Pak Wawo, Rekan Ekadj, Dwiagus, dan milisters ysh,


Masih terpicu dengan 'kegemasan' pak Wawo, pernyataan Ekadj bahwa
rencana cenderung "bermanis-manis", dan Dwiagus yang menyebut
kata (maaf) "masturbasi". Sementara itu di milist IAP seorang
planner muda mengungkapkan kegalauan angkatannya, karena makin besar
populasi planner, dan pendapatannya tak bisa mencukupi kebutuhan hidup
layak. Saya berusaha memahami apa yang terjadi dengan perencanaan dan
pelaksanaan pembangunan wilayah/kota. Dan apa yang mungkin dilakukan.



Situasi Lingkungan



Apa mau dikata, saat ini bicara pengembangan wilayah/kota mau tak mau
mesti mempertimbangkan 3 drivers atau faktor penggerak pembangunan,
yaitu: rakyat, pasar, modal. Ini beda dengan masa lalu dimana pemerintah
(pusat) punya dana sangat besar, utang luar negeri terbuka lebar,
sehingga perencanaan pembangunan wilayah/kota bisa didanai, dan dalam
kendali pemerintah (pusat).



Penduduk sebagai rakyat yang perlu dibela hak-hak dasarnya. Pasar yang
mengikuti tren, mempertemukan supply dengan demand. Dan arus modal yang
bergerak seperti jala pukat harimau yang siap menyedot semua surplus
lokal. Atau seperti koloni belalang yang datang saat menguntungkan, lalu
tiba-tiba pergi meninggalkan batang-batang mengering. Selain rakyat,
yang mesti dibela adalah lingkungan hidup.



Prioritas pelaksanaan pembangunan adalah resultante dari pilihan atas
keberpihakan pada tiga kekuatan tersebut. Dan, tanpa intervensi biasanya
yang menang adalah kekuatan pasar. Ini karena rakyat tanpa sadar secara
spontan juga memenuhi 'panggilan pasar'.



Modal tentu menuju pusat kekayaan SDA, dan tarikan simpul-simpul pasar
atau ke kota besar/metro.



Pemerintah umumnya percaya bahwa dengan mengundang modal, dengan
menyediakan prasarana dan kemudahan agar kegiatan ekonomi tumbuh. Dengan
itu otomatis masalah hak rakyat seperti pekerjaan dll. akan terpenuhi.
Tapi nyatanya pemodal ya milih yang efisien. Masak sih percaya pemodal
dari seberang benua mau repot ngurusi 'orang susah' di sini. Itulah
realita tren pengambilan keputusan.



Lalu rencana pembangunan berpihak ke mana? Inilah masalahnya. Sebagai
produk tertulis, rawan dikritik kalau harus memilih. Maka gampangnya ya
mengakomodir banyak aspek, yang sebetulnya bertentangan, kontradiktif.



Maka muncullah banyak ungkapan "sedemikian...hingga.." (istilah pak Emil
Salim). Seperti: melestarikan RTH dengan konsep "garden mal" sehingga
dengan membangun pusat pertokoan sekaligus lingkungan terjaga. Atau
meng- eksploitasi hutan sedemikian rupa hingga bumi makin dingin. Atau
membangun konsep lapangan golf sehingga meningkatkan pendapatan petani,
dst.



Sementara dalam pelaksanaannya, realita pertarungan antara kepentingan
menarik modal, memanfaatkan tren pasar yang menentukan. Apalagi dengan
anggaran pemerintah yang umumnya terbatas. Soal lapangan kerja
diasumsikan mengikuti, walau nyatanya tidak. Soal lingkungan hidup,
jarang mendapat prioritas. Ini yang patut disayangkan, karena pada
daerah yang kaya (bagi hasil) pun, soal hak-hak rakyat dan lingkungan
hidup kurang prioritasnya.



Posisi Perencanaan



Masalah nasional tersebut mempengaruhi pembangunan di tingkat
kota/daerah. Dan, mempengaruhi eksistensi rencana, serta posisi
perencananya tentu. Posisi yang lebih sulit tentu dihadapi oleh rencana
fisik. Karena janji fisik sifatnya tangible, gampang dilihat tercapai
atau tidaknya. Kalau stadion jadi mal, RTH jadi gedung, semua warga
tahu.



Repotnya rencana pembangunan wilayah/kota adalah produk instansi
pemerintah, atau SKPD. Kalau pimpinan daerahnya tunduk pada kekuatan
modal dan tren pasar. Lalu SKPD itu bisa apa. Di luar itu, planner
sebagai konsultan juga harus ikut TOR dari  SKPD tersebut.



Lalu Bagaimana?



Yang terpikir oleh saya sementara ini  Pertama, adalah menyadari
keterbatasan pemerintah dalam mengarahkan dan mengendalikan pembangunan.
Karena keterbatasan dana, disebabkan beban hutang terlalu banyak, beban
subsidi melonjak, dan desentralisasi keuangan ke daerah. Jadi kalau
membuat rencana harus betul-betul dikaitkan dengan kemampuan anggaran.
Gunakan beberapa scenario.



Kedua, berani realistis mempertimbangkan kekuatan modal, tren pasar.
Bukan mendewakannya, tetapi menyadari (memanfaatkan) kekuatannya, dan
mencari solusi-solusi antaranya. Toh kapitalis juga mengenal corporate
social responsibility (CSR). Saran ini cukup realistis karena rasanya
kok mustahil mengaharapkan komunitas planning akan "galak" pada
pemerintah atau pemodal/pengembang, apalagi kalau keduanya akrab.



Ketiga, menyadari bahwa tata ruang itu hanya "satu urusan" dari
belasan urusan wajib pemerintah provinsi/kabupaten/kota sesuai
UU32/2004. Sehingga mesti "berintegrasi" kepada rencana yang
lebih komprehensif.  Dan menggunakan instrument yang disarankan (UU32,
juga diadopsi UUPR, dan lainnya), misalnya standar pelayanan minimal
(SPM), karena itu yang akan mengikat pemerintah daerah. Merupakan janji
kepala daerah kepada rakyatnya.



Keempat, bagi para planner perlu menyadari juga bahwa "perencanaan
tata ruang" juga hanyalah satu bentuk produk yang bisa dihasilkan
seorang planner, disamping itu seorang sarjana planologi bisa
memproduksi RPJP/M daerah, Renstra SKPD, Renstra BUMD, perencanaan
program, pengembangan ekonomi local, perencanaan system transportasi,
perencanaan pembangunan perumahan (real estate), perencanaan daerah
tertinggal (berbasis ekonomi), perencanaan kawasan pesisir (ekonomi dan
lingkungan), dst. Pada sisi pemanfaatan/pelaksanaan pembangunan bisa
masuk ke manajemen perkotaan, manajemen program pembangunan (PPK, P2KP,
dst), dan sebagainya. Ada belasan kementerian, ada 450 kabupaten/kota,
30an provinsi. Ada belasan pejabat eselon-1 dari planologi di berbagai
kementerian dan lembaga tinggi, di tingkat provinsi/kab/kota, yang bisa
diajak dialog.



Kelima, membuat rencana yang dibuat sound bagi masyarakat. Bandingkan
dengan isyu pendidikan, kesehatan, ekonomi (daya beli) yang langsung
menyentuh hak dasar rakyat, sehingga selalu jadi tuntutan rakyat.
Sedangkan rencana wilayah/kota yang kita dibuat menjanjikan apa? Kalau
hanya untuk memenuhi standar teknis instansi tertentu akan sulit
dituntut dan dibela oleh masyarakat atau kelompok kepentingan.



Seorang planner muda dalam milist IAP mengungkapkan keprihatinan
'generasinya', mengingat kian besarnya populasi planner,
sementara pendapatan yang diterima kian sulit memenuhi kebutuhan hidup
layak. Ini wajar kalau kue yang terbatas harus dibagi ke banyak orang.



Ini adalah masalah riil yang mesti jadi pikiran. Ada populasi
profesional yang potensial, ada kebutuhan pembangunan daerah yang perlu
diisi. Maka kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu diidentifikasi, lalu
dihubungkan dengan potensi profesional yang ada. Di era internet tentu
ini bisa dilakukan. Masalahnya daerah tidak tahu kebutuhan mereka akan
rencana apa, jasa apa?

Untuk itulah perlu kembangkan bentuk-betuk karya planologi yang
betul-betul menjawab kebutuhan daerah saat ini, di luar produk
konvensional planologi  (site-plan, land-use plan, sistem pusat-pusat,
regionalisasi, dan sejenisnya) yang telah beredar hampir 50 tahun itu.
Seperti dalam industri, semua produk tentu punya life cycle, dan ada
ungkapan "Differenciate or Die." Oleh karena itu diferensiasi
produk itu perlu dikembangkan, lapangan kerja di instansi pemeintah yang
lebih luas, di swasta,di LSM, di lembaga donor, dst.



Sekali lagi perlu berinspirasi pada pendekatan pak Wawo yang "think
out of the box" itu.



Salam,
Risfan Munir



--- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> YTH Rekanmilis sekalian
>
>
> >
> Dan ketika para sektor terkait diminta masukan untuk RTRW, yang masuk
adalah
> input2 yang "netral" dan "aman",.yang memberikan kepuasan bermain di
> lapangan yang, .. dan sektor2 tsb hanya memberikan imajinasi semu bagi
> terwujudnya RTRW tersebut,.
>
> Ya,.. RTRW lebih suka jadi makhluk yang bermasturbasi secara
eksklusive,
> menyenangkan dirinya sendiri,.. seperti Narcissius yang tiap hari ke
kolam
> bening mengaca dirinya sendiri, dan memuja muja betapa indah, complete
dan
> komprehensiv dirinya sendiri ..
>
>
>
> Best regards,
>
>
>
> Benedictus Dwiagus S.
>
> bdwiagus.blogspot.com
>
>
>
> Planning: Much works remain to be done before we can announce our
total
> failure to make any progress ,...
>
>
>


Kirim email ke