Selamat Idul Fitri 1429 H maaf lahir batin……… Milisters semuanya ysh, Maaf... baru usai lebaran sudah mulai dengan kritik-ktirik lagi..... Setelah membaca posting kedua mas Catur : ‘Progresivitas Dunia Perencanaan’ setelah sebelumnya yang pertama : ‘Mental Block Penataan Ruang’ …. saya seperti merasa ada perubahan dalam pendapat saya …. Kalau semula saya senang karena mengira rakyat akan merasakan ‘perubahan’ (kemajuan)…. Karena mengira ini adalah masalah ‘kesadaran sekelompok planner muda akan perbaikan masa depan (hasil) perencanaan (bagi maslahat perbaikan nasib rakyat)’…. Tapi setelahnya…. Kok saya pikir ini setengahnya seperti tak lebih dari sekedar ‘keresahan’ sekelompok planner muda akan ‘terhalangnya’ peluang ‘perbaikan masa depan kelompok-mudanya’ dengan numpang memakai atas-nama kepentingan ‘dunia perencanaan’….. karena memang yang namanya dunia perencanaan’ tentu lebih merupakan ‘dunianya kaum perencana’…. Lebih daripada ‘dunianya hasil perencanaan bagi maslahat rakyat’…. Jadi ini sepertinya setengahnya atau kurang sedikit lebih merupakan sikap tidak puas dari sekelompok kaum muda planners atas kemapanan ‘kaum tua’nya karena seperti tak jelas ‘kaum tuanya’ itu kapan mau turunnya …. baik dibirokrasi ataupun diorganisasi propesi … (padahal kalo di birokerasi khan jelas… setelah usia 55th, dan diorganisasi propesi bukankah memakai cara voting) … atau setidaknya bagaimana mau ‘berbagi kemapanan’ kepada yang muda…… Jadi bagi para outsiders yang mengharapkan datangnya ‘perubahan nyata bagi perbaikan kehidupan rakyat melalui teknologi penataan ruang oleh para mudanya’….. harap jangan lekas bergembira…. Karena ‘berita gembira’ itu bisa benar ‘datang’sebentar lagi… tapi bisa juga masih amat lama lagi lho entah kapan….. karena belum tentu yang utamanya akan diperjuangkan adalah kemaslahatan ruang bagi rakyat dan negara……….. Berikut adalah beberapa tanggapan saya tentang beberapa paragraf dari kedua postings tsb…… Dari posting (1) : …… +++: Fatsoen nya apabila pembangunan kota berjalan sesuai dengan penataan ruang maka sebuah kota akan berjalan dengan baik. Bener gitu?????? Ini bukan pertanyaan sinis. Ini sebuah pertanyaan serius yang harus kita ajukan kembali ke diri kita masing-masing. Apa benar kalo penataan ruang berjalan dengan baik maka sebuah kota akan sejahtera dan baik.. For those of you who work on this field, it must be 100% correct... tapi apa yang ada di kepala masyarakat kita. Masyarakat di sini tidak identik dengan masyarakat (what so called) kecil, termasuk di dalamnya investor dan lain sebagainya. >>>: Saya kira semua orang baik planners atau rakyat akan setuju bahwa dengan >>>‘penataan ruang yang baik’ maka akan dihasilkan perkembangan kota yang >>>baik….. atau dengan ‘sistem nasional penataan ruang yang baik’ tentu akan >>>dihasilkan ‘perkembangan kota2 secara nasional yang baik’ pula….. Pertanyaannya khan adalah …. ‘penataan ruang yang baik’ itu adalah yang bagaimana… dan atau ‘yang baik’ itu yang menurut kata siapa?..... +++: Mungkin fatsoen tersebut benar adanya dan secara teoretik sudah dibuktikan oleh para perencana kota di berbagai belahan dunia (note; eropa dan amerika). Tapi kemudian kita lihat apa yang terjadi kemudian di lapangan tidak seindah yang dibayangkan bukan. Pembangunan kota berjalan dengan atau tanpa sebuah penataan ruang yang baik. Tapi yang jelas satu hal, ternyata penataan ruang di Indonesia lebih banyak kondisi negatifnya dibanding positifnya. >>>: Pertama… sisi positip dari apa yang diharapkan dari penataan ruang saya >>>kira adalah ‘arahannya’….. kedua… PR saya kira adalah sesuatu yang ‘tak akan >>>pernah kenal lelah’ dan tak akan pernah kenal ‘selesai’…….. maka kalau pada >>>suatu waktu arahan yang diharapkan masih meleset hasilnya….. saya kira kita >>>masih boleh berharap hasil yang baik pada stage ke-2 atau ke-3nya kelak dst…… +++: 3. Tidak membuminya penataan ruang sebagai wacana publik Penataan ruang itu hanya milik lulusan sekolah perencanaan? ? Mungkin harusnya tidak. Kenyataannya? ? Terminology- terminologi yang melangit dengan dokumen rencana yang kompleks ternyata mengakibatkan ketidakpahaman terhadap penataan ruang. Yang kemudian terjadi tidak pernah ada diskusi di ranah public mengenai penataan ruang yang tuntas. Implikasinya proses check and balance terhadap penataan ruang sebuah wilayah hanya wacana sesaat dan "anget2 tai ayam", yang tidak pernah tuntas. >>>: Sebenarnya ini secara tak langsung kurang lebih sedang dibicarakan >>>tentang azas ‘demokratisme’ dalam perencanaan ruang….. tapi pada saat yang >>>sama tak jelas juga… apakah yang bersangkutan sebenarnya juga berminat >>>dengan ‘demokratisme dalam PR’ beneran atau tidak…… +++:Sebenernya lebih banyak lagi persoalan di penataan ruang.tapi gak tega membukanya secara detil karena takut menambah pesimisme kalangan pelaku penata ruang (terutama generasi muda dan mahasiswa). >>>: Kalo planner yang sebagai ‘insiders’ saja gak tega membukanya… lha apalagi >>>yang outsiders macem saya gini………. Salam, aby

