Rekan milist YTH,

 

Ya,.. Jakarta yang sedang ngos-ngosan, tired, exhausted, lamban, lumpuh,.
mestinya memberikan sebuah opportunity bagi kota-kota lain untuk
bersaingdengan kota Jakarta. 

Solo akan menjadi lebih menarik,.. Jayapura akan menjadi lebih seksi,...
Balikpapan, apalagi,..

Jadi biarkan Jakarta menjadi tempat pembelajaran bagi kota-kota lain bahwa
jangan sembrono mengelola kota, dan malah mengeksploitasi kerakusannya,. 

 

Mungkin Mendingan kebijakannya bukan memindahkan ibukota,.. Tapi
memfasilitasi biar kota-kota laindi luar jakarta mampu 'mengkudeta' fungsi
jakarta,.. 

 

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

bdwiagus.blogspot.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED] 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of risfano
Sent: 02 November 2008 07:51
To: [email protected]
Subject: [referensi] Re: Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?

 

Ref Ibukota ke2

Sinyalemen Bung Aunur perlu dipertimbangkan. Kok diskusi ini selalu berujung
ke "pusat kedua" dan "ibukota" baru di luar Jawa. Apa betul dua pusat
menjawab masalah ribuan pulau.

Pusat kedua berarti masalah perkotaan baru. Kenapa tidak "tiga puluh pusat"
atau "empat ratus pusat" - yang sudah punya otonomi daerah itu.

Kalau mau realistis, melihat pertumbuhan Surabaya, Makassar, Medan, trend
untuk menjadi counter bagi Jabodetabek sudah nyata kelihatan. Positif dan
negatifnya. Sudah ada otonomi daerah, yang diikuti deregulasi
"kepelabuhan"an, berbagai prasarana. Saya pikir yang bisa dilakukan
pemerintah (pusat) sudah dilakukan, tinggal Daerah nya mau berinovasi dan
membawanya kemana. 
Harus diakui, yag membangun (ekonomi) adalah swasta (besar dan UMKM),
pemerintah daerah hanya bisa mengundang atau menumbuhkan mereka dengan
memfasilitasi adanya iklim yang kondusif. Jalan tol, pelabuhan, pembangkit
listrik, telekomunikasi, kawasan produksi, sebagian besar sudah mulai
dibangun oleh kemitraan pemerintah-swasta, atau swasta murni. Tidak ada yang
bisa memaksa mereka berinvestasi dimana.

Planner harus berpikir long-term pula dalam menganalisis dan mengantisipasi
perubahan kelembagaan pembangunan setelah "otonomi daerah". Apakah masih ada
pemusatan "perencana" di masa depan. Apa bukan kerangka dasar atau struktur
ruang makro saja dari pusat, selebihnya oleh daerah sendiri. Perubahan
kultur birokrasi juga perlu dikaji. Cara Pemda menghadapi 'orang pusat' saat
ini, jauh beda dengan sebelum otonomi daerah. Ini tentu punya implikasi juga
pada penyebaran locus pengambilan keputusan dalam perencanaan dan
pelaksanaannya. 
Ilmu dan pendekatan perencanaan pun juga berkembang dari tahun ke tahun.
Banyak event internasional yang saat ini sudah tidak dilaksanakan di, atau
dimotori oleh Jakarta lagi. Seperti pertemuan internasional urban heritage
yang dilaksanakan di Solo minggu lalu, yang diikuti dengan ethnic music
festival. Juga festival Tomohon, Jember, Salatiga. Pertemuan gubernur se
Asia-Pacific di Medan, dst.
Perubahan telah terjadi, yang diperlukan oleh planner adalah kemampuan
melihat tanda-tanda perubahan yang berdampak pada jangka menengah dan
panjang.
Beberapa faktor seperti otonomi daerah, demokratisasi proses perencanaan dan
pembangunan, keterbatasan anggaran (cicilan utang + bunga besar), resesi
global, climate change, ketergantungan pada energi fosil yang harus
diakhiri, konflik tanaman pangan vs biofuels, dst. Resesi di negara tetangga
menyebabkan TKI banyak yang dipulangkan. Pengaruhnya besar dalam
pengembangan wilayah dan pemerataan pembangunan.

Percuma kan diskusi pemindahan ibukota, kalau peran ibukota juga semakin
tidak signifikan. Para pencari kerja dari desa saja lebih memilih Kuala
Lumpur, Singapura dan Hong Kong, bukan Jakarta.

Salam,
Risfan Munir

--- In [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> ,
Aunur rofiq <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Memang di referensi ini kalau sudah mentok diskusi "regional inequality",
selalu berbuntut pada memindahkan ibukota keluar jawa. Saya setuju sama mas
eko dan mas BTS tentang kesenjangan regional ini yang penting adalah
bagaimana bisa memberi kesempatan yang sama pada penduduk Indonesia untuk
bisa meraih kesejahteraan. Kalau kita ingin mengambil contoh bahwa
pemindahan ibukota tidak sama dengan pemerataan pembangunan sangat banyak
sekali, karena itu lupakan jika pemindahan tersebut untuk tujuan mengurangi
kesenjangan.
> 
> Mas Aby,
> Senang ya Morotai jadi Kabupaten........kita lihat beberapa tahun yang
akan datang..... ada perubahan?
> 
> Salam
> Aunur Rofiq
> 
> 
> 
> ----- Original Message ----
> From: Mohammad Andri Budiman <[EMAIL PROTECTED]>
> To: [email protected] <mailto:referensi%40yahoogroups.com> 
> Sent: Thursday, October 30, 2008 11:38:28 AM
> Subject: Re: [referensi] Ibukota di Luar P. Jawa, Mungkinkah?
> 
> 2008/10/30 Bambang Tata Samiadji <[EMAIL PROTECTED]>:
> 
> > Pindah di Palangkaraya? Ke sananya saja susah. Tidak ada pelabuhan. Yang
ada
> > cuma sungai besar yang dangkal. Dukungan tanah juga tidak memungkinkan
untuk
> > bangunan tinggi. Belum lagi sumber air baku untuk PDAM. Apalagi
listriknya
> > yang masih ditransmisikan dari Banjarmasin.
> 
> Sebenarnya poinnya di situ, Pak. Memang di luar daerah Jakarta tidak
> ada fasilitas yang mendukung untuk dijadikan ibukota, bila
> dibandingkan dengan Jakarta. Dan sebentar lagi tentu akan semakin
> banyak fasilitas di Jakarta bila MRT gol. Dengan demikian,
> inequalities akan semakin besar -- meskipun Bapak bersikukuh bahwa ini
> tidak penting.
> 
> Salam,
> Andri
> 
> ------------------------------------
> 
> Komunitas Referensi
> http://groups.yahoo.com/group/referensi/Yahoo! Groups Links
>

 

Kirim email ke