Mas Catur dan rekan milister ysh,
Wah panjang banget tulisan anda, tetapi lumayan buat nambah literatur. 
Menurut saya, 'planning' (dalam hal ini 'penataan ruang') itu suatu proses 
bukan produk, sehingga dalam perjalanannya sangat banyak dipengaruhi oleh 
berbagai faktor (poleksoshukbud) sesuai dengan perkembangan kondisi 
masyarakatnya dan 'pemimpinnya'. Bagaimanapun bagusnya produk 'planning' tetapi 
kalau dalam prosesnya kondisi masyarakat dan pemimpinnya 'amburadul' ya 
wujudnya 'samimawon'. 
Ada buku cukup bagus yang baru saya baca judulnya 'Politik Kota dan Hak Warga 
Kota, Masalah Keseharian kota Kita' editor: Chris Verdiansyah, Penerbit Buku 
kompas, Jakarta, Maret 2006. Buku ini sepertinya cocok sebagai contoh bagaimana 
suatu proses dalam 'planning' di negeri tercinta ini yang maaf memang banyak 
'amburadul' nya, mungkin mirip kalau kita kita bermain 'catur' tetapi sedang 
pusing he he... 
Selamat Berlebaran 1 Syawal 1429 H, minal aidzin walfaidzin, Mohon maaf lahir & 
batin.
Wassalam,
Onnos R. 



To: [EMAIL PROTECTED]; [email protected]; [EMAIL PROTECTED]: [EMAIL 
PROTECTED]: Sat, 27 Sep 2008 10:50:02 +0700Subject: [referensi] Mental Block 
Penata Ruang






Sebelum saya memulai tulisan yang insya allah bakal singkat ini. Ijinkan saya 
menyampaikan motif saya menulis tulisan ini bukanlah untuk menghujat alumni 
satu sekolah tertentu ataupun menghujat satu jenis profesi tertentu. Tulisan 
ini dibuat sebagai otokritik buat kita semua penata ruang (serta elemen yang 
menyertainya) dan mencoba mencari solusinya bersama-sama. Tulisan ini hanya 
menoca memaparkan sebagian permasalahan penataan ruang. Kata orang sih 
mengetahui persoalan itu setengah dari pemecahan masalah.
Saya pelaku penataan ruang, walau saat ini tidak banyak bergelut lagi di 
kerjaan bidang tata ruang. Tapi background sekolah memaksa saya untuk memliki 
concern besar terhadap penataan ruang. 
Penataan ruang di Indonesia itu sangat erat dengan pembangunan kota yang 
berjalan selama ini. Fatsoen nya apabila pembangunan kota berjalan sesuai 
dengan penataan ruang maka sebuah kota akan berjalan dengan baik. Bener 
gitu?????? Ini bukan pertanyaan sinis. Ini sebuah pertanyaan serius yang harus 
kita ajukan kembali ke diri kita masing-masing. Apa benar kalo penataan ruang 
berjalan dengan baik maka sebuah kota akan sejahtera dan baik.. For those of 
you who work on this field, it must be 100% correct.. tapi apa yang ada di 
kepala masyarakat kita. Masyarakat di sini tidak identik dengan masyarakat 
(what so called) kecil, termasuk di dalamnya investor dan lain sebagainya. 
Mungkin fatsoen tersebut benar adanya dan secara teoretik sudah dibuktikan oleh 
para perencana kota di berbagai belahan dunia (note; eropa dan amerika). Tapi 
kemudian kita lihat apa yang terjadi kemudian di lapangan tidak seindah yang 
dibayangkan bukan. Pembangunan kota berjalan dengan atau tanpa sebuah penataan 
ruang yang baik. Tapi yang jelas satu hal, ternyata penataan ruang di Indonesia 
lebih banyak kondisi negatifnya dibanding positifnya.
Beberapa Realita permasalahan yang terjadi di penataan ruang Indonesia menurut 
saya saat ini adalah
1. Tidak akuntabelnya rencana tata ruang 
"Accountability is a concept in ethics with several meanings. It is often used 
synonymously with such concepts as answerability, enforcement, responsibility, 
blameworthiness, liability and other terms associated with the expectation of 
account-giving. As an aspect of governance, it has been central to discussions 
related to problems in both the public and private (corporation) worlds." 
(Wikipedia)
Apa yang terjadi apabila sebuah dokumen public tidak dipercaya oleh Pelaksana 
dan masyarakat. Bagaimana sebuah rencana tata ruang dapat terlaksana apabila 
ada sebuah keraguan mengenai ketepatan, kesahihan dan validitas dokumen rencana 
tata ruang. Keraguan yang saya lihat ternyata tidak hanya di masyarakat, tetapi 
terjadi pada level pelaksana dari dokumen rencana. Implikasinya??? Jelas besar… 
tidak salah apabila pembangunan tidak sejalan dengan rencana tata ruang, kalau 
sudah ada ketidakpercayaan terhadap produknya.
Kondisi ini bisa disebabkan dua factor. Faktor pertama adalah proses 
penyusunannya yang tidak dipercaya. Entah itu metodenya yang using, penyusunnya 
yang tidak dipercaya, data yang gak valid, naskah yang copy paste dari daerah 
lain dan banyak lainnya yang membuat orang selalu mempertanyakan keabsahan 
sebuah produk tata ruang. Factor kedua adalah masyarakat tidak cukup dilibatkan 
dalam proses penyusunan rencana tata ruang. Proses penyusunan rencana tata 
ruang yang berorientasi teknokratis dan TOP DOWN (seperti Dewa menurunkan Sabda 
ke pengikutnya), menurunkan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap produk yang 
dihasilkan. 
2. Minimnya kapasitas SDM pelaksana penataan ruang
Saya bukan bermaksud mengecilkan profesi lain atau sekolah orang. Tapi ini riil 
di lapangan, manakala rencana tata ruang yang complicated, rumit dan 
sophisticated kemudian harus diterjemahkan oleh orang-orang yang tidak memiliki 
kompetensi di bidang tata ruang. Akhirnya yang kemudian terjadi adalah 
pelanggaran (yang disebut) kaidah-kaidah tata ruang dalam pelaksanaan 
pembangunan. Ya jelas lah dilanggar, orang gak ngerti istilah dalam Buku 
rencana tata ruang. Ini persoalan mendasar di era desentralisasi, dimana banyak 
pos yang tidak ditempati the right man on the right place. Ini sebuah persoalan 
yang harus di atasi, karena kalau tidak banyak orang akan masuk penjara karena 
pelanggaran tata ruang bukan akibat keinginan untuk melanggar. Tapi akibat 
ketidak tahuan dan ketidakmengertian terhadap produk rencana tata ruang itu 
sendiri
3. Tidak membuminya penataan ruang sebagai wacana publik 
Penataan ruang itu hanya milik lulusan sekolah perencanaan?? Mungkin harusnya 
tidak. Kenyataannya?? Terminology-terminologi yang melangit dengan dokumen 
rencana yang kompleks ternyata mengakibatkan ketidakpahaman terhadap penataan 
ruang. Yang kemudian terjadi tidak pernah ada diskusi di ranah public mengenai 
penataan ruang yang tuntas. Implikasinya proses check and balance terhadap 
penataan ruang sebuah wilayah hanya wacana sesaat dan "anget2 tai ayam", yang 
tidak pernah tuntas.
Sebenernya lebih banyak lagi persoalan di penataan ruang.tapi gak tega 
membukanya secara detil karena takut menambah pesimisme kalangan pelaku penata 
ruang (terutama generasi muda dan mahasiswa). 
Anyway, apa yang menyebabkan persoalan ini?? (jawaban standar) Banyak sekali 
factor yang menyebabkan hal ini terjadi di kemudian. Tapi ada satu fenomena 
yang saya amati yang saat ini terjadi di kalangan penata ruang. Fenomena itu 
saya sebut Mental Block Penata Ruang. 
Mental block itu adalah kondisi psikologis manusia yang menghalangi seseorang 
manusia utuk mencapai tujuan. Hal ini biasanya terjadi manakala inidividu 
memiliki sebuah "program" dalam pikirannya untuk tidak melakukan satu hal. 
Salah satu contoh yang saya kutip dari situs salah seorang psikolog sebagai 
ilustrasi mental block itu sebagai berikut;


Ini dari kasus klinis yang pernah saya tangani. Ada seorang wanita, sebut saja 
Rosa, cantik, ramah, cerdas, pintar cari uang, dan mandiri tapi sampai saat 
bertemu saya, usianya saat itu 35 tahun, masih jomblo alias single, belum dapat 
jodoh. 
Rosa juga bingung mengapa ia sulit dapat jodoh. Ada banyak pria yang suka 
padanya. Namun setiap kali pacaran dan jika sudah masuk ke rencana untuk 
menikah, selalu muncul masalah sehingga hubungan mereka akhirnya putus. 
Setelah dicari akar masalahnya, saya menemukan program pikiran, di pikiran 
bawah sadarnya, yang sangat baik namun justru bersifat menghambat dirinya untuk 
bisa dapat jodoh.
Apa itu?
Ternyata ayah Rosa meninggal saat ia masih kecil, usia 7 tahun. Sejak saat itu 
ibunya yang bekerja keras menghidupi keluarga mereka. Bahkan pernah sampai 
jatuh sakit dan hampir meninggal. 
Nah, pas saat ibunya sakit keras,Rosa berdoa dan mohon kesembuhan untuk ibunya. 
Dan dalam doanya ia berjanji bahwa ia akan membalas semua pengorbanan ibunya, 
setelah ia dewasa kelak, dengan selalu menyayangi dan mendampingi ibunya. 
Janji ini ternyata masuk ke pikiran bawah sadarnya dan menjadi program. Benar, 
sejak saat itu dan hingga ia dewasa Rosa adalah anak yang begitu sayang pada 
ibunya. Selama ini program pikirannya telah sangat membantu Rosa dalam 
menjalani hidupnya. Rosa bekerja keras, menjadi anak yang sangat mencintai 
ibunya. Dan ibunya juga begitu bersyukur dan bahagia karena mempunyai anak yang 
begitu menyayanginya. Nah, program yang sangat positif ini tiba-tiba berubah 
menjadi program yang menghambat (baca: mental block) saat Rosa ingin 
berkeluarga. 
Program ini mensabotase setiap upaya Rosa untuk mendapat pasangan hidup. Saat 
saya berdialog dengan "bagian" (baca: program) yang tidak setuju bila Rosa 
menikah, saya mendapat jawaban yang jelas dan lugas. Ternyata "bagian" ini 
khawatir Rosa tidak bisa menepati janjinya, menyayangi dan mendampingi ibunya 
karena bila menikah, menurut pemikiran "bagian" ini, Rosa harus mengikuti 
suaminya dan meninggalkan ibunya sendiri. "Bagian" ini tidak setuju dengan hal 
ini. 
http://www.pembelajar.com/wmview.php?ArtID=1184&page=1

Untuk konteks penataan ruang, Mental block telah terjadi di kalangan penata 
ruang. Fenomena ini mengakibatkan terjadinya stagnansi dalam proses penataan 
ruang yang menyebabkan penataan ruang tidak progressif. Terlalu kasar?? Mohon 
maaf, mungkin memang saya terlalu hiperbolik. Tapi saya kesulitan untuk 
menemukan kata yang lebih halus untuk menggambarkan kata yang ada saat ini.
Fenomena mental block di kalangan penata ruang diindikasikan oleh beberapa hal 

Tidak Progresif 
Metode dalam menata ruang dari semenjak saya sekolah sampai saat ini tidak 
banyak berubah. Inovasi-inovasi dalam merencana ruang sangat minim sekali 
terjadi. Struktur dalam rencana ruang (walau memang sudah dipersyaratkan dalam 
pedoman penataan ruang) ternyata sudah sangat lama sekali digunakan tanpa ada 
inovasi dari para pelakunya. Yang kemudian terjadi adalah copy paste rencana 
ruang dari satu kota ke kota lain, dari satu kabupaten ke kabupaten lain. 
Kenapa?? Karena hal itu sangat dimungkinkan. Perencana ruang tidak di tuntut 
untuk melakukan inovasi. Mereka di tuntut untuk menghasilkan rencana ruang at 
all cost. Tidak seperti bidang pekerjaan lain dimana para pelaku berlomba-lomba 
untuk melakukan inovasi karena berkaitan erat dengan pekerjaan yang akan 
diambil, di penataan ruang inovasi adalah hal yang jarang disentuh. Padahal 
sebagaimana kita ketahui bersama, inovasi lah yang menentukan hidup matinya 
sebuah profesi dan bidang ilmu. Tanpa inovasi maka akan terjadi stagnansi 
intelektual yang berujung pada dekadensi kompetensi dan kualitas pelakunya (ini 
contoh penggunaan bahasa planner, sangat berbunga-bunga). Pelaku penata ruang 
tidak bersemangat untuk melakukan inovasi diakibatkan tidak adanya insentif 
untuk melakukan itu. Inovasi tidak mengakibatkan didapatkanya pekerjaan baru 
atau naiknya pendapatan. Penggunaan metode yang selalu sama ternyata 
mengakibatkan kebosanan di kalangan pembaca dokumen rencana tata ruang.
Hal ini ditambah tidak munculnya tokoh2 baru dan muda dalam penataan ruang yang 
diakibatkan tidak ada pengaruh terhadap muncul atau tidaknya mereka dalam 
tataran konstelasi penataan ruang. Akibatnya hanya segelintir orang yang terus 
menerus untuk dijadikan referensi penataan ruang. Akhirnya pula yang kemudian 
terjadi wacana yang ditawarkan pun tidak beragam dengan landasan pemikiran yang 
dibangun tidak oleh orang banyak. 

Latah Wacana
Pernahkah kita mendengar isu penataan ruang sebagai sebuah isu sentral dan 
hangat dibicarakan?? Pernahkan isu penataan ruang menjadi konsumsi kampanye 
para calon pilkada?? 
Isu penataan ruang hanya hangat dibicarakan oleh orang banyak manakala terjadi 
Banjir di Jakarta. Itupun hanya menjadi side issue yang dibicarakan 1-2 minggu. 
Pelaku Penataan ruang saat ini latah dalam melakukan wacana public. Isu 
penataan ruang hanya muncul tatkala ada isu lain yang lebih heboh terjadi. 
Tidak ada mainstreaming isu penataan ruang. 
Penata ruang hanya bersifat follower isu semata dan tidak berhasil menciptakan 
isu-isu penataan ruang ke ruang publik untuk didiskusikan dan diwacanakan. Kita 
pun tidak berminat untuk melemparkan wacana public karena merasa itu tidak ada 
respon. Padahal apabila berbicara di kalangan internal, semua pelaku penataan 
ruang merasa penataan ruang adalah hal paling penting yang harus dipikirkan 
republik ini. Tapi ketika di luar forum, isu-isu seperti itu tidak pernah 
muncul. Sorry to say, saya lebih banyak mengatakan para pelaku penataan ruang 
sebagai Jago Kandang saja. Walau saya tidak menutup mata terhadap usaha-usaha 
beberapa perencana ruang yang mengekspose wacana keruangan di masyarakat. 
Mungkin usaha mereka belum optimal, karena masalah packaging issue yang kurang 
seksi

Kesenjangan Informasi
Seperti yang sudah saya sampaikan sebelumnya. Banyak perencana ruang yang 
berawacana di tataran langit dan melupakan apa yang ada di Bumi. Melihat 
masalah secara komprehensif lebih diutamakan daripada melihat persoalan secara 
riil. Yang kemudian terjadi adalah eksklusivitas pemikiran dan intervensi dalam 
proses penataan ruang yang mengakibatkan terbatasnya sumbang pemikiran dari 
luar. Istilah-istilah yang scientific dan tidak responsif terhadap masyarakat 
mengakibatkan public tidak memahami pengaturan ruang dan implikasi terhadap 
kehidupan mereka. Terdapat kesenjangan informasi dan akses yang oleh para 
penata ruang "sepertinya" dibiarkan begitu saja akibat ketakutan apabila semua 
mengerti tata ruang maka hegemoni mereka sebagai perencana pun diragukan. 
Mungkin ini nature sebuah ilmu yang tidak memiliki backbone , sehingga mudah 
untuk di masuki

Mental block menghalangi kita penata ruang untuk melakukan inovasi dan 
progresif. Hal ini kemudian yang menyebabkan tidak adanya progresivitas dalam 
perencanaan ruang. Bila hal ini dibiarkan berlanjut maka saya bisa bilang ada 
sebuah kekhawatiran dunia ini sendiri akan mengalami penurunan kualitas.
Sehingga tidak heran bisa kita katakan bahwa kondisi penataan ruang yang 
sedemikian ini merupakan akumulasi "dosa" para penata ruang, termasuk saya dan 
rekan-rekan sekalian. 
Solusinya?? Maaf saya baru bicara masalah.. solusi saya lanjutkan di edisi lain

-catur--- Elkana Catur HardiansahCPMU USDRP-Planning OfficerDirectorate 
Programme DevelopmentDirectorate General Human SettlementsMinistry of Public 
Workshttp://catuy.blogspot.comhttp://perencanamuda.wordpress.com/
 





_________________________________________________________________
Easily publish your photos to your Spaces with Photo Gallery.
http://get.live.com/photogallery/overview

Kirim email ke