Pak Djarot,

Cerita pak Jarot dan keluarga di Biak, juga tak kalah menariknya.terimakasih
untuk ceritanya.

 

Saya sendiri ingin menginjakkan kaki di Biak. Ada Paman saya sudah lama
tinggal di sana, sampai sekarang. Mungkin pak Djarot kenal. Pak Wasimin
namanya. Tugasnya di AL membawanya ke sana beberpa puluh tahun lalu,.. 

Kalau ibunda Pak Djarot membawa anak2nya ke P.Jawa dengan lotek dan
gado-gado,. paman saya mengirim beberapa anaknya belajar di P.Jawa dengan
beberpaa ekor babi yang diternakkannya,.. 

 

Mungkin suatu hari saya ada kesempatan ke sana..

 

Best regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

bdwiagus.blogspot.com 

 

Planning: Much works remain to be done before we can announce our total
failure to make any progress ,...

 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Djarot Purbadi
Sent: 18 July 2008 02:46
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] [NTT] Sumardi Ke Ende

 


Pak Dwiagus, menarik ceriteranya ya, dan bagi saya mengungkat pengalaman
lama. Sekitar tahun 1974 s.d. 1975 saya masih usia SMP dan kami sekeluarga
tinggal di Biak. Kebetulan lahan yang kami tempati benar-benar batu karang,
meskipun di tepi jalan raya dari kota ke bandara Mokmer (Frans Kaisiepo).
Kemarin saya iseng menengok bekas tempat tinggal kami lewat google earth dan
keliharan masih menjadi lahan terbuka. Pulau Sapomi di belakang rumah saya
masih berdiri tegak, disanalah sering saya main-main di pantainya melihat
ikan warna-warni di perairan laut berbatu karang. 

 

Singkat ceritera, kami berhasil memanfaatkan tanah karang dengan teknik
khusus. Lahan karang itu jelas tidak dapat ditumbuhi tanaman. Waktu itu saya
seringkali menemukan banyak selongsongan peluru atau mortir di lahan kebun
bertanah karang itu, sisa-sisa perang dunia II. Jadi tanah itu justru banyak
mengandung sisa-sisa perang. Tetapi dengan mengumpulkan tanah subur di
tempat-tempat tertentu, misalnya di dalam kaleng-kaleng bekas wadah cat atau
pada cekungan tertentu, kami berhasil menanami kangkung, lombok dan tomat
secara nyaris rutin. Ya skalanya kecil-kecilan sebab hanya untuk konsumsi
keluarga. Pengairan memang dilakukan rutin, setiap hari pagi-sore disirami
mirip menyirami tanaman hias di halaman rumah.

 

Hebatnya, ibu saya berhasil memanfaatkan hasil kebun sayuran itu untuk
jualan lotek atau gado-gado yang enak rasanya dan amat digemari warga
pendatang di sekitar kami. Nah dari ketekunan itulah, kami berhasil
menghemat dan menabung untuk kemudian pulang ke Jawa satu per satu. Kami
waktu itu tujuh orang sekeluarga, saya pulang ke Jawa tahun 1976 awal
sebagai orang pertama. Berikutnya adik-adik saya dan terakhir ayah saya.
Kami yang mendapat beaya pulang ke Jawa memang hanya 3 orang, tetapi lumayan
sebab merupakan usaha dari kebun dan kios rokok kecil. Waktu itu kebun
keluarga kami mendapat banyak pujian dari warga sekitar yang umumnya malas
memasak, sehingga gado-gado dan lotek ibu saya menjadi semacam unggulan
dalam bisnis skala keluarga itu. Maklum, ibu-ibu disana kan hanya IRT alias
malas memasak dan tugasnya hanya menunggu suami pulang kantor.

 

Inti paparan ini senada dengan berita Pak Dwiagus, bahwa diperlukan
ketekunan unik dan teknik khusus untuk mengubah tanah gersang menjadi berkah
!

 

Salam,

Djarot

 

 

 

No virus found in this incoming message.
Checked by AVG - http://www.avg.com
Version: 8.0.138 / Virus Database: 270.5.0/1558 - Release Date: 17/07/2008
09:56

<<~WRD000.jpg>>

<<image001.jpg>>

<<image002.jpg>>

Kirim email ke