 
   
  Kerusuhan dan bentrok polisi-mahasiswa Unhalu  dikota Kendari baru2 ini 
mencerminkan bahwa setidaknya secara umum tak hanya di Kendari namun juga di 
Makassar dsb.  terdapat sensitivitas yang tinggi  serta rasa ketidak-puasan 
secara umum masyarakat atau kaum muda atau mahasiswa baik dalam variasi  
aktivitas kesehariannya.... maupun nasib mereka sebagai calon tenaga kerja yang 
sering belum jelas masa depannya....... 
  Berada pada lingkungan kota “besar” dikawasan tertinggal KTI  yang serba 
memiliki banyak keterbatasan dalam aktivitas ekonomi sosial budaya... yang lalu 
kurang berimbang dengan potensi populasi mahasiswanya yang terus berkembang 
seiring dipacunya pembangunan sektor pendidikan......
  Bila di Jawa .... masalah sering bisa ‘diatasi’ dengan langkah ‘urbanisasi’ 
yang ‘relatif mudah dan sederhana’.... Seperti hanya dengan menumpang truk 
sayur.... Atau kalau ada ‘modal’ 30rb rupiah... Maka seseorang di Jatim dapat 
menumpang keretaapi senja... Lalu esok harinya telah tiba di setasiun Senen 
Jkt.... Dan pekerjaan serta ‘perubahan’ sering  telah tersedia didepan mata 
..... 
  Pekerjaan yang lekas didapat.... Disektor formal seperti dibidang marketing 
dsb..... Atau disektor informal..... Menjadi kenek angkot.... Atau kenek 
pendorong gerobak tukang sayur... dan banyak sektor informal  lainnya..... Atau 
kalau nasib mujur.... bisa casting dan menjadi bintang televisi walau sekedar 
awalnya menjadi model iklan obat panu atau obat cacing dulu...... 
  *           *           *
  Di KTI yang jaraknya lebih dari 750km nautikal dari Surabaya..... atau lebih 
1250 km nautikal dari Jkt......  
  Keterbatasan potensi lingkungan perkotaan  sangatlah mengurangi berkembangnya 
keleluasaan kreativitas maupun  kesempatan kerja...... Isolasi laut yang luas 
dan ganas agak membatasi keleluasan gerak migrasi menuju ibukota atau kota2 
besar lain diJawa sebagai pusat kehidupan ekonomi sosial budaya yang 
gemerlap.....  
  Banyak keterbatasan  itu  mudah memunculkan  sensitivitas yang amat dekat 
dengan kemarahan dan kekerasan....... 
  Pembunuhan seorang anak perempuan oleh seorang WNI yang sakit jiwa.... 
Kenaikan harga BBM.... Solidaritas pada mahasiswa yang ditahan polisi .... 
Penggusuran kakilima...... Bentrok denganpengemudi angkot.......Pernyataan 
negara asing yang tak mengenakkan Indonesia ..... semua ini demikian mudahnya  
menyulut kemarahan mahasiswa di Makassar...... tak jarang juga bersama penduduk 
kota.....  
  Pelampiasannya lalu berupa tak hanya unjuk rasa saja... namun juga  demikian 
mudahnya  mereka senang melakukan sweeping rasial  maupun sosial...... 
memblokade  jalan...  membakar ban ... lalu ujung-ujungnya bentrok dengan 
polisi yang mencoba membubarkan  aksi-aksi mereka....... Lalu bila ada 
mahasiswa yang bonyok..... Esoknya muncul demo susulan... Menuntut Kapolda  
mundur........ 
  *           *           *
  Kawasan Timur  Indonesia (KTI) dengan total area 1.167.000 km2  adalah  
sekitar 60%  total luas Indonesia yang 1.919.000 km2...... tetapi total  
populasi di KTI hanyalah sekitar  20% dari total nasional..... atau sekitar 
41,162,000 dari  235.000.000-an  total populasi nasional  Indonesia...... 
  SulSel sebagai propinsi termaju di KTI berpenduduk 8.639.800  atau 21% dari 
populasi KTI (BPS 2005).... dan berdasar sensus 2000, rata2 pertumbuhan 
penduduk  periode 1990-2000 adalah 2.05%........
  Setidaknya terdapat 5 perguruan  tinggi negeri di SulSel : Unhas, UNM, UIN 
Alaudin, Politeknik Mesin Makassar,  Politeknik Pertanian Makasar, beberapa 
universitas swasta seperti  UMI, Univ.45, Unika Atmajaya, UKI-Paulus dsb........
  Pada tiap propinsi di KTI setidaknya terdapat masing2 1 univ. negeri seperti 
Untad di Palu, Unsrat di Manado,Unhalu di Kendari, Uncen di Papua,Unpati di 
Maluku dsb. Tetapi sekedar catatan.....  angka kegagalan ujian nasional di 
Papua adalah 73% pada 2005..... dan banyak lulusan terbaik dari KTI memilih 
memasuki ITB, IPB, UGM.......
  Ini merupakan tugas berat perguruan tinggi di KTI untuk bersaing baik secara 
regional mau-pun nasional menarik lebih banyak lulusan terbaik siswa SLA di 
KTI......
  PDRB per kapita di KTI pada 2003 bervariasi dari  Rp. 2,402,300 (NTT)  sampai 
Rp. 36,946,100 (Kaltim), atau rata2 Rp. 7,511,914........ Angka rata2 ini 
sedikit lebih rendah daripada PDRB nasional Rp. 8,304,300..... atau KBI Rp 
8,857,156....... (BPS, 2003). 
  Ini menunjukan bahwa dalam hal pendapatan, propinsi kawasan ini tak terpaut 
jauh dengan KBI....... Tetapi kalau melihat  PDRBnya per kapita.... Hanyalah 
Rp. 4.772.000 ..... atau.... hanya 57.5% saja dari angka nasional...... 
  Suatu gambaran umum tentang betapa masih rendahnya tingkat produktivitas per 
kapita di KTI sebagai 60% kawasan negeri kita............ 
   
  Sementara demikian dan salam,
  aby

       
---------------------------------
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total 
Access, No Cost.

Kirim email ke