Triple Helix "ABG" (academician-business-government)? Kayaknya yang dikenal dunia dari Indonesia kok lebih banyak "kreasi pengrajin tradisional" seperti batik, ukir dst. Atau budaya Bali, Toraja, kampung-kampung kerajinan di Jogja dst.Dari universitas: insinyur, arsitek kan lebih banyak menerjemahkan karya dari dunia maju. Yang mungkin sulit diakui sebagai "kreasi negeri", patennya sudah dikunci mereka. Dunia bisnis, kebanyakan juga mengerjakan lisensi dari kreasi dunia maju, asembling, dan sejenisnya.
Jadi kenapa tidak menggali kreasi tradisional, dan mengembangkannya. Karena sepengamatan saya mereka sedang mengalami marjinalisasi. Pengrajin dan designer tradisional itu umumnya adalah buruh dengan penghasilan rendah. Sementara perantara dan usaha menengah besar yang dapat untung. Begitu pula seniman tari dst, mereka termarginalisasi, sementara tour operatornya yang untung. Kondisi tersebut rawan, karena semakin banyak orang asing yang tahu kondisi tersebut. Lalu mengajak para designer dan pengrajin berbakat yang kurang dihargai di negeri sendiri tersebut, lebih memilih ikut mereka. Sebagaimana banyak peneliti kita yang demi profesi, kreasi, pengabdian kepada kemanusiaan (penemu benih atau obat yang dibutuhkan umat manusia), dan keluarganya, akhirnya lebih memilih bekerja di negara orang. Kesimpulan saya, perlu "4-Helix" dengan melibatkan unsur tradisional. Di warisan tradisi-lah kita jayamahe. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > "Nuzul Achjar" [EMAIL PROTECTED] wrote : > " Kalau referencier berkenaan, kenapa tidak kita diskusikan konsep "triple helix" sehingga lebih jernih melihat perspektif pengembangan "science park" ..". > > Tentang triple helix setuju saja pak saya kira universitas tak ada sulit untuk segera membuatnya .. Duduk perkaranya khan kalau para ekonom bisa enteng langsung bicara tentang "we `d better have and make something new somewhere" .. sementara itu tugas planner yang nggak enak khan (seharusnya selalu ngotot) mengingatkan sebagai "yaa...yes but where?" sebagai perkara yang paling pokok sebab kalo nggak ya lalu nanti seperti biasa .. apa-apa yang mudah, cepat dan efisien membuatnya ya lalu dimana lagi kalo tidak akan selalu di Jawa/ Jabodetabek .. Atau janganlah giliran kelewat semangat lalu sebaliknya .. membuat 13 kapet ditempat2 sangat terpencil dengan akibat yang 11 tewas lalu itu namanya malu2in (sains perencanaan) > > Kalo untuk semacam science/ technopark . yang jelas Jababeka dan BSD sudah sejak lama memilikinya dan masih banyak kapling kosongnya bukan? . > > Sepertinya untuk terus memperbaiki serta meningkatkan kinerja sosial-ekonomi negeri ini .kita perlu lebih banyak mengkonsolidasikan relokasi dari kostelasi-konstelasi keruangan dari unit2 mesin perekonomian kita maupun populasi kita dalam kerangka hal yang sangat penting pula.. ialah "penyebaran pekerja kerah putih dan atau pekerja pendapatan menengah atas sebagai kelas kreatif yang akan menghasilkan dampak ganda (multiplier effect) yang besar dan luas pula .. > dan yang paling efisien saya kira adalah bentuk2 hirarkhial/ mendekat pada kutub pertumbuhan (contoh : Batam closed to Singapore) .. karena dalam hirarkhi terdapat efisiensi serta magnet daya tarik yang terbaik > Atau kalau tak ada lagi berkah fenomena `kedekatan dgn Singapore' ditempat lain .. ya apa lagi kalau tidak kita lalu perlu berkonsentrasi pada upaya "menciptakan aglomerasi baru" (dan bukannya persebaran investasi atau `persebaran ambisi menarik investor' dimana2 dimana tiap wilayah secara irasional berlomba2 sama2 ingin menarik investasi asing semua . Tanpa memikirkan seberapa besar remah2 `magnet daya tarik' yang akan diperoleh masing2 akibat `perebutan' itu) sambil mending kalau investornya mau karena melihat kesiapan masyarakat lokalnya/prasarana yang kurang . . > > Upaya pengembangan aglomerasi baru adalah diantaranya seperti dengan konsentrasi studi tentang "relokasi industri" (yang bisa diperkecil tingkat kerumitannya dengan `filialisasi') . Studi menarik migrasi kerah putih .. studi mengembangkan arsitektur untuk mengembangkan pariwisata karena mungkin kita masih akan berpeluang besar dalam ambisi mengembangkan wisata budaya/ arsitektur/ amenity resources (ingat keberhasilan Bali sebagai nomor wahid, juga Yogya) . Lebih dari pada ambisi lomba triple helix/ techno/ sciencepark melawan tetangga2 dekat seperti Singapore/ Hongkong/Sidney/KL/ Bangkok walau belum tentu juga kita nggak punya peluang . > > Akh tapi mohon maafkan saya ya kalau salah? > > Salam, > aby > --- On Mon, 9/22/08, Nuzul Achjar [EMAIL PROTECTED] wrote: > > From: Nuzul Achjar [EMAIL PROTECTED] > Subject: Re: [referensi] Re: Surat Nyasar Bahan Analisis EPZ > To: [email protected] > Date: Monday, September 22, 2008, 12:01 PM > > > > > > > > > > > Pak Eka, Pak BTS dan Milister Ysm, > > Lepas dari apakah posting tentang EPZ di milis referensi ini adalah sebuah "kecelakaan" atau pancingan untuk bahan diskusi, mungkin ada referenciers yang punya info bagaimana perkembangan RUU Kawasan Ekonomi Khusus (KEK)? Dulu sempat diajak oleh seorang pengamat ekonomi untuk acara "hearing" di DPR membahas RUU ini, namun kemudian dibatalkan. Entah bagaimana sekarang perkembangannya. Sampai sekarang saya tidak tahu "bocoran" RUUnya, katanya sih masih confidential. > > Terus terang, walaupun saya belum tau persis materi RUU KEK tersebut, namun dari usulan yang muncul oleh berbagai pihak, saya masih mengkhawatirkan materi RUU tersebut. Latar belakang dan sejarah Special Economic Zone (SEZ) Cina yang dijadikan salah satu benchmark sangat berbeda dengan kondisi Indonesia, sehingga perlu ekstra hati-hari untuk menerapkannya. > > Well, mudah-mudahan kekuatiran saya tidak beralasan. Faktor utama kekuatiran saya adalah melihat perkembangan Kapet yang ada serta pergeseran konstelasi pusat kegiatan ekonomi Asia Pasifik. > > Kalau referencier berkenaan, kenapa tidak kita diskusikan konsep "triple helix" sehingga lebih jernih melihat perspektif pengembangan "science park".. > > Wassalam, > > Nuzul Achjar >

