Haloo,

persoalannya memang tidak sederhana...

integrasi kehidupan, tapi ada jurang pendapatan...

sy kira tidak akan mudah myakinkan teman-2 kita di GLodok yg sempat
menderita amuk-masa terorganisir 10tahun lalu utk kembali mengambil resiko
menjadi korban utk kedua kalinya.

salam,
-K-



2008/7/15 Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]>:
>
> Mas Djarot,
>
> Mohon maaf saya tidak mengungkapkan hasil penelitian secara keseluruhan,
saya coba untuk mencari file tersebut. Mungkin itu yang menjadi misleading
dari soal penelitian tersebut yang dibiayai LIPI. Kami waktu itu setuju
dengan penelitian ini karena fenomena pemukiman berpagar dan kota di dalam
kota (yang diurus oleh developer) telah memisahkan penduduk setempat dengan
para pendatang. Hal ini dikhawatirkan akan menimbulkan kesenjangan dan
kerawanan sosial. Kami setuju kalau penelitian tersebut akan menghasilkan
cara-cara mengatasi kesenjangan tersebut. Kami sadar kalau pemukiman
berpagar tidak bisa kita hentikan karena pasar properti menghendaki seperti
itu.  Memang mengejutkan bahwa masyarakat kota (bukan yang miskin)
menyenangi kalau pemukimannya berpagar..... nah bagaimana hasil penelitian
yang kita kehendaki untuk mengatasi masalah ini... sayangnya saya tidak ikut
menyimak kelanjutannya karena penelitian ini berjalan dalam kurun 3 tahun.
Saya coba untuk mencari file tersebut di LIPI, mudah2an masih ada.
>
>
> Salam
> Aunur Rofiq
>
> ----- Original Message ----
> From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected]
> Sent: Tuesday, July 15, 2008 7:53:14 AM
> Subject: Re: Fw: [referensi] Hak Developer atas jalan
>
> Wah menarik nih, tetapi ada pertanyaan dan komentar yang bisa dicuatkan
biar rada menggoyang pikiran-pikiran "mapan" kita heheheh...
>
>
>
> (1) Mas apakah bisa dijelaskan, masyarakat mana yang menyambut baik hasil
penelitian tersebut, saya kok nggak bisa membayangkan gambaran yang lebih
lengkap. Misalnya, yang menyambut baik adalah para masyarakat mapan, atau
yang nggak mapan, atau yang mana. Apakah peserta forum presentasi sudah
dapat dikatakan "masyarakat seluruhnya" atau "hanya mewakili sebagian" atau
bagaimana ? Ini saya tiru-tiru Gus Dur lho setiap kali melihat fenomena
kelompok yang mengatasnamakan sesuatu ! Baik juga, bisa lebih kritis...
>
>
>
> (2) Kira-kira apanya yang membuat mereka menyambut baik "pola kota di
dalam kota" itu. Ini bukannya saya nggak setuju lho mas soal kota di dalam
kota itu, tetapi dalam pikiran saya, setuju atau tidak setuju masih
dikambangkan.... Nah kalau informasi tersebut agak jelas, kita bisa lebih
memahami situasinya. Misalnya, mereka setuju karena proses penciptannya
melibatkan banyak pihak sehigga kehadiran perumahan berbenteng justru
diinginkan "masyarakat lokal". Bisa juga bukan proses yang berperan, mungkin
ada harapan dan dampak yang mereka inginkan, misalnya dibayangkan terjadi
simbiosis mutualisme yang permanen antara "pendatang" dengan "asli" sehingga
memberi hidup bagi semuanya....bisa jadi begitu !
>
>
>
> 3. Developer memang selalu begitu mas, dan celakanya saat itu mendapat
pengukuhan dari penelitian yang didanai LIPI, sebuah lembaga bergengsi dalam
dunia riset. Saya tidak dapat membayangkan bagaimana kualitas hasil risetnya
sebab nggak tahu laporan risetnya, untuk membayangkan seberapa jauh dan
mendalam investigasinya. Jadi ya masih skeptislah soal "kebenaran" yang
diungkapkan di dalam riset itu....apalagi digeneralisasi lebih lanjut,.....
wah resikonya nggak kebayang deh mas...
>
>
>
> 4. Perumahan di tempat saya tinggal dibangun di tepi desa, jadi diatas
tanah sawah, menempel di kompleks perumahan penduduk asli. Memang bukan
perumahan elite karena hanya tipe 21 s.d. 54 saja. Kami warga perumahan tahu
diri, maka ada usaha-usaha komunikasi dengan warga setempat agar terjadi
pembauran sosial, minimal terjadi pergaulan yang akrab. Kami bekerjasama
dengan warga setempat dengan hati-hati dan cermat ketika membangun pagar
keliling perumahan demi keamanan perumahan kami. Pada waktu itu sukses, dan
disisakan dua lobang untuk pintu masuk bagi warga dua perumahan untuk akses
bersama. Tetapi mas, perlu diingat bahwa perumahan kami memang banyak orang
yang maunya integrasi dengan warga lama sambil tetap menjaga privacy
masing-masing.
>
>
>
> 5. Jika kita ikuti cara pandang developer ya memang begitu, sebab yang di
Jakarta, mereka tidak sekedar membangun lalu ditinggal pergi melainkan
menciptakan pekerjaan terus menerus untuk dirinya sendiri dengan cara
mengurusi kompleks perumahan yang dibangun tersebut. Mirip fenomena
apartmen-lah, yang selalu dikelola oleh unit organisasi tertentu. Jadi ya
kembali lagi, bisnis ekonomi yang menjadi basisnya. Akibatnya, hidup menjadi
mahal, dan kadang tanpa sengaja justru melestarikan sikap "orang kaya, bisa
beli, toh sudah bayar, kan selesai". Kalau tiba giliran mati
listrik....karena negara krisis listrik....ya rakyat kecil yang menanggung
sebab mereka bisa beli jenset.....
>
>
>
> 6. Informasinya mungkin perlu diperjelas ya mas.....please... sori jika
terlalu menuntut....
>
>
>
> Demikian pertanyaan dan komentar saya, Bagaimana mas ?
>
>
>
> Salam,
>
> Djarot
>
> --- On Tue, 7/15/08, Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> From: Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]>
> Subject: Re: Fw: [referensi] Hak Developer atas jalan
> To: [email protected]
> Date: Tuesday, July 15, 2008, 11:03 AM
>
> Pak Aby, mas djarot,
>
> Sekitar 3 tahun yang lalu LIPI pernah memberi dana riset ke kelompok dari
jogja yang meneliti fenomena pemukiman berpagar dan "kota di dalam kota".
Yang jelas saya ingat waktu presentasi hasil penelitiannya bahwa baik
masyarakat, lebih-lebih developer sangat mendukung pemukiman model tersebut,
karena mereka menganggap pemerintah daerah tidak mampu menyediakan kebutuhan
mereka akan keamanan, keindahan dan penyediaan sarana pemukiman yang baik.
>
>
> Salam
> Aunur Rofiq
>
> ----- Original Message ----
> From: Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Sent: Tuesday, July 15, 2008 6:17:39 AM
> Subject: Re: Fw: [referensi] Hak Developer atas jalan
>
> Pak ABY, dan sahabat semua, menurut saya memang sekarang di banyak tempat
telah berkembang fenomena klaster-klaster perumahan (terutama elite) yang
cenderung memisahkan diri dari lingkungan sekitarnya. Keterpisahan tersebut
bukan sekedar karena hak pemilikan properti, lebih-lebih juga didorong oleh
intensi para developer yang melihat privacy sebagai sebuah nilai jual yang
mahal, khususnya bagi kalangan elit (orang kaya). Begitu kuatnya makna nilai
privacy ini sampai-sampai developer mengembangkan konsep "kota di dalam
kota". Hal ini di satu sisi memprihatinkan, karena terjadi separasi kelompok
masyarakat secara alamiah lewat bantuan developer yang menangkap dengan
cerdas komoditas elitis itu untuk dijual demi keuntungan ekonomis. Artinya,
developer kita cenderung menganut arus berpikir yang kurang memperhatikan
persoalan sosial lingkungan masyarakat kita yang sedang dalam situasi
pancaroba: modern belum tradisional juga tidak, mirip fenomena Jawa Bingung,
Landa Tanggung.... hehehehe. ..
>
>
>
> Jika kita berpikir lebih mengedepankan wawasan kebangsaan (wah !) tindakan
penataan ruang oleh kalangan terdidik (planner, developer, dsb....juga
arsitek lho Pak), semestinya mengikuti pikiran yang kritis (sosiologi kritis
?) yang melihat apakah langkah perencanaan atau keputusan perencanaan yang
dilakukan sungguh membangun proses emansipatoris bagi semua pihak. Apakah
tindakan kita sungguh menciptakan perubahan yang "menghapuskan"
belenggu-belenggu bagi manusia, termasuk belenggu yang diciptakannya sendiri
? Pada titik ini saya mempertanyakan, apakah kita hanya menganut intensi
pribadi dan teori-teori yang berseliweran di dunia gaib para intelektual
tanpa menganut suatu "ideologi" yang lebih mencerahkan dan emansipatoris
sehingga mendorong terciptanya gerakan ke arah kehidupan yang lebih baik
bagi bangsa kita sekarang dan masa depan ?
>
>
>
> Pertanyaan praktisnya, apakah kita akan diam saja dan membiarkan fenomena
kota di dalam kota sebagai sebuah konsep pilihan untuk membangun lingkungan
kehidupan manusia di kota-kota besar dengan resiko kotak-kotak dan
pengelompokan masyarakat semakin menegas ? Ataukah kita juga punya
upaya-upaya yang lain, misalnya dengan konsep yang berbeda yaitu setiap hal
(perumahan) baru semestinya bersatu dan menyatu dengan apa-ada yang sudah
ada sebelumnya di tempat itu ? Jadi ada integrasi fisik sekaligus integrasi
kehidupan ? Tapi memang persoalannya tidak sederhana... .
>
>
>
> Salam,
>
> Djarot

Kirim email ke