"Nuzul Achjar" [EMAIL PROTECTED] wrote :
“……Kalau referencier berkenaan, kenapa tidak kita diskusikan konsep "triple 
helix" sehingga lebih jernih melihat perspektif pengembangan "science park"…..”.
 
Tentang triple helix setuju saja pak…… saya kira universitas tak ada sulit 
untuk segera membuatnya….. Duduk perkaranya khan kalau para ekonom bisa  enteng 
langsung bicara tentang “we ‘d better have and make something new somewhere”….. 
sementara itu tugas planner yang nggak enak khan (seharusnya selalu ngotot) 
mengingatkan  sebagai “yaa...yes…but where?”… sebagai perkara yang paling 
pokok…… sebab kalo nggak ya lalu nanti seperti  biasa…..… apa-apa yang mudah, 
cepat dan efisien membuatnya ya lalu dimana lagi kalo tidak  akan selalu di 
Jawa/ Jabodetabek…….. Atau janganlah giliran kelewat semangat  lalu sebaliknya 
….. membuat 13 kapet ditempat2 sangat terpencil dengan akibat yang 11 
tewas……lalu itu namanya malu2in (sains perencanaan)……
 
Kalo untuk semacam science/ technopark …. yang jelas Jababeka dan BSD sudah 
sejak lama memilikinya dan masih banyak kapling kosongnya bukan?……. 
 
Sepertinya untuk terus memperbaiki serta meningkatkan  kinerja sosial-ekonomi 
negeri ini….kita perlu lebih banyak mengkonsolidasikan relokasi dari 
kostelasi-konstelasi keruangan dari unit2 mesin perekonomian kita maupun 
populasi kita……dalam kerangka hal yang sangat penting pula.. ialah “penyebaran 
pekerja kerah putih dan atau  pekerja pendapatan menengah atas sebagai kelas 
kreatif  yang akan menghasilkan dampak  ganda (multiplier effect) yang besar 
dan luas pula……..  
dan yang paling efisien saya kira adalah bentuk2 hirarkhial/ mendekat  pada 
kutub pertumbuhan (contoh : Batam closed to Singapore)….. karena dalam hirarkhi 
terdapat efisiensi serta  magnet daya tarik yang terbaik……… 
Atau kalau tak ada lagi berkah  fenomena ‘kedekatan dgn Singapore’ ditempat 
lain…….. ya apa lagi kalau  tidak kita lalu  perlu berkonsentrasi pada upaya 
“menciptakan  aglomerasi baru” (dan bukannya persebaran investasi atau 
‘persebaran ambisi menarik investor’ dimana2… dimana tiap wilayah secara 
irasional berlomba2 sama2 ingin menarik investasi asing semua …. Tanpa 
memikirkan seberapa besar remah2  ‘magnet daya tarik’ yang akan diperoleh 
masing2 akibat ‘perebutan’ itu)……… sambil mending kalau investornya mau karena 
melihat kesiapan masyarakat lokalnya/prasarana yang kurang….….
 
Upaya pengembangan aglomerasi baru adalah diantaranya seperti dengan 
konsentrasi studi tentang  “relokasi industri” (yang bisa diperkecil tingkat 
kerumitannya dengan ‘filialisasi’)….  Studi menarik migrasi kerah putih….. 
studi mengembangkan arsitektur untuk mengembangkan pariwisata……  karena mungkin 
kita masih akan berpeluang besar dalam ambisi mengembangkan wisata budaya/ 
arsitektur/ amenity resources  (ingat keberhasilan Bali sebagai nomor wahid, 
juga Yogya)…. Lebih dari pada ambisi lomba triple helix/  techno/ sciencepark  
melawan tetangga2 dekat seperti  Singapore/ Hongkong/Sidney/KL/ Bangkok…… walau 
belum tentu juga kita nggak punya peluang…….
 
Akh tapi mohon maafkan saya ya kalau salah?……
 
Salam,
aby
--- On Mon, 9/22/08, Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Nuzul Achjar <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: [referensi] Re: Surat Nyasar Bahan Analisis EPZ
To: [email protected]
Date: Monday, September 22, 2008, 12:01 PM










Pak Eka, Pak BTS dan Milister Ysm,
 
   Lepas dari apakah posting tentang EPZ di milis referensi ini adalah sebuah 
"kecelakaan" atau pancingan    untuk bahan diskusi, mungkin ada referenciers 
yang punya info bagaimana perkembangan RUU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)? Dulu 
sempat diajak oleh seorang pengamat ekonomi untuk acara "hearing" di DPR 
membahas RUU ini, namun kemudian dibatalkan. Entah bagaimana sekarang 
perkembangannya. Sampai sekarang saya tidak tahu "bocoran" RUUnya, katanya sih 
masih confidential.
 
Terus terang, walaupun saya belum tau persis materi RUU KEK tersebut, namun 
dari usulan yang muncul oleh berbagai pihak, saya masih mengkhawatirkan materi 
RUU tersebut. Latar belakang dan sejarah Special Economic Zone (SEZ) Cina yang 
dijadikan salah satu benchmark sangat berbeda dengan kondisi Indonesia, 
sehingga perlu ekstra hati-hari untuk menerapkannya. 
 
Well, mudah-mudahan kekuatiran saya tidak beralasan. Faktor utama kekuatiran 
saya adalah melihat perkembangan Kapet yang ada serta pergeseran konstelasi 
pusat kegiatan ekonomi Asia Pasifik. 
 
Kalau referencier berkenaan, kenapa tidak kita diskusikan konsep "triple helix" 
sehingga lebih jernih melihat perspektif pengembangan "science park"..
 
Wassalam,
 
Nuzul Achjar  

 

 














      

Kirim email ke