Bang Nuzul dan rekans ysh, Kebetulan dua minggu yl saya 'menggung' bersama pembicara dari Menristek. Saya bicara tentang Resource Development Center sebagai pusat pelayanan bagi klaster UMKM, beliau bicara tentang jaringan BTC (Business Technology Center). BTC adalah jaringan pusat layanan riset/teknologi yang terintegrasi dengan pusat sejenis di 'dunia'.
Di Indonesia sudah dirintis beberapa BTC, misalnya di Batam, Jakarta, Bandung, Jajabeka, Salatiga, Jogya, Surabaya, Makassar, Kendari. Dalam hal ini selain triple A-B-G itu dilibatkan juga asosiasi seperti Kadin, PII, dan lainnya, business development service (BDS). Tujuan utama sesuai mottonya "technology to the market". Ini tampaknya merupakan langkah moderate/realistis, membawa technologi maju kepada realita kegiatan utama daerah sesuai kondisi masing-masing. Kekuatannya barangkali adalah network ristek internasionalnya, universitas sebagai 'host'nya, dan lokal "kemitraan stakeholders" produsen (klaster) dan masyarakat setempat. Disertai program inkubasi bisnis yang tentunya bermanfaat bagi pelaku UKM untuk mengorganisir diri dalam klaster inter-produsen, untuk ekspose ke dunia internasional. Sebagai catatan, berbeda dengan high-tech kita, yang kalau ada masih di dunia riset, produksi sektor tradisional kita dikenal secara internasional. Dunia mengenal Indonesia sebagai penghasil kerajinan batik, jamu, kretek, ukir, kerajinan logam dst, dan jutaan pekerjaan ada di situ, orang terkayanya juga dari situ. Daripada yang dari sektor industri besar yang ternyata daya serap tenaga kerjanya terbatas, padat modal, dan sebagian besar desain/lisensinya yang mahal mengalir ke negara asalnya. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Aby, Pak Risfan dan Rekan-rekan Referenciers Ysh, > > Terminologi Science Park berakar dari pengembangan industri (hightech) yang > butuh research and development (R&D) sehingga selalu dikaitkan dengan > lembaga riset universitas, sebagai salah satu komponen Triple Helix atau ABG > sebagaimana dikatakan pak Risfan. > > Kalau dilihat dari latar belakang istilah science park itu sendiri jikapun > ada industri (hightech) di Jababeka atau BSD seperti yang diindikasikan oleh > pak Aby, hal itu belum dapat dikatakan sebagai science park, karena tidak > ada komponen lembaga riset. Mungkin baru cikal bakal science park, jika > dikaitkan dengan rencana Mochtar Riyadi mengembangkan teknologi nano dengan > dukungan riset dari Universitas Pelita Harapan, itupun minus peranan > pemerintah (daerah). > > Di banyak negara, science park itu memang kerjasama segitiga Lembaga Riset, > Swasta dan Pemerintah. Mengapa pemerintah? Ini erat kaitannya dengan > revitalisasi industri, sekaligus daya saing daerah (dimensi ruang) > sehingga butuh lembaga riset perguruan tinggi dan dukungan swasta yang > memanfaatkan hasil riset. Tidak heran, science park dekat dengan universitas > dan bekas kawasan industri yang sudah mati (sunset industry). > > Ide pak Risfan masuk diakal, kenapa harus industri (hightech)? Bukankah > industri tradisional dengan lokal content tokh tinggi juga butuh riset untuk > meningkatkan daya saing. Pemerintah dan swasta kan juga punya kepentingan? > > Saya kira pak Risfan ingin berpikir "out of the box", tapi pemikiran pak > Risfan tak perlu menjadi bagian dari science park walaupun substansinya sama > karena butuh riset, butuh campur tangan pemerintah (daerah) dan swasta untuk > produksi dan pemasaran. Tapi belum kelihatan ya dinas perindustrian di > daerah punya pemikiran yang searah dengan pak Risfan. Tanya kenapa? > > Wassalam, > > Nuzul Achjar >

