Rekan Ibnu Taufan,  
Sebetulnya saya masih sedang mencoba menganalisa dan menempatkan posisi anda 
dalam konteks yang paling tepat.  Saya juga masih mencoba untuk menemukan 
format yang paling tepat untuk memberi saran yang paling sesuai, juga karena 
ulasan yang anda kemukakan adalah terhadap kami berdua saya dan Risfan. Jadi 
mungkin memang belum kena sasaran yang sebenarnya. Oleh karena itu saya 
kemukakan dahulu beberapa pertanyaan, dugaan ataupun tafsiran yang juga tidak 
terlalu sistimatis. 
Pertama, mungkin suatu tafsiran yang agak kontradiktip, jikalau observasi dasar 
anda adalah :.... kok ya sedikit sekali teman2 ITB yang mau berkiprah di 
grassroot, dan lebih sedikit lagi teman2 (professional) planner 
Maka observasi dasar diatas (yang saya bisa terima sepenuhnya) membawa beberapa 
konsekwensi atau implikasi yang langsung : (1) bahwa grassroot planners pasti 
sangat sedikit dan oleh karena itu juga tidak merupakan major representative 
force dari kalangan planner, grassroot planners ini pasti merupakan minoritas, 
dan oleh karena itu memang tidak bisa merupakan kalangan atau kategori yang 
menentukan garis utama seluruh professi praktek planologi. (2) Di lain pihak 
sebetulnya rural grassroot planners sedikitnya di lingkungan Departemen Dalam 
Negeri tidak usah mengeluh sebab secara relatip tidak sedikit anggaran yang 
diallokasikan untuk sektor ini. 
Jadi sebetulnya saya kurang mengerti kenapa hal ini masih dikeluhkan, or what 
then is the actual concern, atau what is actually the problem? Apakah para 
planner di desa ini merasa kesepian (Hal mana saya sangsikan)  Apakah professi 
ini kurang diakui atau kurang dihargai?  Yah apakah penghargaan itu yang 
dicari? Pasti hal ini tidak akan diakui, tapi saya rasa hal ini justeru harus 
disyukuri, now you can have your own free will dan tidak usah bersaing antara 
planner desa bukan. Jadi kasus ini kasarnya engga usah dicengengi . Tapi saya 
duga mungkin masalahnya lebih kompleks. 
Saya ingin mencoba memberi suatu perspektip yang lebih rasional atau 
kontemporer.  Dulu pada tahun limapuluhan 'community development' atau 
grassroots rural planning, masih dalam taraf mula sekali, pernah saya baca 
laporan UN utk Indonesia yang dinamakan  alang-alang or development, yang 
sebetulnya beranjak dari rural mismanagement, pada masa Bung Karno memang ada 
semacam romantika rural, yang terutama berakar pada desa-desa late colonial 
yang memang cukup makmur sejahtera, rasanya sih desa-desa di Jawa dan terutama 
di Jawa Barat sebetulnya memang makmur,  yang sebetulnya bukan real rural tapi 
desa sekitar perkebunan teh itu. Romantika ini tidak dapat berlangsung terus, 
penduduk bertambah dan rural economic base ini hanyut, di jawa timur jatuhnya 
ekonomi perkebunan gula, dan di Jawa Barat kota mulai menelan lahan sekitarnya, 
praktis hilanglah desa sejahtera itu.  Tapi idealisme rural ini masih bertahan 
di kalangan atau lingkungan Dalam Negeri
 dengan segala bentuk penyelamatannya. Kalau di bidang akademis lebih-lebih 
urban planning jauh lebih unggul dan berkuasa. Sedikitnya 50 tahun 
terus-terusan kita percaya pada development dream yang jelas-jelas memihak pada 
sektor urban industrial. Praktis seluruh rural-countryside ditelan oleh 
hegemoni kota, dan lama kelamaan desa itu menjadi semacam heritage yang hanya 
dipelihara sebagai kenangan tapi secara ekonomis sudah bankrut. Nah ini bisa 
kita lihat terutama di Jawa. Bagaimana keadaan diluar Jawa. In a sense desa 
diluar Jawa sebetulnya jauh lebih urbanized karakternya. Eknomi luar Jawa itu 
juga lebih materialis sampai perkebunannya pun lebih kapitalis, karakter rural 
agrarian itu hampir tidak ada.  Jadi sebetulnya di hampir semua bidang 
pembangunan atau development membawa petrpecahan atau diskontinuitas, gap atau 
jurang yang besar terjadi dan jurang ini makin melebar, sehingga memang bisa 
menuju suatu entropi atau pertentangan dan krisis. 
Bagaimana keadaan ini sebetulnya terrefleksi juga di dunia atau dinegara lain. 
Kalau negara jiran yang paling dekat maka dapatlah dikatakan Malaysia bisa 
memanfaatkan beberapa keuntungan, mungkin jumlah penduduk yang tidak terlampau 
banyak, tapi sbetulnya yang paling menarik adalah suatu integrasi antara 
kampung dan kota, tapi sistim ekonominya adalah urban modern.  Kira-kira begitu 
juga optionnya untuk Cina dan India. Struktur ekonomi di luar kota besar tetap 
urban modern, dan praktis tidak ada struktur rural itu.  Barangkali hal ini 
juga terjadi di Afrika. 
Jadi kesimpulan saya adalah sudah terlambat untuk PWK ITB itu menemukan suatu 
solusi yang mau reverse atau banting setir ke arah modern ruralism. Secara 
ekonomis model ideal ini sudah lewat sejak Clifford Geertz menemukan involusi 
atau proses spiral pemiskinan pedesaan itu. Kalau saya lebih baik secara 
radikal desa itu malahan mencapai integrasi atau lifestyle yang sangat 
progressip, mungkin seperti di Russia atau di Israel atau mungkin juga di 
Vietnam dan Korea dengan operation bootstrapnya, tapi engga cukup cuma niru 
model sukses  lebih baik langsung jadi modern sepenuhnya. Saya juga rada sangsi 
kalau 'market forces' atau 'market economies' itu cukup unggul,  pernah juga 
ada 'non-marketable' systems atau theories. Tapi hal ini perlu ada silabus 
lain, jadi engga sanggup dalam kuliah singkat ini. Dugaan saya proses modern 
ini lebih cenderung ke ekonomi jasa atau service-economies, atau juga abstract 
infrastructural systems.  Saya sendiri agak allergi
 terhadap istilah atau akronim dao ringkasan.  Semestinya saya lengkapi ulasan 
ini lebih jauh, tapi rasanya ini sudah terlampau panjang. Salam Pak Wawo       


PS Bagaimana sekarang dengan Pak Tatag W. mudah-mudahan baik saja. 


      

Kirim email ke