Aby,
Tadinya saya belum ingin menanggapi posting Hengky terakhir yang terutama
menjurus ke KTI. Sebagai bahan referensi saya kira sudah cukup lengkap apalagi
untuk mereka yang belum pernah menyelami atau mengalami KTI itu. Saya juga
tidak akan berpretensi mempunyai suatu gambaran komprehensip terhadap wilayah
lebih setengah Indonesia itu, tetapi ada satu aspek yang Aby telah kemukakan
yaitu perguruan tinggi atau universitas .
Memang ingin saya telaah khususnya, walaupun memang juga tidak bisa terlepas
dari bagian-bagian lainnya yang Aby telah kemukakan.
Setidaknya terdapat 5 perguruan tinggi negeri di SulSel : Unhas, UNM, UIN
Alaudin, Politeknik Mesin Makassar, Politeknik Pertanian Makasar, beberapa
universitas swasta seperti UMI, Univ.45, Unika Atmajaya, UKI-Paulus dsb........
Pada tiap propinsi di KTI setidaknya terdapat masing2 1 univ. negeri seperti
Untad di Palu, Unsrat di Manado,Unhalu di Kendari, Uncen di Papua,Unpati di
Maluku dsb. Tetapi sekedar catatan..... angka kegagalan ujian nasional di
Papua adalah 73% pada 2005..... dan banyak lulusan terbaik dari KTI memilih
memasuki ITB, IPB, UGM.......
Ini merupakan tugas berat perguruan tinggi di KTI untuk bersaing baik secara
regional mau-pun nasional menarik lebih banyak lulusan terbaik siswa SLA di
KTI......
Begini Aby, waktu saya mulai memimpin UNSRAT pada tahun 1976, maka penilaian
dilemma terakhir ini saya perbandingkan sebagai berikut - sebetulnya saya
mengambil prinsipnya dari zaman Meiji di Jepang, dimana Jepang sengaja
mengirimkan tenaga-tenaga untuk dididik keluar negeri, versi yang hampir sama
juga telah dilakukan oleh India pada waktu ingin membangun industri besiu
baja nya, kebetulan saya disuruh mempelajari sistim itu pada waktu Biro
Perancang Negara RI sedang mempersiapkan proyej besi baja Cilegon , dan juga
aluminium di Asahan. Anyway dalam konteks UNSRAT pada tahun tujuhpuluhan jauh
lebih menguntungkan to send the best sons and daughters to ITB, IPB, Gajah
Mada, dan Airlangga(terutama utk kedokteran) daripada to produce your own with
limited means. Soalnya tempat yang terbatas yang ada di manado itu sih memang
digunakan untuk the weaker brothers (tapi nyatanya sih engga terlalu weak tapi
jelas 'homegrown' Tapi saya engga miukir pro
contra, tapi seperti Meiji Jepang, yang penting adalah hasil akhir. OK
ternyata kini pada tahun 2007, generasi tujuhpuluhan sebagian besar sudah
kembali dan mereka ternyata tidak usah bersaing dalam kata mencari lapangan
kerja, on the contrary jikalau ada yang dapat kerja di Jakarta atau malahan
sampai keluar they are free to do so, sebetulnya sebagai TKI sih tetap
menguntungkan, kalau dia kembali ke minahasa yah dia udah tahu sendiri dia
engga mudah bisa mnakan tempe atau baso kaya di Jawa.
Nah Aby saya pikir engga usah kita terlalu sukar melihat umplikasi
keterbelakangan KTI itu, rasanya itu suatu masalah statistik yang rada picik.
Barangkali sepuluh tahun lagi sudah tinggal 'survival of the fittest" di manado
maupun juga di bandung, bogor atau Bonn atau Berlin , semua harus
membuktikannya..
Jadi terima kasih untuk data perbandingan Aby, tapi seperti analisa ekologis
saya dulu utk Singapura dan Jakarta, a simple comparison is not fair, karena
nanti akan ada perubahan speciesnya, si lulusan manado atau lulusan jawa
dua-duanya akan harus menemukan niche-nya, cuma niche jawa atau indonesia
memang tidak seragam dengan niche papua atau menurut persepsi Aby 'bibir
manado' itu. Terus terang Aby saya belum pernah rasakan bibir manado, walaupun
saya akui sudah menikmati bibir dan jiwa solo salatiga.
____________________________________________________________________________________
You rock. That's why Blockbuster's offering you one month of Blockbuster Total
Access, No Cost.
http://tc.deals.yahoo.com/tc/blockbuster/text5.com