Pak Risfan dan ysh Pak Wawo & REFERENSI-iers

Ijinkan saya usil sedikit mengulas keresahan teman2 planner muda...  

Sekitar lima tahun yl, saya sempat diskusi dengan Pak Tatag, kok ya sedikit 
sekali teman2 ITB yang mau berkiprah di grassroot, dan lebih sedikit lagi 
teman2 planner ... Ketika itu, sempat kami pikirkan fasilitator yang menjadi 
penggerak PPK (kemudian juga P2KP) diarahkan menjadi "community planner" 
...tugasnya membantu komunitas (desa atau pun desa2) untuk menyusun rencana2 
pembangunan partisipatif yg block grant sudah "tersedia" di aras kecamatan ...  
 apalagi pada masa awal PPK itu, karena kecendrungan "partisipatif" dan 
"memberikan kewenangan" kepada masyarakat (desa) .... investasi yang banyak itu 
(max 350 juta/desa) seringkali jadi proyek2 yang individual desa (inward 
looking)... tidak mendorong networking atau keterkaitan dengan desa2 lain ... 
makanya sejak 2003 diperkenalkan "village vissioning" .. niatnya sih mulai 
memasukan aspek spatial, setidaknya mengajak masyarakat desa "menjaga" 
lingkungannya ..berfikir outward looking ..dstnya ...  Tetapi
 ya begitulah ... sangat sedikit planner yang mau gabung, ada 3-4 orang tetapi 
begitu agak "bersinar" langsung di rekrut ke BankDunia ... 

Saya berfikir jangan2 ITB bahkan Jurusan PWK ... terjebak (maaf!) memproduksi 
"planner2 salon", kurang sekali yg orientasinya  ke desa, community atau pun 
grassroot ... bisa dihitung dengan sebelah tangan planner muda yg seperti 
Hetifah (ketua Alumni Planologi ITB sekarang)  ... alhasil dari sekitar 7000+ 
fasilitator, nyaris tidak ada yang menemani "kebodohan" saya memilih untuk 
memfasilitasi program2 pemberdayaan masyarakat yang sekarang dieskalasi menjadi 
PNPM-Mandiri  (program nasiona pembedayaan masyarakat mandiri) ... dan tahun 
2009 akan diperluas untuk seluruh kecamatan dan kebutuhan fasilitator mencapai 
+10.000 sarjana (S1/D3+) ... 

Tahun 2007 yl, Dep Dalam Negeri menerbitkan Permendagri No.66/2007 tentang 
Perencanaan Desa ... (saya jadi ingat Rencana Tata Desa yang dikelola LPP tahun 
1970an !) ... spirit dan substansinya tidak banyak berbeda dengan yang 
difasilitasi oleh PPK/PNPM ... bahkan pendekatan, metodologi dan forum2 
diadopsi dari pengalaman PPK !   Permendagsi ini menugaskan setiap desa untuk 
menyusun RPJM-Desa (sebagian inspirasinya belajar dari warisan Pak Risfan, 
melalui PERFORM) .... sayang sekali tidak terlalu tegas "muatan spasial"-nya 
...  Melihat pedoman, tuntutan substansi dan contoh yang ada (termasuk dari 
PERFORM pak Risfan) ... benar2 MUSTAHIL bisa dikerjakan oleh aparat desa atau 
pun KPMD (kader pemberdayaan masyarakat desa - permendagri 38/2007 jika tak 
keliru..) .... padahal RPJM-des (dan RKP-des) ini menjadi prasyarat untuk 
melaksanakan ADD (alokasi dana desa) yg di Kab.Halsel saja disediakan 
100juta/desa ..!  dan juga program2 on top lainnya.

Saya tidak tahu apakah kedua potensi tesebut tidak cukup pantas menjadi "pasar" 
bagi planner muda .. ?   Kalau kuatir yang tdak jelas jangka waktuna, lha 
dengan netwokrking planner di tingkat nasional atau daerah (SKPD) saya kok 
yakin "pasar" tesebut dapat diperluas ... ? 

Barangkali catatan remeh ini bisa menjadi perhatian kita semua .. juga menjadi 
perhatian IAP !  

Saya menunggu nasehat dan bekal dari sahabat2 planner dan warga "referensi"

Tabik & Wassalam, 
IBNU TAUFAN
KM Nasional PNPM Mandiri Perdesaan
Urban & Regional Planner,  Community Developement
Grha Pejaten No.2, Jl Raya Pejaten, Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Indonesia 
P: +622170433974 M: +62816940978
http://ibnutaufan.blogspot.com
[EMAIL PROTECTED],  [EMAIL PROTECTED]




----- Original Message ----
From: risfano <[EMAIL PROTECTED]>
To: [email protected]
Sent: Saturday, 12 July, 2008 7:26:38 PM
Subject: [referensi] Re: Kemiskinan Reinterpreted or Job Creation Preferred?


Pak Wawo, Rekan Ekadj, Dwiagus, dan milisters ysh,
 
Masih terpicu dengan 'kegemasan' pak Wawo, pernyataan Ekadj bahwa rencana 
cenderung "bermanis-manis", dan Dwiagus yang menyebut kata (maaf) "masturbasi". 
Sementara itu di milist IAP seorang planner muda mengungkapkan kegalauan 
angkatannya, karena makin besar populasi planner, dan pendapatannya tak bisa 
mencukupi kebutuhan hidup layak. Saya berusaha memahami apa yang terjadi dengan 
perencanaan dan pelaksanaan pembangunan wilayah/kota. Dan apa yang mungkin 
dilakukan.
 
Situasi Lingkungan
 
Apa mau dikata, saat ini bicara pengembangan wilayah/kota mau tak mau mesti 
mempertimbangkan 3 drivers atau faktor penggerak pembangunan, yaitu: rakyat, 
pasar, modal. Ini beda dengan masa lalu dimana pemerintah (pusat) punya dana 
sangat besar, utang luar negeri terbuka lebar, sehingga perencanaan pembangunan 
wilayah/kota bisa didanai, dan dalam kendali pemerintah (pusat).
 
Penduduk sebagai rakyat yang perlu dibela hak-hak dasarnya. Pasar yang 
mengikuti tren, mempertemukan supply dengan demand. Dan arus modal yang 
bergerak seperti jala pukat harimau yang siap menyedot semua surplus lokal. 
Atau seperti koloni belalang yang datang saat menguntungkan, lalu tiba-tiba 
pergimeninggalkan batang-batang mengering. Selain rakyat, yang mesti dibela 
adalah lingkungan hidup.
 
Prioritas pelaksanaan pembangunan adalah resultante dari pilihan atas 
keberpihakan pada tiga kekuatan tersebut. Dan, tanpa intervensi biasanya yang 
menang adalah kekuatan pasar. Ini karena rakyat tanpa sadar secara spontan juga 
memenuhi 'panggilan pasar'.
 
Modaltentu menuju pusat kekayaan SDA, dan tarikan simpul-simpul pasar atau ke 
kota besar/metro.
 
Pemerintah umumnya percaya bahwa dengan mengundang modal, dengan menyediakan 
prasarana dan kemudahan agar kegiatan ekonomi tumbuh. Dengan itu otomatis 
masalah hak rakyat seperti pekerjaan dll. akan terpenuhi. Tapi nyatanya pemodal 
ya milih yang efisien. Masak sih percaya pemodal dari seberang benua mau repot 
ngurusi 'orang susah' di sini. Itulah realita tren pengambilan keputusan.
 
Lalu rencana pembangunan berpihak ke mana? Inilah masalahnya. Sebagai produk 
tertulis, rawan dikritik kalau harus memilih. Maka gampangnya ya mengakomodir 
banyak aspek, yang sebetulnya bertentangan, kontradiktif. 
 
Maka muncullah banyak ungkapan "sedemikian.. .hingga.." (istilah pak Emil 
Salim). Seperti: melestarikan RTH dengan konsep "garden mal" sehingga dengan 
membangun pusat pertokoan sekaligus lingkungan terjaga. Atau meng- eksploitasi 
hutan sedemikian rupa hingga bumi makin dingin. Atau membangun konsep lapangan 
golf sehingga meningkatkan pendapatan petani, dst. 
 
Sementara dalam pelaksanaannya, realita pertarungan antara kepentingan menarik 
modal, memanfaatkan tren pasar yang menentukan. Apalagi dengan anggaran 
pemerintah yang umumnya terbatas. Soal lapangan kerja diasumsikan mengikuti, 
walau nyatanya tidak. Soal lingkungan hidup, jarang mendapat prioritas. Ini 
yang patut disayangkan, karena pada daerah yang kaya (bagi hasil) pun, soal 
hak-hak rakyat dan lingkungan hidup kurang prioritasnya. 
 
Posisi Perencanaan
 
Masalah nasional tersebut mempengaruhi pembangunan di tingkat kota/daerah. Dan, 
mempengaruhi eksistensi rencana, serta posisi perencananya tentu. Posisi yang 
lebih sulit tentu dihadapi oleh rencana fisik. Karena janji fisik sifatnya 
tangible, gampang dilihat tercapai atau tidaknya. Kalau stadion jadi mal, RTH 
jadi gedung, semua warga tahu.
 
Repotnya rencana pembangunan wilayah/kota adalah produk instansi pemerintah, 
atau SKPD. Kalau pimpinan daerahnya tunduk pada kekuatan modal dan tren pasar. 
Lalu SKPD itu bisa apa. Di luar itu, planner sebagai konsultan juga harus ikut 
TORdari  SKPD tersebut.
 
Lalu Bagaimana?
 
Yang terpikir oleh saya sementara ini  Pertama, adalah menyadari keterbatasan 
pemerintah dalam mengarahkan dan mengendalikan pembangunan. Karena keterbatasan 
dana, disebabkan beban hutang terlalu banyak, beban subsidi melonjak, dan 
desentralisasi keuangan ke daerah. Jadi kalau membuat rencana harus betul-betul 
dikaitkan dengan kemampuan anggaran. Gunakan beberapa scenario.
 
Kedua, berani realistis mempertimbangkan kekuatan modal, tren pasar. Bukan 
mendewakannya, tetapi menyadari (memanfaatkan) kekuatannya, dan mencari 
solusi-solusi antaranya. Toh kapitalis juga mengenal corporate social 
responsibility (CSR). Saran ini cukup realistis karena rasanya kok mustahil 
mengaharapkan komunitas planning akan "galak" pada pemerintah atau 
pemodal/pengembang, apalagi kalau keduanya akrab.
 
Ketiga, menyadari bahwa tata ruang itu hanya "satu urusan" dari belasan urusan 
wajib pemerintah provinsi/kabupaten/ kota sesuai UU32/2004. Sehingga mesti 
"berintegrasi" kepada rencana yang lebih komprehensif.  Dan menggunakan 
instrument yang disarankan (UU32, juga diadopsi UUPR, dan lainnya), misalnya 
standar pelayanan minimal (SPM), karena itu yang akan mengikat pemerintah 
daerah. Merupakan janji kepala daerah kepada rakyatnya.
 
Keempat, bagi para planner perlu menyadari juga bahwa "perencanaan tata ruang" 
juga hanyalah satu bentuk produk yang bisa dihasilkan seorang planner, 
disamping itu seorang sarjana planologi bisa memproduksi RPJP/M daerah, Renstra 
SKPD, Renstra BUMD, perencanaan program, pengembangan ekonomi local, 
perencanaan system transportasi, perencanaan pembangunan perumahan (real 
estate), perencanaan daerah tertinggal (berbasis ekonomi), perencanaan kawasan 
pesisir (ekonomi dan lingkungan), dst. Pada sisi pemanfaatan/ pelaksanaan 
pembangunan bisa masuk ke manajemen perkotaan, manajemen program pembangunan 
(PPK, P2KP, dst), dan sebagainya. Ada belasan kementerian, ada 450 
kabupaten/kota, 30an provinsi. Ada belasan pejabat eselon-1 dari planologi di 
berbagai kementerian dan lembaga tinggi, di tingkat provinsi/kab/ kota, yang 
bisa diajak dialog.
 
Kelima, membuat rencana yang dibuat sound bagi masyarakat. Bandingkan dengan 
isyu pendidikan, kesehatan, ekonomi (daya beli) yang langsung menyentuh hak 
dasar rakyat, sehingga selalu jadi tuntutan rakyat. Sedangkan rencana 
wilayah/kota yang kita dibuat menjanjikan apa? Kalau hanya untuk memenuhi 
standar teknis instansi tertentu akan sulit dituntut dan dibela oleh masyarakat 
atau kelompok kepentingan.
 
Seorang planner muda dalam milist IAP mengungkapkan keprihatinan 'generasinya' 
, mengingat kian besarnya populasi planner, sementara pendapatan yang diterima 
kian sulit memenuhi kebutuhan hidup layak. Ini wajar kalau kue yang terbatas 
harus dibagi ke banyak orang.
 
Ini adalah masalah riil yang mesti jadi pikiran. Ada populasi profesional yang 
potensial, ada kebutuhan pembangunan daerah yang perlu diisi. Maka 
kebutuhan-kebutuhan tersebut perlu diidentifikasi, lalu dihubungkan dengan 
potensi profesional yang ada. Di era internet tentu ini bisa dilakukan. 
Masalahnya daerah tidak tahu kebutuhan mereka akan rencana apa, jasa apa? 
Untuk itulah perlu kembangkan bentuk-betuk karya planologi yang betul-betul 
menjawab kebutuhan daerah saat ini, di luar produk konvensional planologi  
(site-plan, land-use plan, sistem pusat-pusat, regionalisasi, dan sejenisnya) 
yang telah beredar hampir 50 tahun itu. Seperti dalam industri, semua produk 
tentu punya life cycle, dan ada ungkapan "Differenciate or Die." Oleh karena 
itu diferensiasi produk itu perlu dikembangkan, lapangan kerja di instansi 
pemeintah yang lebih luas, di swasta,di LSM, di lembaga donor, dst.
 
Sekali lagi perlu berinspirasi pada pendekatan pak Wawo yang "think out of the 
box" itu.
 
Salam,
Risfan Munir

--- In [EMAIL PROTECTED] ps.com, "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> YTH Rekanmilis sekalian
> 
> 
> > 
> Dan ketika para sektor terkait diminta masukan untuk RTRW, yang masuk adalah
> input2 yang "netral" dan "aman",.yang memberikan kepuasan bermain di
> lapangan yang, .. dan sektor2 tsb hanya memberikan imajinasi semu bagi
> terwujudnya RTRW tersebut,. 
> 
> Ya,.. RTRW lebih suka jadi makhluk yang bermasturbasi secara eksklusive,
> menyenangkan dirinya sendiri,.. seperti Narcissius yang tiap hari ke kolam
> bening mengaca dirinya sendiri, dan memuja muja betapa indah, complete dan
> komprehensiv dirinya sendiri .. 
> 
> 
> 
> Best regards,
> 
> 
> 
> Benedictus Dwiagus S.
> 
> bdwiagus.blogspot. com 
> 
> 
> 
> Planning: Much works remain to be done before we can announce our total
> failure to make any progress ,...
> 
> 
>   

Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke