Pak Toro dan Pak BTS,..

 

Wah,.. Ternyata ada cerita Implementasinya ya .

 

BUDP itu sama dengan MBUDP (M-nya itu Metropolitan) itu gak sih? 

Waktu studio dulu ngoprek-ngoprek MBUDP, tapi gak ngeh cerita
implementasinya seperti apa,..

Jadi tertarik dengan buku ini,... 

Ditunggu peluncurannya,. 

Kalau bisa sih pake bahasa popular (jurnalisme pop gitu deh),. jangan pakai
bahasa jurnal atau akademis nan teoritis .. 

 

Thanks.. 

 

Best Regards,

 

Benedictus Dwiagus S.

http://bdwiagus.blogspot.com

http://bdwiagus.multiply.com 

 

"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White

 

:::... Indo-MONEV ...:::

Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People
anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to
the work on monitoring and evaluation and other related development issues
including development aid works, particularly in Indonesia.

Join in by sending an email to:  [EMAIL PROTECTED] 

 

From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf
Of Bambang Tata Samiadji
Sent: 08 December 2008 16:21
To: [email protected]
Subject: Re: [referensi] Buku baru tentang Pengalaman P3KT - tanya?

 


Ysh Bung Toro dan milister lainnya.

 

Menarik pertanyaan Bung Toro, apakah menarik menulis buku tentang P3KT
(Program Pembangunan Prasarana Kota Terpadu) atau biasa disebut dengan
IUIDP. Kebetulan saya juga punya pengalaman ikut dalam P3KT bersama DR. John
Taylor.

 

Bagaimanapun sebuah buku, tetap bisa menarik dan bermanfaat. Dari segi
persejarahan pembangunan kota, konsp P3KT patut dimajukan untuk menjadi
"ilmu" bagi para perencana pembangunan kota.

 

Sejauh pemahaman saya tentang P3KT itu, ia sebenarnya mengadopsi konsep BUDP
(Bandung Urban Development Project). Kemudian dengan masukan dari proyek
NUDS waktu itu, khususnya Pokja Infrastruktur (yang mana Pak Hendropranoto
sebagai Ketua Pokja), maka beliau dengan bantuan the lenders mengajukan
konsep P3KT tersebut. Hasilnya kemudian hampir semua kota mendapat program
P3KT. Program ini intinya adalah menyusun program prasarana kota sesuai
dengan perkembangan kota dan Rencana Induk kota. Adapun pembiayaan
pembangunan prasarana yang diusulkan didukung oleh pinjaman dari Bilateral
maupun Multilateral.

 

Terlepas dari konsep P3KT memberi sumbangan pada ilmu planning, saya melihat
ada pengalaman traumatis atas P3KT selama ini yaitu :

 

1. Proses antara perencanaan sampai impelementasi sangat lama, kurang lebih
15 tahun. sehingga  ada 4 walikota yang terlibat. Walikota pertama adalah
yang merencanakan. Walikota kedua yang pergi ke Washington untuk negosiasi
dengan World Bank. Walikota ketiga adalah yang mengimplementasikan. Walikota
terakhir, yaitu yang menjabat sekarang, adalah yang mendapat beban utang
(sebagian besar nunggak mencapai Rp 0,7 triliun).

 

2. Konsep pengembalian utang (dengan interest 10,5% pertahun dengan jangka
pengembalian 20 tahun termasuk grace period 5 tahun) mengandalkan
PAD.Padahal PAD itu hanya di bawah 8% dari APBD. Tentu tidak akan mampu
membayar utang. Tapi mengapa koq dalam studi kelayakan semua positif? Itu
menandakan terjadinya ketidakjujuran konsultan-konsultan keuangan waktu itu
(atau mungkin terpaksa).

 

3. Pada waktu P3KT direncanakan dan diimplementasikan, sistem pemerintahan
belum desentralisasi. Dengan desentralisasi dan berbagai perubahan sistem
pemerintahan dan keuangan sekarang ini, P3KT tidak saja out of date, tetapi
sudah "tinggal kenangan".

 

4. Akibat dari P3KT itu, pemda-pemda mempunyai utang tunggakan sebesar Rp
0.7 triliun dan PDAM menunggak Rp 4,3 triliun. Akibat tunggakan ini,
terpaksan Depkeu harus mengeluarkan PMK 153/2008 tentang Restrukturisasi
Utang Pemda dan PMK 120/2008 tentang Restrukturisasi Utang PDAM. Akibat P3KT
ini pemda dan Depkeu kapok, segan untuk minta pinjaman dan memberi pinjaman.

 

Demikian Bung Toro, saya welcome dengan buku itu asalkan ditulis dengan
jujur termasuk dampak-dampak buruknya. Apakah P3KT itu Best Practices atau
Bad Practices, terserah pembaca saja.

 

Thanks. CU. BTS.

 



--- On Mon, 12/8/08, torolondon <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: torolondon <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: [referensi] Buku baru tentang Pengalaman P3KT - tanya?
To: [email protected]
Date: Monday, December 8, 2008, 8:18 AM

Rekans semua yang berbahagia,

Saya ingin mendapatkan respons dari rekan semua mengenai hal yang 
satu ini. 

Seandainya akan diterbitkan buku baru tentang pengalaman P3KT di 
Indonesia (dan sedikit tentang pengalaman hal sejenis di negara lain):

(1) Apakah tema buku ini masih bermanfaat?
(2) Apakah tema buku ini masih dianggap menarik?
(3) Info apa yang kira2 akan dibutuhkan dari pengalaman P3KT ini?
(4) Pengalaman apa yang kira2 akan berharga buat Indonesia yang perlu 
muncul dari buku ini?
(5) Apa bahasa yang disukai untuk diterbitkan, Bahasa Inggris atau 
Bahasa Indonesia?
(6) Seandainya diterbitkan dalam Bahasa Inggris, apakah masih 
diminati untuk dikonsumsi?

Kebetulan buku ini sudah ditulis oleh seorang teman, tetapi dalam 
Bahasa Inggris. Namun masih perlu untuk direview sebelum diterbitkan. 
Bila demand dalam Bahasa Indonesia, tentu masih akan butuh waktu lagi 
untuk alih bahasanya.

Saya menunggu komentar dan pendapat dari rekan semua. Terima kasih 
sebelumnya.. .
Salam,
toro

 

 

Kirim email ke