Pak Dwiagus, menarik ceriteranya ya, dan bagi saya mengungkat pengalaman lama. Sekitar tahun 1974 s.d. 1975 saya masih usia SMP dan kami sekeluarga tinggal di Biak. Kebetulan lahan yang kami tempati benar-benar batu karang, meskipun di tepi jalan raya dari kota ke bandara Mokmer (Frans Kaisiepo). Kemarin saya iseng menengok bekas tempat tinggal kami lewat google earth dan keliharan masih menjadi lahan terbuka. Pulau Sapomi di belakang rumah saya masih berdiri tegak, disanalah sering saya main-main di pantainya melihat ikan warna-warni di perairan laut berbatu karang. Singkat ceritera, kami berhasil memanfaatkan tanah karang dengan teknik khusus. Lahan karang itu jelas tidak dapat ditumbuhi tanaman. Waktu itu saya seringkali menemukan banyak selongsongan peluru atau mortir di lahan kebun bertanah karang itu, sisa-sisa perang dunia II. Jadi tanah itu justru banyak mengandung sisa-sisa perang. Tetapi dengan mengumpulkan tanah subur di tempat-tempat tertentu, misalnya di dalam kaleng-kaleng bekas wadah cat atau pada cekungan tertentu, kami berhasil menanami kangkung, lombok dan tomat secara nyaris rutin. Ya skalanya kecil-kecilan sebab hanya untuk konsumsi keluarga. Pengairan memang dilakukan rutin, setiap hari pagi-sore disirami mirip menyirami tanaman hias di halaman rumah. Hebatnya, ibu saya berhasil memanfaatkan hasil kebun sayuran itu untuk jualan lotek atau gado-gado yang enak rasanya dan amat digemari warga pendatang di sekitar kami. Nah dari ketekunan itulah, kami berhasil menghemat dan menabung untuk kemudian pulang ke Jawa satu per satu. Kami waktu itu tujuh orang sekeluarga, saya pulang ke Jawa tahun 1976 awal sebagai orang pertama. Berikutnya adik-adik saya dan terakhir ayah saya. Kami yang mendapat beaya pulang ke Jawa memang hanya 3 orang, tetapi lumayan sebab merupakan usaha dari kebun dan kios rokok kecil. Waktu itu kebun keluarga kami mendapat banyak pujian dari warga sekitar yang umumnya malas memasak, sehingga gado-gado dan lotek ibu saya menjadi semacam unggulan dalam bisnis skala keluarga itu. Maklum, ibu-ibu disana kan hanya IRT alias malas memasak dan tugasnya hanya menunggu suami pulang kantor. Inti paparan ini senada dengan berita Pak Dwiagus, bahwa diperlukan ketekunan unik dan teknik khusus untuk mengubah tanah gersang menjadi berkah ! Salam, Djarot

