INi salah satu best practice, barangkali,. 

 

 
<http://groups.yahoo.com/group/jurnalisme/message/40321;_ylc=X3oDMTJybTIyN20
3BF9TAzk3MzU5NzE1BGdycElkAzE5MzgyMTEEZ3Jwc3BJZAMxNzA1MDE5OTg3BG1zZ0lkAzQwMzI
xBHNlYwNkbXNnBHNsawN2bXNnBHN0aW1lAzEyMjg4MDIyNDE-> Nyicil Rp 5.000, Tukang
Becak pun Punya Rumah 

 

Nyicil Rp 5.000, Tukang Becak pun Punya Rumah
Gubernur Sumatera Selatan Alex Noerdin bikin gebrakan. Gubernur yang
baru terpilih itu memberikan kesempatan kepada orang miskin, seperti
tukang becak, tukang ojek, tukang perahu, kuli pasar, dan pegawai
negeri sipil rendahan, untuk memiliki rumah sehat sangat sederhana.

Bisa? Tentu saja bisa. "Asalkan dia memiliki kartu tanda penduduk dan
memang bekerja," kata Alex di Palembang, Sumatera Selatan, Selasa
lalu. Cara membayarnya pun dijamin cukup bijaksana dan tidak
memberatkan. "Mencicil Rp 5.000 per hari selama 15 tahun," ujar Alex.

Bagai seorang sales properti, Alex menjelaskan, untuk pengemudi becak,
tukang ojek, tukang perahu, dan sejenisnya disediakan 1.000 unit rumah
tipe 21 di daerah Jakabaring dan Jembatan Musi II, Palembang.

Adapun untuk pegawai negeri sipil yang tidak mampu membeli rumah tapi
kerjanya bagus dengan masa kerja cukup panjang disediakan tipe 36,
lengkap dengan air bersih, listrik, dan ada kemungkinan gas. Jumlah
rumahnya ada 1.000 unit. Kalau ini cicilannya Rp 10 ribu per hari
selama 15 tahun.

Selain menyediakan perumahan murah, Alex mencanangkan sekolah gratis
dan berobat gratis untuk rakyatnya. Jika tidak terlaksana selama
setahun, "Saya siap mundur," katanya.

Gebrakan Alex membuat rakyat kecil terharu. "Alhamdulillah. Saya pikir
program Pak Gubernur hanya sekolah dan berobat gratis," kata Hasan, 60
tahun, tukang becak di lorong Pasar Gubah, Palembang.

Jika ucapan Alex bukan hanya isapan jempol, Hasan menyatakan akan
menempatkan dirinya sebagai orang nomor satu yang mendaftar.
Maklumlah, sudah setengah hidup warga 32 Ilir Serangan itu dijalani
dengan mengayuh becak, tapi dia belum punya rumah.

"Memang ada, tapi kecil dan gubuk, itu pun numpang," ujar ayah tiga
anak itu. Dia mengaku memiliki kartu keluarga Palembang, tapi kartu
tanda penduduknya sudah dua tahun mati. "Kalau syaratnya harus pakai
KTP, ya, saya uruslah, pakai yang seumur hidup."

Bagi Hasan, cicilan Rp 5.000 per hari tidak memberatkan karena sehari
dia bisa mendapat uang Rp 25 ribu. "Tidak segagah dulu, tapi bisalah
dapat uang Rp 25 ribu sehari," ujarnya.

Menurut Manto, tukang ojek di sekitar Kampus Universitas Sriwijaya,
program rumah sederhana sangat berpihak kepada rakyat kecil. "Tapi
alangke jauhnya," kata Manto. Namun, dengan prosedur cicilan yang
meringankan itu, besar kemungkinan kaum papa harus mengesampingkan
jarak. Hujan tak basah, kemarau tak panas. ARIF ARDIANSYAH

 
<http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/12/05/Nusa/krn.20081205.150
095.id.html>
http://www.korantempo.com/korantempo/koran/2008/12/05/Nusa/krn.20081205.1500
95.id.html



Kirim email ke