Dear refrensiers, Sebetulnya saya tidak ingin berkomentar, tapi tegoda juga: 1. Pertama, semua sudah mahfum kalau ketimpangan antara Jakarta dan Pusat dengan wilayah lain itu ada, semua sudah tahu, dan menganggap itu masalah yang perlu diatasi. Otonomi daerah dan transfer dana, SNPPTR dan sebagainya itu adalah upaya-upaya kesana. Dan itu tidak main-main, dana transfersudah melampaui dana ke departemen. Jadi tidak usah diulang-ulang juga semua sudah tahu.
2. Kalau sinis kepada upaya-upaya daerah dalam membangun, itu tidak betul. Itu sama dengan berkata kepada UKN, percuma saja kalian kerja, tidak akan jadi konglomerat. Ngapain olah raga, toh gak bisa seperti Ade Rae. Ini tidak betul dan sangat naif. Upaya-upaya dan inovasi pembangunan daerah itu perlu diangkat, kalau cocok direplikasi. Sebagai regional planner selayaknya menularkan inovasi-inovasi tersebut. Bukan menanggapi dengan sinis begitu. Regional planning itu tugasnya membangun daerah, bukan bikin Indonesian Idol, atau kontes mirip Jakarta. 3. Menurut saya, pada masa sulit ini tugas regional planner adalah mencari solusi, terutama menghadapi kesulitan ekonomi, menciptakan lapangan kerja di tiap daerah. Kalau sinisme dan apatisme itu tiap hari ada di koran. Tapi bagaimana keluar dari kemelut itu. Bagaimana mengurangi hambatan birokrasi, bagaimana mendaya-gunakan SDA/SDM yang ada. Kepala daerah itu dengan berbagai upayanya inovasinya layak untuk dikaji key success factors nya, apa tantangannya. Ini layak menjadi "referensi". Jadi, Mas Dwiagus, Monev daerah atau kepala daerah ini sebaiknya pakai indikator tingkat inovasi pembangunan darah, good-governance, dst. dengan outcome HDI, MDGs, dst. Sekali lagi, contoh-contoh good parctice seperti ini layak diperbanyak untuk menumbuhkan optimisme dan kepercayaan kepada daerah. Salam, Risfan Munir --- In [email protected], "Benedictus Dwiagus S." <bdwia...@...> wrote: > > Yah,.. semuanya berangkat dari mimpi,. > > Tinggal kita menanti, mimpi siapa yang ter-realisasi > > Yang jelas, merengek-rengek minta ibukota menepi, bukan solusi . > > Hihihihi J > > > > Best Regards, > > > > Benedictus Dwiagus S. > > http://bdwiagus.blogspot.com > > http://bdwiagus.multiply.com > > > > "The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to > watch somebody else doing it wrong, without comment." - T. H. White > > > > :::... Indo-MONEV ...::: > > Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People > anywhere in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to > the work on monitoring and evaluation and other related development issues > including development aid works, particularly in Indonesia. > > Join in by sending an email to: [email protected] > > > > From: [email protected] [mailto:[email protected]] On Behalf > Of Mohammad Andri Budiman > Sent: 26 December 2008 16:02 > To: [email protected] > Subject: [referensi] Parodi 10 Best Practice-TEMPO > > > > Parade dijawab parodi.. :-) > > > - WaliKota Tarakan, pak Jusuf Serang Kasim, dengan mimpi menjadikan > kotanya seperti Little Singapore, meng > > BBM = Baru Bisa Mimpi > > > > - WaliKota Jogjakarta, Pak Herry Zudianto, yang menata mulai dari > yang sederhana, menciptakan banyak ruang hijau, menata pedagang kaki lima > > Jogjakarta dan Jakarta, beda namanya dikit, tapi yang satu masih mengurusi > kaki lima, yang lain bisa ngurusin "kaki tangan aglomerasi" > > > > - Bupati Gorontalo, David B.Akib, yang menggelindingkan mobile > government-nya,dan mendorong produk hasil pertanian > > Ehm, apa bisa mobile dengan baik kalau nggak ada jalan tol dalam kota > seperti Jakarta? > > > > - WaliKota Solo, Pak Joko Widodo, wali kaki lima, yang merelokasikan > pedagang kaki lima dengan memanusiakan mereka. > > Sama aja kayak saudara dekatnya, Jogjakarta. > > > > - Bupati Luwu Timur, Andi Hatta Marakarma, yang menjadikan Luwu > Timur lumbung padi > > Sementara Jakarta sudah era informasi, ada juga yang masih era pertanian, > bahkan era industri pun belum (Toffler will have a good long laugh at this > one) > > > > - WaliKota Makassar, Ilham Arif Sirajudin, yang membawa perubahan > pada pembangunan waterfront di kota Makassar dan public space-nya > > Ya nanti pakai dayung aja, bensin masih susah di sekitar IBT.. > > > > - Bupati Jombang, Suyanto, yang menjadikan Puskesmas dan Rumahsakit > jadi idaman masy.dan menata kaklilima dengan bijak > > Baru Puskesmas, sedang Jakarta udah punya Dharmais untuk kanker, Siloam > untuk eksekutif dan penjabat penting Indonesia yang memang selalu ingin > terus di Ibukota, dan bahkan bidan (apalagi dokter) sudah bisa menangani > Waterbirth (kelahiran di dalam air) -- satu-satunya di Indonesia? > Dan ... kaki lima lagi? No comment.. > > > > - Bupati Badung, A.A.Gde Agung, yangmenyeimbangkan Badung Utara > dengan pertaniannya dan Selatan dengan pariwisatanya. Menjalin > kerjasamadengan kab/kotadisekitarnya > > Sementara Jakarta konon akan bekerjasama dengan New York, Washington DC, dan > Hollywood, CA tentang bagaimana daerah kemaruk ini bisa tetap menjadi pusat > bisnis, sekaligus Ibukota, sekaligus kota industri sinetron.. > > > > - Walikota Sragen, Pak Untung Sarono, seorang dalang yang gila > digital. Mensetup jaringan online sehingga ia bisa memantau perkembangan di > tingkat desa/kecamatan. > > Semoga bukan warnet.. > > > > - Walkota Blitar, Pak Djarot Syaiful Hidayat, yang melindungi dan > focus pada industry kecil. Melarang mall, tapi memfasilitasi tumbuhnya UKM > dan kaki lima. > > UKM dan kaki lima bisa mimpi. > > Tapi tetap konglomerat Jakarta yang mimpin. > > > Salam, > Andri >

