Pak Dwiagus ysh,

Bulan lalu saya sempat sebentar saja melintas Ende, dan melihat pada
beberapa tempat memang tersedia lahan subur. Melihat kondisi tanah dan
iklim, kelihatannya memang cocok untuk tanaman palawija atau semusim.
Hanya butuh sedikit kerja keras untuk mengembangkan lahan-lahan
pertanian. Memang sedikit mencolok perbedaan cara bertani ini:
masyarakat setempat kelihatannya lebih senang dengan pola berkebun,
dibandingkan dengan pola pertanian reproduktif. Di masa lampau Portugis
dan Belanda menemukan Flores sebagai pulau yang melimpah ruah dengan
rempah.

Seorang rekan pegawai Pemda setempat mengatakan, setahun sekali dia bisa
mengirimkan 2 truk hasil kebun berupa rempah-rempah ke barat sampai ke
Jawa, dan hasilnya cukup dimakan setahun.

Saya sudah coba sedikit perbandingkan sekilas antara Ende dan Maumere,
kelihatannya Ende lebih dinamik, namun terkendala dengan kondisi
bandara. Maumere cenderung konservatif, namun lahan dataran tersedia
cukup luas. Sedikit perbandingan tentang 'calon ibukota bakal Provinsi
Flores'. Minggu lalu di Kupang ada beberapa rekan daerah yang menanyakan
prospek ini. Saya jawab sekenanya, siapa pun yang mampu menyediakan
runway untuk airstrip minimal 3.000 m akan prospek menjadi ibukota
provinsi. Demikian, salam.

-ekadj


--- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <[EMAIL PROTECTED]>
wrote:
>
> Dear rekan milis
>
> Barangkali bisa jadi inspirasi, buat kita atau tetangga,..
>
> Best regards,
>
>
>
> Benedictus Dwiagus S.
>
> <http://bdwiagus.blogspot.com> bdwiagus.blogspot.com
>
>
>
> Planning: Much works remain to be done before we can announce our
total
> failure to make any progress ,...
>
> http://cetak.kompas.com/sosok
>
> Sumardi ke Ende Memburu Cabai dan Tomat
>
> Senin, 14 Juli 2008 | 00:44 WIB
>
> Oleh Samuel Oktora
>
> Ternyata tak sia-sia Sumardi (54), petani asal Banyuwangi, Jawa Timur,
itu
> meninggalkan kampung halamannya merantau ke Kabupaten Ende, di Pulau
Flores,
> Nusa Tenggara Timur. Tekad bulat dan keberaniannya itu kini telah
membuahkan
> hasil.
>
> Sumardi nekat merantau ke luar Jawa meski hal seperti itu baru kali
pertama
> dilakukannya. Dia meninggalkan Banyuwangi menuju Ende pada Juni 2005.
Dengan
> demikian, genap tiga tahun ini di Ende Sumardi telah mengolah tanah
yang
> disewanya dengan menanam cabai dan tomat.
>
> Modal yang digunakannya untuk bertani seluruhnya telah kembali, bahkan
dia
> juga telah melunasi semua utangnya. Keberhasilan yang telah diraihnya
itu
> pun mendapat perhatian dari pejabat Badan Perencana Pembangunan Daerah
> setempat dan menetapkan Sumardi sebagai petani ulet di tingkat
Kabupaten
> Ende.
>
> Bapak empat anak itu telah membuktikan bahwa niat baik dan ketulusan,
> disertai kegigihan dan kerja keras, akan membuahkan hasil.
>
> Sumardi membuktikan pula, wilayah Provinsi NTT yang selama ini lebih
dikenal
> sebagai daerah gersang, terbelakang, dan miskin, kerap dijuluki pula
sebagai
> daerah dengan "Nasib Tak Tentu" ataupun "Nunggu Tuhan Tolong",
ternyata
> dapat dipetik keuntungan berlimpah dari usaha tani berbasis tanaman
sayur.
>
> "Dari hasil panen Oktober 2005, modal saya, Rp 13,5 juta, seluruhnya
telah
> kembali dan utang dari uang teman-teman yang saya pinjam, Rp
7.100.000,
> semuanya dapat dilunasi. Waktu itu hasil panen tomat saja (belum
termasuk
> cabai) sebanyak 8 ton dengan harga Rp 3.000 per kilogram. Jadi, dari
hasil
> penjualan tomat saya mendapat Rp 24 juta," kata Sumardi.
>
> Keberhasilan Sumardi juga melambungkan namanya. Ada warga sekitar yang
> memanggilnya Pak Kumis karena kumisnya yang tebal, tetapi banyak pula
yang
> biasa memanggil Sumardi "Pak Tomat" atau "Pak Lombok".
>
>
>
> Harga pasar bagus
>
> Sumardi menuju Ende atas dorongan adiknya, Syaifudin, yang sudah lebih
dulu
> tinggal di Ende dan membuka usaha Warung Makan Banyuwangi di Jalan
Wolowona.
>
> Sumardi juga mendapat masukan bahwa harga cabai dan tomat sangat bagus
di
> Pasar Ende karena belum banyak petani setempat yang menanamnya. Juga
> diinformasikan, belum ada petani Ende yang bisa bercocok tanam cabai
dan
> tomat dengan sistem budidaya yang baik.
>
>
>
> Tekad Sumardi juga makin kuat karena usaha tani di Banyuwangi
dirasakannya
> sudah jenuh akibat terlalu banyak pesaing. Menurut Sumardi, akibat
terlalu
> banyak petani dengan tingkat persaingan yang begitu tinggi itu, harga
> komoditas pertanian sering jatuh jauh sekali.
>
> "Ketika semua petani di Jawa berlomba-lomba menanam dengan kualitas
terbaik,
> lalu waktu panen hasil melimpah, harga malah jatuh. Harga cabai di
tingkat
> petani bisa jatuh menjadi Rp 500 per kilogram. Padahal, untuk mendapat
> keuntungan, petani harus menjual cabainya paling tidak Rp 3.000 per
> kilogram. Tahun 2004 ada petani di kampung saya meninggal karena
stres. Dia
> rugi Rp 250 juta. Harga cabai waktu itu hanya Rp 1.000 sampai Rp 1.500
per
> kilogram," katanya.
>
> Sebelum meninggalkan Banyuwangi, Sumardi juga mendapat informasi bahwa
harga
> pasar cabai tertinggi di Ende dapat mencapai Rp 60.000 per kilogram,
> sedangkan tomat berkisar Rp 7.000 per kilogram. Harga cabai dan tomat
akan
> melambung ketika pasokan dari Kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat
(NTB)
> kosong.
>
> Dengan modal di tangan Rp 13,5 juta, saat itu Sumardi tak berpikir
lama dan
> langsung berangkat ke Ende. Dia meminta bantuan Syaifudin mencarikan
> sebidang tanah guna ditanami cabai dan tomat.
>
> Bersama istri, Sudasemi (45), dan seorang pembantunya, Sumardi
meninggalkan
> empat anak di kampung halamannya. Syaifudin telah mendapatkan lahan
seluas
> 4.000 meter persegi di Kelurahan Lokoboko, Kecamatan Ndona.
>
> Sumardi lalu mengontrak tanah itu senilai Rp 7,5 juta untuk masa 10
tahun.
> Tahun 2006 dia memperluas lahan garapannya dengan mengontrak lagi
4.000
> meter persegi di lokasi yang sama untuk masa tiga tahun.
>
> Perluas lahan garapan
>
> Jiwa petani yang begitu kuat dalam dirinya mengobarkan semangatnya
untuk
> terus maju hingga laki-laki, yang keluarga besarnya di kampung
memiliki
> lahan garapan seluas 7 hektar, itu memutuskan mengontrak tanah lagi di
Desa
> Nanganesa, juga di Kecamatan Ndona, seluas 3.000 meter persegi. Tanah
itu
> disewanya senilai Rp 9.250.000.
>
> Lokasi kebunnya di Nanganesa hanya sekitar 2 kilometer dari Lokoboko.
Adapun
> untuk tempat tinggal, Sumardi di Ende juga mengontrak rumah di
Nanganesa
> seharga Rp 750.000 per tahun.
>
> Menurut Sumardi, dari hasil panen cabai dan tomat pada tahun 2006, ia
> memperoleh pemasukan Rp 67 juta. Adapun pada tahun 2007, dari 6.000
pohon
> tomat saja dihasilkan 13 ton dengan pemasukan berkisar Rp 39 juta. Dia
> memperkirakan, di lahan yang disewanya itu bisa ditanam 20.000 pohon
cabai
> dan tomat jika ditanami secara serentak.
>
> Hasil panen cabai dan tomat memang lumayan. Selain dapat menabung,
Sumardi
> juga bisa mengirim uang untuk anak-anak yang seluruhnya telah berumah
> tangga.
>
> Di sisi lain, laki-laki tamatan jurusan teknik mesin STM Negeri 4
Jember,
> Jawa Timur, itu menyatakan tak menyangka tanah di Ende amat subur.
Namun,
> kesuburan tanah saja belumlah cukup. Salah satu kunci keberhasilan
budidaya
> pertanian adalah persediaan air yang memadai.
>
> Meskipun mendapatkan hasil yang berlimpah selama tiga tahun ini,
Sumardi
> belum memutuskan apakah akan tinggal menetap di Ende atau suatu saat
akan
> kembali lagi ke kampung halamannya.
>
> "Yang terpenting saya ingin naik haji. Itu harapan saya sejak dulu.
Bagi
> saya ibadah lebih utama sebab hidup manusia di dunia ibaratnya hanya
sehari
> semalam," ungkap Sumardi.
>
> Tinggalkan Karier Militer
>
> Cita-cita saya sebenarnya di militer. Saya sudah diterima di Akabri
tahun
> 1974, di kesatuan Angkatan Darat. Tapi, semua itu saya tinggalkan
dengan
> terjun sebagai petani," kata laki-laki yang dilahirkan dari keluarga
petani
> itu.
>
> Sumardi menceritakan, beberapa waktu setamat dari STM dia mendaftar ke
> Akabri. Tahun 1975 Sumardi akan ditugaskan ke Timor Timur (saat ini
Republik
> Demokratik Timor Leste). Namun, ketika itu orangtuanya berat melepas
> kepergian Sumardi.
>
> "Ibu saya waktu itu bilang, kalau kamu berangkat ke Timor Timur, kami
harus
> ikut. Saya berpikir, saya ke sana dalam rangka tugas negara dan
taruhannya
> pun nyawa. Saya tak mau mengorbankan mereka. Akhirnya saya memutuskan
keluar
> dari militer," kata anak ketujuh dari 10 bersaudara itu.
>
> Sebelum terjun secara total menjadi petani, Sumardi sempat bekerja di
> bengkel kendaraan. Itu tak lepas dari keterampilan yang diperolehnya
di STM.
>
> "Tapi, kemudian saya tak sampai hati melihat orangtua saya bekerja
> membanting tulang di ladang, sedangkan saya hanya mondar-mandir ke
bengkel,"
> ujar Sumardi. (SEM)
>



Kirim email ke