Pak Risfan dan rekan-rekan,

Terimakasih pak Risfan atas infonya tentang Jababeka. Menyambut undangan pak
Risfan, saya ingin memberikan sedikit komentar, barangkali tepatnya
menambahkan. Keberadaan Jababeka inilah yang mungkin disebut sebagai
fenomena "urbanization economies", penghematan biaya, antara lain karena
tersedianya infrastruktur bersama. "Urbanization economies" merupakan
external bagi perusahaan.

Jika dikaitkan dengan daya saing, pertanyaan yang menarik
adalah bagaimanakah gambarannya tentang keberlanjutan Jababeka. Dengan
asumsi land price. land rent, dll sama dengan kawasan lain, daya saing
Jababeka akan sangat sensitif terhadap biaya transportasi dari lokasi
produksi ke pelabuhan, termasuk kongesti pelabuhan. Kemacetan jalan
tol Bekasi sudah sangat parah yang mengganggu kelancaran transportasi
barang. Solusinya adalah pembuatan jalan tol pintas dari Jababeka ke
pelabuhan Priok.

Tantangan Jababeka adalah jika rencana pelabuhan Samudera Bojonegara dapat
direalisasikan. Menurut informasi, sebelum UU No 17/2008 Tentang Pelayaran
dikeluarkan (menghapus monopoli PT Pelindo), perusahaan Jepang sudah
berminat mengembangkan pelabuhan tersebut sekaligus sebagai Special Economic
Zone (KEK), namun terus tertunda karena kendala UU Pelayaran yang lama (UU
Nomor 21 Tahun 1992). Mungkin Jepang ingin menjadikan Bojonegara sebagai
lokasi off-shore investment mereka di Indonesia, wallahualam.

Pengalaman Jepang selama dekade 1960an, terjadi kongesti dan menurunnya
kualitas lingkungan di sekitar Tokyo, Yokohama, Osaka dan Kobe. Hal
ini mendorong industri keluar dari empat kawasan yang memang paling tinggi
konsentrasi industrinya di Jepang.

Sekedar analisis ringan saja pak Risfan, mungkin bisa memancing diskusi
lebih lanjut. Fenomena yang menarik di AS adalah menurunnya profit McD di
banyak kawasan urban di AS, anehnya, pengusaha McD masih saja beli
property di downtown. Apakah fenomena ini bisa dijelaskan dengan urban land
economics?

Wassalam,

Nuzul Achjar

Kirim email ke