Pak Aby dan temans ysh,

Trims atas sambutannya. Maksud saya dengan mengangkat beberapa kasus
seperti Jababeka dan trend mulut tol adalah untuk menjelaskan
hubungan-hubungan antar faktor dan antar komponen. Saya tidak ada
preferensi mihak yang mana. Hanya saya kalau antar swasta, seperti
uraian Pak Aby,  mekanisme pasar akan menyeleksi mereka, adjusment juga
bisa mereka lakukan dengan relatif cepat.

Tapi terkait dengan Pemda, itu yang perlu di'pinterkan' dalam
aspek-aspek yang perlu diantisipasi, seperti bagaimana mengatasi dampak
lingkungan dan biaya eksternalnya. Memang sepertinya mudah memungut
retribusi atau pajak tertentu, tapi pajak dan fee apa sih untuk Pemda?
Bagaimana manajemen pemungutan selama ini? Itu yang perlu ditindak
lanjuti dengan diskusi mengenai aspek manajemen, dst.

Salam,
Risfan Munir


--- In [email protected], hengky abiyoso <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Memenuhi ajakan sahabat  Risfan Munir untuk memberikan komentar atau 
blogsnya beliau dalam rangka menyemarakkan peringatan 50 th pendidikan
planologi ditanah air (untuk blogs dari sahabat lain nyusul) …..
berikut adalah komentar saya sekenanya  tentang tulisan beliau `Over
Eksploitasi Lahan'……
>
> Saya kira kalau sampai nilai atau harga lahan  dikawasan ini `kian
merosot' rasanya  justru tidak….. sebab  diam2 
`aglomerasi'  dikawasan itu justru semakin kuat saja  terbentuk
disini………  Baru beberapa hari lalu saja diantara Ramayana dan
Bekasi Square (tepat dipinggir  jalan tol juga sudah dilaunch
pengembangan apartemen………
> Disatu sisi bisa saja disebut fenomena pengembangan intensip  kawasan
mulut  Gerbang Jalan Tol Bekasi Barat (GTBB) ini sebagai   `over
eksploitasi lahan'….. terlebih bagi mereka yang terbiasa pada
idealisme  pengembangan beautiful and green small town…… tapi kalau
kita melihatnya pertama dari sisi nasional bahwa kota2 perlu
dikembangkan untuk menampung  luapan arus tenaga kerja dari desa….
Serta bahwa Jkt (Jabodetabek)  perlu menjadi bagian dari deretan
`kota dunia' yang potensial  ….. Lalu  dari sisi Bekasi
sebagai bagian dari megapolitan Jabodetabek…..dari sisi lokal 
melihat kawasan mulut GTBB itu sebagai bagian dari  'pengembangan
wilayah kota metropolitan Bekasi'…… rasanya `over eksploitasi
lahan' dikawasan   itu adalah  hal sangat `wajar-wajar
saja……
> Tentang kekhawatiran bahwa  biaya eksternal karena overcrowded
bisa-bisa akan ditanggung Pemda sendiri…… pemda Bekasi saya kira
tak mengkhawatirkannya sedikitpun……. Karena dengan berjubelnya
investasi properti serta kegiatan komersial  dikawasan itu…. Jelas
bahwa pendapatan Pemda karena  berdirinya  deretan properties disana 
serta  dengan banyaknya unit2 usaha disana…. Pajak  atau pendapatan
daerah juga jelas meningkat  pesat……
> Mungkin yang perlu `diprihatinkan' bukanlah soal fenomena 
`over eksploitasi lahan'nya…. Tetapi adalah lebih tentang 
fenomena  "duplikasi dan ke-sia2-an "  yang timbul dari
berdirinya usaha2 tenant  `besar' yang sejenis…..
> Seperti contoh tentang   toko fashion di Ramayana  serta
`Rimo' di Giant  dengan `barang mode' yang serba hampir
sama…. yang nampak agak `merana' karena terlalu sepi
dibanding dengan `Matahari' yang nampaknya `memimpin'….
Dimana `fashion' yang adalah  bagian dari `barang mode'
dan lebih menjadi `kebutuhan sekunder'  preferensinya berada
dibawah barang `pangan' yang merupakan kebutuhan sehari2 ……
maka `eksklusivitas' dari `toko mode' itu  mungkin  bisa
menjadi daya survivalitasnya……..
> Berbeda dengan supermarket `Indohero' di Metropolitan Mall
(MM)  yang nampaknya masih bisa survive  `bersaing' dengan
Giant…..  karena sebagai sesama toko `bahan pangan' atau
`kebutuhan se-hari2'  yang  barang2 serta harganya saling nyaris
sama……  disini nampaknya berlaku  hukum  `ekonomisasi prinsip 
jarak'…….. dimana untuk kebutuhan fashion yang 
`eksklusif'  dan untuk  `pilihan  lebih leluasa'  orang
akan datang ke Metropolitan  Mall/ MM (ke `Matahari') lebih
daripada ke `Rimo' di Giant atau apalagi ke `Ramayana'
yang  lebih kecil…. untuk kemudahan waktu  serta tenaga untuk
sekaligus  `one  stop  shopping' untuk kebutuhan
`pangan' …. Dari ` Matahari' orang bisa  langsung
turun ke ke `Indohero' (satu gedung di Metropolitan Mall yang
sama, tanpa perlu menyebrang  jalan atau memindahkan mobil  ke Giant)
…. Atau apalagi kalau disitu  ada keperluan ke book store
> tinggal ke Gramedia'  saja ( di MM juga)  …..  selain disitu 
juga ada  toko alat2 (hardware, furniture, dsb) …toko roti 
eksklusif `Breadtalk'…. juga pujasera…… Dsb…..
> Sementara itu kalau `dari rumah'  niatnya lebih akan
berbelanja kebutuhan  `pangan'…. Nampaknya  ke Giant masih
lebih menjadi pilihan (atau sekarang  juga Carrefour di Bekasi Square) 
karena pilihan yang sangat  leluasa……..
> Hero plaza yang kalah besar dan  tadinya `suram' dengan cerdik
mengubah diri menjadi `cyber store' sehingga untuk  kebutuhan
menyangkut komputer  konsumen hampir pasti akan  kesini… selain
McDee disini adalah bagian dari  eksklusivitasnya  juga……..
> Jadi nampaknya  dikawasan mulut  GTBB ini adanya  `duplikasi'
usaha  besar sejenis  (yang dikhawatirkan menghasilkan kesia2an bagi
yang lebih lemah) lebih perlu `diprihatinkan' lebih daripada 
gejala  `over eksploitasi lahan' yang timbul……..
> Masing2 unit usaha perlu saling secara cerdas  `menonjolkan
perbedaan dan keistimewaan  diri' untuk agar masing2 bisa 
`saling beda' sehingga  malah  justru  berbagai jasa2 `akan
saling melengkapi' satu sama lain dikawasan itu……
> Terlebih kalau `over eksploitasi lahan' itu justru akan
meningkatkan job creation dikawasan itu…… lha  why not pak
Risfan?...........
>
> Salam,
> aby
>
> --- On Sun, 10/5/08, Risfan M [EMAIL PROTECTED] wrote:
>
> From: Risfan M [EMAIL PROTECTED]
> Subject: [referensi] Meramaikan setahun menyongsong Plano-50
> To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
> Date: Sunday, October 5, 2008, 7:08 AM
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
>
> Rekan-rekan milisters ysh,
>
> Menyongsong 50 th pendidikan Planologi di tanah air saya mikir-mikir
apa yang bisa dikontribusikan untuk menyemarakkannya. Paling layak bagi
saya sementara ini ya nulis Blog.
>
> Blog saya ini tentang Urban Land Economic, suatu interpretasi populer
(dan bebas) tentang location theory, land use, urban geography, housing
dan urban economic. Sambil nostalgia jaman kuliah dulu (saya tak tahu
apakah sekarang masih ada mata kuliah itu) juga mencoba-coba memahami
fenomena perkotaan yang kontemporer. Siapa tahu ada gunanya.
>
> Silahkan klik: Urban Land Economic. Komentar dan saran sangat
diharapkan.
>
> Salam,
> Risfan Munir
>


Kirim email ke