Dear rekan milis

 

Barangkali bisa jadi inspirasi, buat kita atau tetangga,..

 

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

 <http://bdwiagus.blogspot.com> bdwiagus.blogspot.com 

 

Planning: Much works remain to be done before we can announce our total
failure to make any progress ,...

 

 

 

http://cetak.kompas.com/sosok

 

Sumardi ke Ende Memburu Cabai dan Tomat

 

Senin, 14 Juli 2008 | 00:44 WIB 

Oleh Samuel Oktora

Ternyata tak sia-sia Sumardi (54), petani asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu
meninggalkan kampung halamannya merantau ke Kabupaten Ende, di Pulau Flores,
Nusa Tenggara Timur. Tekad bulat dan keberaniannya itu kini telah membuahkan
hasil.

Sumardi nekat merantau ke luar Jawa meski hal seperti itu baru kali pertama
dilakukannya. Dia meninggalkan Banyuwangi menuju Ende pada Juni 2005. Dengan
demikian, genap tiga tahun ini di Ende Sumardi telah mengolah tanah yang
disewanya dengan menanam cabai dan tomat.

Modal yang digunakannya untuk bertani seluruhnya telah kembali, bahkan dia
juga telah melunasi semua utangnya. Keberhasilan yang telah diraihnya itu
pun mendapat perhatian dari pejabat Badan Perencana Pembangunan Daerah
setempat dan menetapkan Sumardi sebagai petani ulet di tingkat Kabupaten
Ende.

Bapak empat anak itu telah membuktikan bahwa niat baik dan ketulusan,
disertai kegigihan dan kerja keras, akan membuahkan hasil.

Sumardi membuktikan pula, wilayah Provinsi NTT yang selama ini lebih dikenal
sebagai daerah gersang, terbelakang, dan miskin, kerap dijuluki pula sebagai
daerah dengan "Nasib Tak Tentu" ataupun "Nunggu Tuhan Tolong", ternyata
dapat dipetik keuntungan berlimpah dari usaha tani berbasis tanaman sayur.

"Dari hasil panen Oktober 2005, modal saya, Rp 13,5 juta, seluruhnya telah
kembali dan utang dari uang teman-teman yang saya pinjam, Rp 7.100.000,
semuanya dapat dilunasi. Waktu itu hasil panen tomat saja (belum termasuk
cabai) sebanyak 8 ton dengan harga Rp 3.000 per kilogram. Jadi, dari hasil
penjualan tomat saya mendapat Rp 24 juta," kata Sumardi.

Keberhasilan Sumardi juga melambungkan namanya. Ada warga sekitar yang
memanggilnya Pak Kumis karena kumisnya yang tebal, tetapi banyak pula yang
biasa memanggil Sumardi "Pak Tomat" atau "Pak Lombok".

 

Harga pasar bagus

Sumardi menuju Ende atas dorongan adiknya, Syaifudin, yang sudah lebih dulu
tinggal di Ende dan membuka usaha Warung Makan Banyuwangi di Jalan Wolowona.

Sumardi juga mendapat masukan bahwa harga cabai dan tomat sangat bagus di
Pasar Ende karena belum banyak petani setempat yang menanamnya. Juga
diinformasikan, belum ada petani Ende yang bisa bercocok tanam cabai dan
tomat dengan sistem budidaya yang baik.

 

Tekad Sumardi juga makin kuat karena usaha tani di Banyuwangi dirasakannya
sudah jenuh akibat terlalu banyak pesaing. Menurut Sumardi, akibat terlalu
banyak petani dengan tingkat persaingan yang begitu tinggi itu, harga
komoditas pertanian sering jatuh jauh sekali.

"Ketika semua petani di Jawa berlomba-lomba menanam dengan kualitas terbaik,
lalu waktu panen hasil melimpah, harga malah jatuh. Harga cabai di tingkat
petani bisa jatuh menjadi Rp 500 per kilogram. Padahal, untuk mendapat
keuntungan, petani harus menjual cabainya paling tidak Rp 3.000 per
kilogram. Tahun 2004 ada petani di kampung saya meninggal karena stres. Dia
rugi Rp 250 juta. Harga cabai waktu itu hanya Rp 1.000 sampai Rp 1.500 per
kilogram," katanya.

Sebelum meninggalkan Banyuwangi, Sumardi juga mendapat informasi bahwa harga
pasar cabai tertinggi di Ende dapat mencapai Rp 60.000 per kilogram,
sedangkan tomat berkisar Rp 7.000 per kilogram. Harga cabai dan tomat akan
melambung ketika pasokan dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat (NTB)
kosong.

Dengan modal di tangan Rp 13,5 juta, saat itu Sumardi tak berpikir lama dan
langsung berangkat ke Ende. Dia meminta bantuan Syaifudin mencarikan
sebidang tanah guna ditanami cabai dan tomat.

Bersama istri, Sudasemi (45), dan seorang pembantunya, Sumardi meninggalkan
empat anak di kampung halamannya. Syaifudin telah mendapatkan lahan seluas
4.000 meter persegi di Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona.

Sumardi lalu mengontrak tanah itu senilai Rp 7,5 juta untuk masa 10 tahun.
Tahun 2006 dia memperluas lahan garapannya dengan mengontrak lagi 4.000
meter persegi di lokasi yang sama untuk masa tiga tahun.

Perluas lahan garapan

Jiwa petani yang begitu kuat dalam dirinya mengobarkan semangatnya untuk
terus maju hingga laki-laki, yang keluarga besarnya di kampung memiliki
lahan garapan seluas 7 hektar, itu memutuskan mengontrak tanah lagi di Desa
Nanganesa, juga di Kecamatan Ndona, seluas 3.000 meter persegi. Tanah itu
disewanya senilai Rp 9.250.000.

Lokasi kebunnya di Nanganesa hanya sekitar 2 kilometer dari Lokoboko. Adapun
untuk tempat tinggal, Sumardi di Ende juga mengontrak rumah di Nanganesa
seharga Rp 750.000 per tahun.

Menurut Sumardi, dari hasil panen cabai dan tomat pada tahun 2006, ia
memperoleh pemasukan Rp 67 juta. Adapun pada tahun 2007, dari 6.000 pohon
tomat saja dihasilkan 13 ton dengan pemasukan berkisar Rp 39 juta. Dia
memperkirakan, di lahan yang disewanya itu bisa ditanam 20.000 pohon cabai
dan tomat jika ditanami secara serentak.

Hasil panen cabai dan tomat memang lumayan. Selain dapat menabung, Sumardi
juga bisa mengirim uang untuk anak-anak yang seluruhnya telah berumah
tangga.

Di sisi lain, laki-laki tamatan jurusan teknik mesin STM Negeri 4 Jember,
Jawa Timur, itu menyatakan tak menyangka tanah di Ende amat subur. Namun,
kesuburan tanah saja belumlah cukup. Salah satu kunci keberhasilan budidaya
pertanian adalah persediaan air yang memadai.

Meskipun mendapatkan hasil yang berlimpah selama tiga tahun ini, Sumardi
belum memutuskan apakah akan tinggal menetap di Ende atau suatu saat akan
kembali lagi ke kampung halamannya.

"Yang terpenting saya ingin naik haji. Itu harapan saya sejak dulu. Bagi
saya ibadah lebih utama sebab hidup manusia di dunia ibaratnya hanya sehari
semalam," ungkap Sumardi.

Tinggalkan Karier Militer

Cita-cita saya sebenarnya di militer. Saya sudah diterima di Akabri tahun
1974, di kesatuan Angkatan Darat. Tapi, semua itu saya tinggalkan dengan
terjun sebagai petani," kata laki-laki yang dilahirkan dari keluarga petani
itu.

Sumardi menceritakan, beberapa waktu setamat dari STM dia mendaftar ke
Akabri. Tahun 1975 Sumardi akan ditugaskan ke Timor Timur (saat ini Republik
Demokratik Timor Leste). Namun, ketika itu orangtuanya berat melepas
kepergian Sumardi.

"Ibu saya waktu itu bilang, kalau kamu berangkat ke Timor Timur, kami harus
ikut. Saya berpikir, saya ke sana dalam rangka tugas negara dan taruhannya
pun nyawa. Saya tak mau mengorbankan mereka. Akhirnya saya memutuskan keluar
dari militer," kata anak ketujuh dari 10 bersaudara itu.

Sebelum terjun secara total menjadi petani, Sumardi sempat bekerja di
bengkel kendaraan. Itu tak lepas dari keterampilan yang diperolehnya di STM.

"Tapi, kemudian saya tak sampai hati melihat orangtua saya bekerja
membanting tulang di ladang, sedangkan saya hanya mondar-mandir ke bengkel,"
ujar Sumardi. (SEM)

 

 

      

 

Kirim email ke