Pak Aby, Pak Risfan dan Rekan-rekan Referenciers Ysh, Terminologi Science Park berakar dari pengembangan industri (hightech) yang butuh research and development (R&D) sehingga selalu dikaitkan dengan lembaga riset universitas, sebagai salah satu komponen Triple Helix atau ABG sebagaimana dikatakan pak Risfan.
Kalau dilihat dari latar belakang istilah science park itu sendiri jikapun ada industri (hightech) di Jababeka atau BSD seperti yang diindikasikan oleh pak Aby, hal itu belum dapat dikatakan sebagai science park, karena tidak ada komponen lembaga riset. Mungkin baru cikal bakal science park, jika dikaitkan dengan rencana Mochtar Riyadi mengembangkan teknologi nano dengan dukungan riset dari Universitas Pelita Harapan, itupun minus peranan pemerintah (daerah). Di banyak negara, science park itu memang kerjasama segitiga Lembaga Riset, Swasta dan Pemerintah. Mengapa pemerintah? Ini erat kaitannya dengan revitalisasi industri, sekaligus daya saing daerah (dimensi ruang) sehingga butuh lembaga riset perguruan tinggi dan dukungan swasta yang memanfaatkan hasil riset. Tidak heran, science park dekat dengan universitas dan bekas kawasan industri yang sudah mati (sunset industry). Ide pak Risfan masuk diakal, kenapa harus industri (hightech)? Bukankah industri tradisional dengan lokal content tokh tinggi juga butuh riset untuk meningkatkan daya saing. Pemerintah dan swasta kan juga punya kepentingan? Saya kira pak Risfan ingin berpikir "out of the box", tapi pemikiran pak Risfan tak perlu menjadi bagian dari science park walaupun substansinya sama karena butuh riset, butuh campur tangan pemerintah (daerah) dan swasta untuk produksi dan pemasaran. Tapi belum kelihatan ya dinas perindustrian di daerah punya pemikiran yang searah dengan pak Risfan. Tanya kenapa? Wassalam, Nuzul Achjar

