Halo Daeng Bawole yang semangat banget ! Saya ingat nasihat Pak Abimanyu yang 
merupakan kata-kata dahsyat jika kita renungkan dalam-dalam, yaitu INOVASI ! 
Nah bagaimana....apakah para planner cukup diracuni...kalau menurut saya 
dicemari saja....artinya apakah mereka (dan kita, kayaknya) TERTANTANG untuk 
berusaha menemukan inovasi-inovasi atau tidak ? Bagaimana kata INOVASI tersebut 
menjadi kata yang sungguh dahsyat ya memang tergantung kita juga !

Daeng, kita bikin proyek inivasi aja, biar jika ketemu nggak hanya wedangan 
mangan tela rebus dan ngobrol sana-sini, soalnya waktu kan gratis tetapi sangat 
bernilai ! Ngobrol juga penting diiiiing !

Salam,



Djarot Purbadi




--- On Thu, 12/11/08, paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
From: paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors
To: [email protected]
Date: Thursday, December 11, 2008, 8:39 AM










    
            Bung Djarot, ternyata saya terlena juga mendengar

dongengnya pak Abimanyu yang membuat optimisme bagi

setiap kota yang mencoba dealing dengan sektor

informal. 

Tapi pak Abimanyu best practice yang sudah dilakukan

oleh para pelaku kebjikan maupun para praktisi

perencanaan dan perancangan kota, juga sangat perlu

dipakai sebagai referensi untuk membuat lingkungan

kota nyaman untuk semua penduduknya mulai dari

masyarakat grass root sampai mereka yang biasa disebut

dengan THE HAVE.

Saat ini menurut saya sebaiknya kita berusaha meracuni

pikiran para planner dan designer generasi berikutnya

agar mereka tidak lagi mengapresiasi fenomena informal

sebagai sampah kota yang harus pangkas dan

dimusnahkan. Dengan demikian strategi perencanaan dan

perancangan kota yang menggunakan methode

"Penggusuran" berangsur-angsur semakin ditinggalkan

diganti dengan strategi upgrading yang banyak sekali

variasinya. Kalau bagian dari tubuh kita ada yang

terkena penyakit kudis, masak bagian tubuh kita

tersebut harus dipotong dan dibuang ? Tentu saja kita

akan berusaha dengan sekuat tenaga agar kudis tersebut

dapat disembuhkan sehingga kulit pada bagian tubuh

kita bisa sembuh kembali.

Ok Sekian dahulu dongengan saya. Sekali lagi terima

kasih banyak pak Abimanyu atas dongengannya ya

menambah semangat. Demikain  juga bung Djarot, kapan

rek awake dewe ketemu nang darat ? Ketoke wis welasan

tahun awake dewe gak tahu ketemu yo kang Djarot !!

Semoga kita bisa bertemu di darat dan salam untuk

rekan-rekan di UAJ.



salam hangat,

bawole

--- Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:



> Hallo Pak Abimanyu, terima kasih atas dongengnya

> yang panjang. 

> 

> Wah wah uraiannya panjang ya Pak, dan tampaknya ada

> benang merah yang sama antara saya dengan

> panjenengan: hormat pada keunikan, khususnya

> nilai-nilai dan situasi lokal. Ini saya sangat

> cocok. Tentu kita tidak akan pegang mati hal-hal

> yang bersifat lokal sebagai acuan yang kaku, sebab

> bagaimanapun juga, menurut Bung Karno:

> internasionalisme mesti memiliki akar di dalam

> nasionalisme, bahkan lokalisme (tambahan dari

> saya)....supaya manusia penghuni ruang nggak

> tercerabut beneran dari akar budayanya !

> 

> Dukungan pada pengumpulan best practices yang

> disikapi sebagai sebuah dongeng yang harus dibaca

> secara kontekstual saya juga cocok. Biarkan para

> aktor yang memiliki pengalaman best practices tampil

> sendiri dengan ceritera atau dongeng mereka

> masing-masing. Nah tugas kita adalah mencari hal-hal

> abstrak yang transferrabel di tempat lain tanpa

> harus mengkacamatakudai pandangan kita sendiri.

> Setuju nih.

> 

> Persoalannya, tinggal siapa yang akan memulai

> mendongeng !

> 

> Salam,

> 

> 

> 

> Djarot Purbadi

> 

> 

> 

> 

> --- On Tue, 12/9/08, abimanyu takdir alamsyah

> <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>

> Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors

> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com

> Date: Tuesday, December 9, 2008, 2:33 PM

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

>     

>             Mas Gatot eh Djarot,

> 

> Masalah PKL merupakan masalah unik memang. Bahkan

> unik pula cara penanganannya di tempat yang berbeda

> di dunia ini. Untuk negara satu pulau yang telah

> secara tegas menentukan masa depannya bersama, tentu

> akan berbeda dengan negara pulau-laut dengan beragam

> budaya. Begitu pula penanganan the poor di New York,

> London, Manila, Bangkok juga beragam. Bahkan antar

> kota di negara yang sama. Banyak aspek yang

> berpengaruh. Keterkaitan kerjasama antar pengelola

> wilayah terkait juga berpengaruh. Saya termasuk yang

> percaya terhadap pentingnya keunikan dan keberagaman

> menjadi bahan kajian awal saat memulai pembangunan

> di suatu tempat. Karena itu aspek kekhasan lokal

> lebih saya hargai sebagai referensi disamping

> memperhatikan kekuatan luar yang berpengaruh

> terhadapnya.

> 

> 

> Saya cuma khawatir dengan generalisasi, seperti

> konsep formal-informal, developed-underdeve loped,

> urban-rural, dualistik, coupled, kawasan budi-daya

> vs lindung dll, ataupun berbagai upaya simplifikasi

> melalui pemodelan dunia nyata lainnya. Apalagi kalau

> pendekatan tersebut secara "serampangan" dinikmati

> sebagai copy "keberhasilan" (yang umumnya sektoral)

> di kawasan lain yang lebih banyak perbedaannya

> daripada kesesuaiannya dengan kondisi disuatu

> wakturuang tertentu. Misalnya keberhasilan

> penyelesaian masalah transpor publik di suatu kota

> tertentu, atau penanganan sampah, infrastruktur

> kota, atau pengelolaan PKL, dll. Keberhasilan

> penyelesaian masalah suatu selalu terkait kondisi

> dan perkembangan aspek wakturuang kultural ditempat

> tersebutm, kekhasan  aspek lingkungan dan

> perkembangan kemasyarakatan dan tata nilai disuatu

> tempat. Kerusakan kawasan lindung termasuk dosa

> perencana pembangunan wilayah yang semula

> mengeluarkannya sebagai kawasan yang juga

>  perlu direncanakan upaya pengelolaan dan

> peningkatan kualitas pelestariannya.

> 

> 

> Saya selalu menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut

> di lapang sehingga semakin muncul kebutuhan untuk

> menyelesaikan masalah disetiap wakturuang secara

> khas setempat pula. Oleh sebab itu saya mendukung

> gagasan penyajian pengalaman masing-masing penerap

> (termasuk kepala daerah suatu tempat) konsep

> pembangunan di berbagai wilayah di Indonesia, tanpa

> membagi dalam kelas makro atau mikro atau sektor

> tertentu, tanpa harus meng-copy keberhasilan mereka

> ke tempat lain. Dengan demikian kita dapat lebih

> arif terhadap keunggulan, keberhasilan ataupun

> masalah yang dihadapi, bahkan kesalahan yang

> akhirnya disadari para pelaku tersebut.

> 

> 

> Saya juga khawatir dengan penmbakuan angka-angka

> standar kelayakan di suatu kawasan. Mungkin RTH 30%

> terlalu tinggi untuk suatu zona tertentu, 40% masih

> dapat diupayakan di kawasan lain, bahkan 60% hutan

> kota dan situ buatan masih kurang luas bagi pulau

> yang sumber air tawarnya terbatas. Saya juga

> khawatir atas perhatian yang masih banyak bias kota,

> kecil hingga megalopolitan, bila aspek kepentingan

> keberlanjutan lingkungan hiduap di region sekitarnya

> tidak menjadi acuan kajian dan pembangunannnya.

> Sebagai satu region Indonesia, kita masih terlalu

> banyak merencanakan dalam kotak-kotak kota dan

> daerah daratan terbangun. Kita melupakan kawasan

> diluarnya. Kalau kurang minta hak kawasan

> sekitarnya. Urbanisasi (urbaniz-asi? ) seolah-olah

> suatu kondisi fatalistik (nrimo aja deh) atau bahkan

> tujuan pembangunan, tanpa mempersoalkan apa, mengapa

> dan bagaimana pengaruh kondisi tersebut terhadap

> siapa-siapa yang menjadi "pelengkap penderita"nya

> (bagaimana tanggapan

>  rekan-rekan "agropolitaner" ?). 

> 

> 

> Termasuk disiplin Arsitek yang hanya berkaca mata

> bersibuk-sibuk dengan bangunan mikro dikapling yang

> hanya seluas yang tidak terkena peraturan tanggung

> jawab kelingkunganan sekitar, atau justru yang

> berkesempatan menjelajahi region kota, perhatiannya

> masih dibatasi pengetahuan dan konsep sangat

> terbatas, namun telah mempengaruhi hingga lahirnya

> bentuk-bentuk permukiman kota mega. Kota gigantis

> yang bukan hanya 2 dimensional metropolitan

> (baru?)/mega- polis/conurbatio n (sesuai kelonggaran

> ZR) namun hingga 3 dimensional ("super" mixed used),

> menjulang ke angkasa hingga ke dalam tanah maupun

> dasar laut. Tanpa dibekali keragaman pengetahuan

> dasar dari unsur potensi setempat, serta kearifan

> berbagai antisipasi resiko pilihannya bagaimana

> gagasannya dapat cukup bermanfaat bagi generasi

> mendatang?. Bagaimana kalau investor lebih tertarik

> untuk melaksanakannya, apalagi kalau sudah dibumbui

> sekian...... .(hitungan kuantitatif terukur,

> credible, bankable)

>  ...yang dapat dihasilkannya. Apa jadinya apabila

> anak didik kita yang hanya sempat dicekoki

> pendekatan terbatas ini kemudian berkesempatan

> berkiprah secara "significant" di masa datang?.

> 

> 

> Praktek sekarang merupakan dampak proses akademis

> masa lalu. Kesalahan praktek masa depan termasuk

> dosa proses pembelajaran masa sekarang. Paling parah

> kalau praktek masa depan masih bersumber kepada

> sekolah masa lampau, apalagi yang di dunia lain

> sudah mulai dikoreksi. Apalagi lingkungan hidup

> permukiman bangsa kita di masa depan tidak lagi

> seperti kondisi setengah abad yang lalu. 

> 

> 

> Konsep ekonomi dualistik, kampung improvement,

> menerima keberagaman, dll, yang lahir setelah

> belajar dari kondisi masa lalu kita, sudah mendunia.

> Mungkinkah di masa depan acuan pembangunan dunia

> justru mengacu ke konsep-konsep pembangunan kita

> berdasarkan pemikiran bangsa kita?.

> 

> 

> Semoga permasalahan yang dihadapi disiplin kita juga

> merupakan bagian dari pemikiran rekan-rekan lain

> yang berkepentingan terhadap wakturuang kultural

> kehidupan yang kita tangani selama ini.

> 

> Bagaimana Mas Djarot?, Eyang Aby?.

> 

> 

> Ongkowijoyo

> 

> 2008/12/6 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

> 

=== message truncated ===




      

    
    
        
         
        
        








        


        
        


      

Kirim email ke