Saudaraku mas cak Bawole ysh,
 
Aku rodok gak paham bhs Indonesiane sampeyan  lho cak…. Tapi iki aku njajal 
menanggapi sampeyan yo nganggo bhs Indonesia juga… mbuh sampeyan paham bhs-ku 
opo gak…. Wis pokoke mugo2  kene wong loro nek ngomong bhs suriname gak diomeli 
maneh karo mas Fajar yo cak?......
 
"paulus bawole" [EMAIL PROTECTED] wrote:
 
+++: “….Saat ini menurut saya sebaiknya kita berusaha meracuni
pikiran para planner dan designer generasi berikutnya
agar mereka tidak lagi mengapresiasi fenomena informal
sebagai sampah kota yang harus pangkas dan
dimusnahkan. 
Dengan demikian strategi perencanaan dan
perancangan kota yang menggunakan methode
"Penggusuran" berangsur-angsur semakin ditinggalkan
diganti dengan strategi upgrading yang banyak sekali
variasinya……”
>>>: Saya paling suka mengkritik masyarakat planner…  kadang senang menggodain 
>>>juga…. Tapi bila perlu atau dimana perlu  akan saya bela juga secara 
>>>serius…..
Boleh jadi perlakuan banyak “pemerintah kota/ penguasa kota” (tak selalu dari 
disiplin ilmiah planner/ designer kota)  yg menggusur sektor informal pada 
ruang2 yg secara hukum juga dipandang dilanggar peruntukannya….. diistilahkan 
oleh rekan Bawole sebagai “para ‘planner’ dan ‘designer kota’ memperlakukan 
sektor informal sebagai sampah kota yang hrs dipangkas dan dimusnahkan”… 
seperti pada petikan paragrap diatas (saya khawatir jangan2 rekan Bawole lupa 
kalau pada UUPR pejabat yg melanggarpun bisa dihukum)…...
Pandangan/ kesan  demikian bisa dimengerti… karena rekan Bawole dan mereka yg 
sepaham dgn beliau melihat… bahwa yg banyak terjadi dilapangan adalah 
‘pemandangan’ dan tindakan demikian……
Planner yang terbawa pemikiran seperti yg dituduhkan oleh rekan Bawole… bila 
benar…. tentu ia bukan planner yg bijak yg  patut dicontoh……
Saya kira planner/ designer kota/ arsitek yg bijak….. yg hidup disebuah negeri 
dengan 235 juta penduduk dan 3.5-4 juta angka kelahiran baru tiap tahun dan 
banyak kondisi amburadul lainnya ….. dan bermaksud ingin membangun negerinya 
atau sistem kota2nya  menuju kondisi lebih baik….. mereka sama2 perlu berpikir 
secara nasional, nasional dan nasional…… dan tak boleh berpikir hanya lokal, 
lokal dan lokal…… dan tak boleh berpikir intra mono atau duo disiplin ilmiah 
saja…...
Jumlah ruang kota kita maupun distribusinya dengan prinsip jarak-jarak secara 
nasional jelas tidak memadai…… karena ada penambahan secara pesat jumlah 
penduduk kota…. baik karena migrasi/ kelahiran….. ditambah lagi terdapat 
favoritisme aliran arus migrasi / urbanisasi menuju kota yg disukai……..
Kita berangkat dari negeri agraris dengan proporsi penduduk pertanian/ desa 
semula diatas 80% (1980).. atau ’orang kota’ seperti pada 1980 misalnya masih 
dibawah 20%..... selain itu angka pertambahan penduduk kita juga cukup tinggi 
(1.6% atau 3.5-4 juta jiwa per tahun)….
Kritik balik saya kepada arsitek :….Arsitek  dengan ringan dan mudah  sering 
bisa “membela” sektor informal atau orang miskin kota dengan “cara yg mudah 
pula”… ialah  tak mau pusing ikut memikirkan/ mengkritisi  masalah demografi, 
migrasi, Keluarga Berencana…. maupun arsitek (kadang/ sering  planner juga) tak 
banyak berminat utk juga bicara tentang…: (a) “menambah jumlah kota/ perluasan 
kota” bagi wadah/ tapak utk penampungan arus migrasi orang desa menuju kota… 
(b)  tentang mengatur/ mengupayakan pembelokan / pengalihan arus utama aliran 
migrasi menuju kota favorit baru (karena arus migrasi/ urbanisasi juga serba 
sedikit memakai selera pilihan / favoritisme daerah tujuannya pula… dan 
bukannya asal kesembarang kota)……..
 
+++: “…. Kalau bagian dari tubuh kita ada yang terkena penyakit kudis, masak 
bagian tubuh kita tersebut harus dipotong dan dibuang ? Tentu saja kita akan 
berusaha dengan sekuat tenaga agar kudis tersebut
dapat  disembuhkan sehingga kulit pada bagian tubuh
kita bisa sembuh kembali…..”.
>>>: Perumpamaan logika penyakit kudis kurap panu diatas oleh rekan Bawole 
>>>dalam pandangan subyektip saya sangat tidak tepat…. Itu seperti 
>>>merefleksikan pandangan lokalitas tentang “manajemen (hanya)  pada sebuah 
>>>kota”…. Seolah tak  ada luberan arus dahsyat urbanisasi dari desa menuju 
>>>kota…. Seolah tak ada alternatif membelokkan arus urbanisasi menuju kota2 
>>>favorit yg sudah berat bebannya ke alternatif kota lainnya……….
 
Itu tentu bukan merefleksikan pandangan tentang “sistem (manajemen) kota secara 
nasional” … dimana didalamnya terdapat pula aspek “distribusi city size, 
distribusi hirarkhi kota  dan prinsip jaraknya secara nasional”…… yang ini 
berkait pula dengan ‘keadilan nasional’  utk job creation,   pemerataan 
populasi, pembangunan wilayah, maupun mengurangi kesenjangan tajam antar 
wilayah………….
Menurut pandangan subyektip saya…. Perumpamaan logika yg lebih tepat adalah 
tentang “arus penumpang mudik lebaran dan tak memadainya sarana angkutannya”… 
lalu bgmn cara mengatasinya…
Yg terlebih dulu diperlukan utk jangka pendek/  menengah adalah lebih pada 
“menambah jumlah/ volume kapasitas sarana angkutan” (kereta, bus, pesawat, 
kapal laut, dsb)….. dan barulah setelah itu tercapai (kita punya 1.9 juta km2 
daratan)….. kita bisa bicara tentang idealisme manajemennya……. Pada jangka 
panjangnya tentu faktor KB untuk  mengontrol jumlah penduduk nasional serta 
faktor penting lainnya perlu dikritisi pula……. Agar apa2 yg sudah dibuat tak 
nampak sebagai “tak pernah memadai” hanya gara2  a.l. semuanya ditimpa oleh 
luberan jumlah penduduk yg dahsyat…. 3..5 – 4 juta jiwa pertahun… = jumlah 
penduduk Singapura hari ini…...
 
Salam,
aby 
 

--- On Wed, 12/10/08, paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]> wrote:

From: paulus bawole <[EMAIL PROTECTED]>
Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors
To: [email protected]
Date: Wednesday, December 10, 2008, 5:39 PM






Bung Djarot, ternyata saya terlena juga mendengar
dongengnya pak Abimanyu yang membuat optimisme bagi
setiap kota yang mencoba dealing dengan sektor
informal. 
Tapi pak Abimanyu best practice yang sudah dilakukan
oleh para pelaku kebjikan maupun para praktisi
perencanaan dan perancangan kota, juga sangat perlu
dipakai sebagai referensi untuk membuat lingkungan
kota nyaman untuk semua penduduknya mulai dari
masyarakat grass root sampai mereka yang biasa disebut
dengan THE HAVE.
Saat ini menurut saya sebaiknya kita berusaha meracuni
pikiran para planner dan designer generasi berikutnya
agar mereka tidak lagi mengapresiasi fenomena informal
sebagai sampah kota yang harus pangkas dan
dimusnahkan. Dengan demikian strategi perencanaan dan
perancangan kota yang menggunakan methode
"Penggusuran" berangsur-angsur semakin ditinggalkan
diganti dengan strategi upgrading yang banyak sekali
variasinya. Kalau bagian dari tubuh kita ada yang
terkena penyakit kudis, masak bagian tubuh kita
tersebut harus dipotong dan dibuang ? Tentu saja kita
akan berusaha dengan sekuat tenaga agar kudis tersebut
dapat disembuhkan sehingga kulit pada bagian tubuh
kita bisa sembuh kembali.
Ok Sekian dahulu dongengan saya. Sekali lagi terima
kasih banyak pak Abimanyu atas dongengannya ya
menambah semangat. Demikain juga bung Djarot, kapan
rek awake dewe ketemu nang darat ? Ketoke wis welasan
tahun awake dewe gak tahu ketemu yo kang Djarot !!
Semoga kita bisa bertemu di darat dan salam untuk
rekan-rekan di UAJ.

salam hangat,
bawole
--- Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:

> Hallo Pak Abimanyu, terima kasih atas dongengnya
> yang panjang. 
> 
> Wah wah uraiannya panjang ya Pak, dan tampaknya ada
> benang merah yang sama antara saya dengan
> panjenengan: hormat pada keunikan, khususnya
> nilai-nilai dan situasi lokal. Ini saya sangat
> cocok. Tentu kita tidak akan pegang mati hal-hal
> yang bersifat lokal sebagai acuan yang kaku, sebab
> bagaimanapun juga, menurut Bung Karno:
> internasionalisme mesti memiliki akar di dalam
> nasionalisme, bahkan lokalisme (tambahan dari
> saya)....supaya manusia penghuni ruang nggak
> tercerabut beneran dari akar budayanya !
> 
> Dukungan pada pengumpulan best practices yang
> disikapi sebagai sebuah dongeng yang harus dibaca
> secara kontekstual saya juga cocok. Biarkan para
> aktor yang memiliki pengalaman best practices tampil
> sendiri dengan ceritera atau dongeng mereka
> masing-masing. Nah tugas kita adalah mencari hal-hal
> abstrak yang transferrabel di tempat lain tanpa
> harus mengkacamatakudai pandangan kita sendiri.
> Setuju nih.
> 
> Persoalannya, tinggal siapa yang akan memulai
> mendongeng !
> 
> Salam,
> 
> 
> 
> Djarot Purbadi
> 
> 
> 
> 
> --- On Tue, 12/9/08, abimanyu takdir alamsyah
> <[EMAIL PROTECTED] com> wrote:
> From: abimanyu takdir alamsyah <[EMAIL PROTECTED] com>
> Subject: Re: Bls: [referensi] Street vendors
> To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> Date: Tuesday, December 9, 2008, 2:33 PM
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> Mas Gatot eh Djarot,
> 
> Masalah PKL merupakan masalah unik memang. Bahkan
> unik pula cara penanganannya di tempat yang berbeda
> di dunia ini. Untuk negara satu pulau yang telah
> secara tegas menentukan masa depannya bersama, tentu
> akan berbeda dengan negara pulau-laut dengan beragam
> budaya. Begitu pula penanganan the poor di New York,
> London, Manila, Bangkok juga beragam. Bahkan antar
> kota di negara yang sama. Banyak aspek yang
> berpengaruh. Keterkaitan kerjasama antar pengelola
> wilayah terkait juga berpengaruh. Saya termasuk yang
> percaya terhadap pentingnya keunikan dan keberagaman
> menjadi bahan kajian awal saat memulai pembangunan
> di suatu tempat. Karena itu aspek kekhasan lokal
> lebih saya hargai sebagai referensi disamping
> memperhatikan kekuatan luar yang berpengaruh
> terhadapnya.
> 
> 
> Saya cuma khawatir dengan generalisasi, seperti
> konsep formal-informal, developed-underdeve loped,
> urban-rural, dualistik, coupled, kawasan budi-daya
> vs lindung dll, ataupun berbagai upaya simplifikasi
> melalui pemodelan dunia nyata lainnya. Apalagi kalau
> pendekatan tersebut secara "serampangan" dinikmati
> sebagai copy "keberhasilan" (yang umumnya sektoral)
> di kawasan lain yang lebih banyak perbedaannya
> daripada kesesuaiannya dengan kondisi disuatu
> wakturuang tertentu. Misalnya keberhasilan
> penyelesaian masalah transpor publik di suatu kota
> tertentu, atau penanganan sampah, infrastruktur
> kota, atau pengelolaan PKL, dll. Keberhasilan
> penyelesaian masalah suatu selalu terkait kondisi
> dan perkembangan aspek wakturuang kultural ditempat
> tersebutm, kekhasan  aspek lingkungan dan
> perkembangan kemasyarakatan dan tata nilai disuatu
> tempat. Kerusakan kawasan lindung termasuk dosa
> perencana pembangunan wilayah yang semula
> mengeluarkannya sebagai kawasan yang juga
> perlu direncanakan upaya pengelolaan dan
> peningkatan kualitas pelestariannya.
> 
> 
> Saya selalu menghadapi perbedaan-perbedaan tersebut
> di lapang sehingga semakin muncul kebutuhan untuk
> menyelesaikan masalah disetiap wakturuang secara
> khas setempat pula. Oleh sebab itu saya mendukung
> gagasan penyajian pengalaman masing-masing penerap
> (termasuk kepala daerah suatu tempat) konsep
> pembangunan di berbagai wilayah di Indonesia, tanpa
> membagi dalam kelas makro atau mikro atau sektor
> tertentu, tanpa harus meng-copy keberhasilan mereka
> ke tempat lain. Dengan demikian kita dapat lebih
> arif terhadap keunggulan, keberhasilan ataupun
> masalah yang dihadapi, bahkan kesalahan yang
> akhirnya disadari para pelaku tersebut.
> 
> 
> Saya juga khawatir dengan penmbakuan angka-angka
> standar kelayakan di suatu kawasan. Mungkin RTH 30%
> terlalu tinggi untuk suatu zona tertentu, 40% masih
> dapat diupayakan di kawasan lain, bahkan 60% hutan
> kota dan situ buatan masih kurang luas bagi pulau
> yang sumber air tawarnya terbatas. Saya juga
> khawatir atas perhatian yang masih banyak bias kota,
> kecil hingga megalopolitan, bila aspek kepentingan
> keberlanjutan lingkungan hiduap di region sekitarnya
> tidak menjadi acuan kajian dan pembangunannnya.
> Sebagai satu region Indonesia, kita masih terlalu
> banyak merencanakan dalam kotak-kotak kota dan
> daerah daratan terbangun. Kita melupakan kawasan
> diluarnya. Kalau kurang minta hak kawasan
> sekitarnya. Urbanisasi (urbaniz-asi? ) seolah-olah
> suatu kondisi fatalistik (nrimo aja deh) atau bahkan
> tujuan pembangunan, tanpa mempersoalkan apa, mengapa
> dan bagaimana pengaruh kondisi tersebut terhadap
> siapa-siapa yang menjadi "pelengkap penderita"nya
> (bagaimana tanggapan
> rekan-rekan "agropolitaner" ?). 
> 
> 
> Termasuk disiplin Arsitek yang hanya berkaca mata
> bersibuk-sibuk dengan bangunan mikro dikapling yang
> hanya seluas yang tidak terkena peraturan tanggung
> jawab kelingkunganan sekitar, atau justru yang
> berkesempatan menjelajahi region kota, perhatiannya
> masih dibatasi pengetahuan dan konsep sangat
> terbatas, namun telah mempengaruhi hingga lahirnya
> bentuk-bentuk permukiman kota mega. Kota gigantis
> yang bukan hanya 2 dimensional metropolitan
> (baru?)/mega- polis/conurbatio n (sesuai kelonggaran
> ZR) namun hingga 3 dimensional ("super" mixed used),
> menjulang ke angkasa hingga ke dalam tanah maupun
> dasar laut. Tanpa dibekali keragaman pengetahuan
> dasar dari unsur potensi setempat, serta kearifan
> berbagai antisipasi resiko pilihannya bagaimana
> gagasannya dapat cukup bermanfaat bagi generasi
> mendatang?. Bagaimana kalau investor lebih tertarik
> untuk melaksanakannya, apalagi kalau sudah dibumbui
> sekian...... .(hitungan kuantitatif terukur,
> credible, bankable)
> ...yang dapat dihasilkannya. Apa jadinya apabila
> anak didik kita yang hanya sempat dicekoki
> pendekatan terbatas ini kemudian berkesempatan
> berkiprah secara "significant" di masa datang?.
> 
> 
> Praktek sekarang merupakan dampak proses akademis
> masa lalu. Kesalahan praktek masa depan termasuk
> dosa proses pembelajaran masa sekarang. Paling parah
> kalau praktek masa depan masih bersumber kepada
> sekolah masa lampau, apalagi yang di dunia lain
> sudah mulai dikoreksi. Apalagi lingkungan hidup
> permukiman bangsa kita di masa depan tidak lagi
> seperti kondisi setengah abad yang lalu. 
> 
> 
> Konsep ekonomi dualistik, kampung improvement,
> menerima keberagaman, dll, yang lahir setelah
> belajar dari kondisi masa lalu kita, sudah mendunia.
> Mungkinkah di masa depan acuan pembangunan dunia
> justru mengacu ke konsep-konsep pembangunan kita
> berdasarkan pemikiran bangsa kita?.
> 
> 
> Semoga permasalahan yang dihadapi disiplin kita juga
> merupakan bagian dari pemikiran rekan-rekan lain
> yang berkepentingan terhadap wakturuang kultural
> kehidupan yang kita tangani selama ini.
> 
> Bagaimana Mas Djarot?, Eyang Aby?.
> 
> 
> Ongkowijoyo
> 
> 2008/12/6 Djarot Purbadi <[EMAIL PROTECTED] com>
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
> 
=== message truncated ===

 














      

Kirim email ke