Memenuhi ajakan sahabat  Risfan Munir untuk memberikan komentar atau  blogsnya 
beliau dalam rangka menyemarakkan peringatan 50 th pendidikan planologi ditanah 
air (untuk blogs dari sahabat lain nyusul) ….. berikut adalah komentar saya 
sekenanya  tentang tulisan beliau ‘Over Eksploitasi Lahan’……
 
Saya kira kalau sampai nilai atau harga lahan  dikawasan ini ‘kian merosot’ 
rasanya  justru tidak….. sebab  diam2  ‘aglomerasi’  dikawasan itu justru 
semakin kuat saja  terbentuk disini………  Baru beberapa hari lalu saja diantara 
Ramayana dan Bekasi Square (tepat dipinggir  jalan tol juga sudah dilaunch 
pengembangan apartemen……… 
Disatu sisi bisa saja disebut fenomena pengembangan intensip  kawasan mulut  
Gerbang Jalan Tol Bekasi Barat (GTBB) ini sebagai   ‘over eksploitasi lahan’….. 
terlebih bagi mereka yang terbiasa pada idealisme  pengembangan beautiful and 
green small town…… tapi kalau kita melihatnya pertama dari sisi nasional bahwa 
kota2 perlu dikembangkan untuk menampung  luapan arus tenaga kerja dari desa…. 
Serta bahwa Jkt (Jabodetabek)  perlu menjadi bagian dari deretan ‘kota dunia’ 
yang potensial  ….. Lalu  dari sisi Bekasi sebagai bagian dari megapolitan 
Jabodetabek…..dari sisi lokal  melihat kawasan mulut GTBB itu sebagai bagian 
dari  ’pengembangan wilayah kota metropolitan Bekasi’…… rasanya ‘over 
eksploitasi lahan’ dikawasan   itu adalah  hal sangat ‘wajar-wajar saja……
Tentang kekhawatiran bahwa  biaya eksternal karena overcrowded bisa-bisa akan 
ditanggung Pemda sendiri…… pemda Bekasi saya kira tak mengkhawatirkannya 
sedikitpun……. Karena dengan berjubelnya investasi properti serta kegiatan 
komersial  dikawasan itu…. Jelas bahwa pendapatan Pemda karena  berdirinya  
deretan properties disana  serta  dengan banyaknya unit2 usaha disana…. Pajak  
atau pendapatan daerah juga jelas meningkat  pesat……
Mungkin yang perlu ‘diprihatinkan’ bukanlah soal fenomena  ‘over eksploitasi 
lahan’nya…. Tetapi adalah lebih tentang  fenomena  “duplikasi dan ke-sia2-an “  
yang timbul dari berdirinya usaha2 tenant  ‘besar’ yang sejenis….. 
Seperti contoh tentang   toko fashion di Ramayana  serta ‘Rimo’ di Giant  
dengan ‘barang mode’ yang serba hampir sama…. yang nampak agak ‘merana’ karena 
terlalu sepi dibanding dengan ‘Matahari’ yang nampaknya ‘memimpin’…. Dimana 
‘fashion’ yang adalah  bagian dari ‘barang mode’ dan lebih menjadi ‘kebutuhan 
sekunder’  preferensinya berada dibawah barang ‘pangan’ yang merupakan 
kebutuhan sehari2 ……   maka ‘eksklusivitas’ dari ‘toko mode’ itu  mungkin  bisa 
menjadi daya survivalitasnya…….. 
Berbeda dengan supermarket ‘Indohero’ di Metropolitan Mall (MM)  yang nampaknya 
masih bisa survive  ‘bersaing’ dengan Giant…..  karena sebagai sesama toko 
‘bahan pangan’ atau ‘kebutuhan se-hari2’  yang  barang2 serta harganya saling 
nyaris sama……  disini nampaknya berlaku  hukum  ‘ekonomisasi prinsip  
jarak’…….. dimana untuk kebutuhan fashion yang  ‘eksklusif’  dan untuk  
‘pilihan  lebih leluasa’  orang akan datang ke Metropolitan  Mall/ MM (ke 
‘Matahari’) lebih daripada ke ‘Rimo’ di Giant atau apalagi ke ‘Ramayana’ yang  
lebih kecil…. untuk kemudahan waktu  serta tenaga untuk sekaligus  ‘one  stop  
shopping’ untuk kebutuhan ‘pangan’ …. Dari ‘ Matahari’ orang bisa  langsung 
turun ke ke ‘Indohero’ (satu gedung di Metropolitan Mall yang sama, tanpa perlu 
menyebrang  jalan atau memindahkan mobil  ke Giant) …. Atau apalagi kalau 
disitu  ada keperluan ke book store
 tinggal ke Gramedia’  saja ( di MM juga)  …..  selain disitu  juga ada  toko 
alat2 (hardware, furniture, dsb) …toko roti  eksklusif ‘Breadtalk’…. juga 
pujasera…… Dsb….. 
Sementara itu kalau ‘dari rumah’  niatnya lebih akan berbelanja kebutuhan  
‘pangan’…. Nampaknya  ke Giant masih lebih menjadi pilihan (atau sekarang  juga 
Carrefour di Bekasi Square)  karena pilihan yang sangat  leluasa……..
Hero plaza yang kalah besar dan  tadinya ‘suram’ dengan cerdik mengubah diri 
menjadi ‘cyber store’ sehingga untuk  kebutuhan menyangkut komputer  konsumen 
hampir pasti akan  kesini… selain McDee disini adalah bagian dari  
eksklusivitasnya  juga……..
Jadi nampaknya  dikawasan mulut  GTBB ini adanya  ‘duplikasi’ usaha  besar 
sejenis  (yang dikhawatirkan menghasilkan kesia2an bagi yang lebih lemah) lebih 
perlu ‘diprihatinkan’ lebih daripada  gejala  ‘over eksploitasi lahan’ yang 
timbul……..
Masing2 unit usaha perlu saling secara cerdas  ‘menonjolkan perbedaan dan 
keistimewaan  diri’ untuk agar masing2 bisa  ‘saling beda’ sehingga  malah  
justru  berbagai jasa2 ‘akan saling melengkapi’ satu sama lain dikawasan itu……
Terlebih kalau ‘over eksploitasi lahan’ itu justru akan meningkatkan job 
creation dikawasan itu…… lha  why not pak Risfan?...........
 
Salam,
aby

--- On Sun, 10/5/08, Risfan M <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: Risfan M <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Meramaikan setahun menyongsong Plano-50
To: [EMAIL PROTECTED], [email protected]
Date: Sunday, October 5, 2008, 7:08 AM











Rekan-rekan milisters ysh,
 
Menyongsong 50 th pendidikan Planologi di tanah air saya mikir-mikir apa yang 
bisa dikontribusikan untuk menyemarakkannya. Paling layak bagi saya sementara 
ini ya nulis Blog.
 
Blog saya ini tentang Urban Land Economic, suatu interpretasi populer (dan 
bebas) tentang location theory, land use, urban geography, housing dan urban 
economic. Sambil nostalgia jaman kuliah dulu (saya tak tahu apakah sekarang 
masih ada mata kuliah itu) juga mencoba-coba memahami fenomena perkotaan yang 
kontemporer. Siapa tahu ada gunanya.
 
Silahkan klik: Urban Land Economic. Komentar dan saran sangat diharapkan.
 
Salam,
Risfan Munir
 














      

Kirim email ke