Bang Nuzul dan temans ysh, Ya, saya mengangkat Jababeka sebagai contoh kota industri yang diciptakan dan bagaimana dia survive melampaui krisis ekonomi 1998, bisa mempertahankan sebagian besar industri yang ada di situ, yang kebanyakan juga padat karya seperti Matell (Barby Dolls), Unilever, Samsung, dst. Lalu masuk fase krisis energi, diapun sigap mengantisipasi. Juga isyu lingkungan. Lalu ke depan mengembangkan visi kota "pendidikan dan teknologi" (knowledge base industry?) dengan promo President University dan Techno-park nya.
Soal akses ke pelabuhan, yang lupa saya sebut adalah dia juga punya Dry-port, untuk urusan kepabeanan dan containers. Ya, jelas tantangan dia adalah akses ke pelabuhan. Dengar-dengar dia juga berusaha agr punya pintu sendiri ke tol Jkt-Cikampek. Tapo kalau ada akses ke pelabuhan lebih dekat mestinya akan dikejarnya. Mengingat di Cikarang juga ada beberapa kota (new town) industri lainnya. Tapi saya tidak ada kaitan atu akses info dengan Jababeka. Saya angkat supaya sekolah perencanaan atau ekonomi bisa terpancing minatnya mendalami itu. Tentang McD yang memborong propeti di downtown, saya gak ngerti ya Pak, itu corporate decision. Tapi, bisa saja itu bagian dari strategi untuk tetap menguasai "medan". Tidak seperti satu supermarket disini, kok makin banyak saingan, karena pengunjung turun, dia mengurangi jumlah kasir, sehingga biar sepi ngantri juga. Jadinya pengunjung yang sudah sedikit ini juga kian malas ke situ. Padahal pengunjung setia ini mungkin tipe yang anti keramaian. Atau McD mau buka channel atau jaringan outlet untuk produknya yang lain? Atau ikut logika perbankan disini, seringkali kalau sektor riil lagi sulit, ya kelebihan likuiditasnya disalurkan ke properti. Tapi ini andai-andai ya. Trims. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "Nuzul Achjar" <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Pak Risfan dan rekan-rekan, > > Terimakasih pak Risfan atas infonya tentang Jababeka. Menyambut undangan pak > Risfan, saya ingin memberikan sedikit komentar, barangkali tepatnya > menambahkan. Keberadaan Jababeka inilah yang mungkin disebut sebagai > fenomena "urbanization economies", penghematan biaya, antara lain karena > tersedianya infrastruktur bersama. "Urbanization economies" merupakan > external bagi perusahaan. > > Jika dikaitkan dengan daya saing, pertanyaan yang menarik > adalah bagaimanakah gambarannya tentang keberlanjutan Jababeka. Dengan > asumsi land price. land rent, dll sama dengan kawasan lain, daya saing > Jababeka akan sangat sensitif terhadap biaya transportasi dari lokasi > produksi ke pelabuhan, termasuk kongesti pelabuhan. Kemacetan jalan > tol Bekasi sudah sangat parah yang mengganggu kelancaran transportasi > barang. Solusinya adalah pembuatan jalan tol pintas dari Jababeka ke > pelabuhan Priok. > > Tantangan Jababeka adalah jika rencana pelabuhan Samudera Bojonegara dapat > direalisasikan. Menurut informasi, sebelum UU No 17/2008 Tentang Pelayaran > dikeluarkan (menghapus monopoli PT Pelindo), perusahaan Jepang sudah > berminat mengembangkan pelabuhan tersebut sekaligus sebagai Special Economic > Zone (KEK), namun terus tertunda karena kendala UU Pelayaran yang lama (UU > Nomor 21 Tahun 1992). Mungkin Jepang ingin menjadikan Bojonegara sebagai > lokasi off-shore investment mereka di Indonesia, wallahualam. > > Pengalaman Jepang selama dekade 1960an, terjadi kongesti dan menurunnya > kualitas lingkungan di sekitar Tokyo, Yokohama, Osaka dan Kobe. Hal > ini mendorong industri keluar dari empat kawasan yang memang paling tinggi > konsentrasi industrinya di Jepang. > > Sekedar analisis ringan saja pak Risfan, mungkin bisa memancing diskusi > lebih lanjut. Fenomena yang menarik di AS adalah menurunnya profit McD di > banyak kawasan urban di AS, anehnya, pengusaha McD masih saja beli > property di downtown. Apakah fenomena ini bisa dijelaskan dengan urban land > economics? > > Wassalam, > > Nuzul Achjar >

