Bung Dwi, namanya juga iklan...
Kalau ingin tahu lebih jauh ya, kita bisa baca dari laporannya pak Ibnu..
 Salam
Aunur Rofiq 




________________________________
From: Benedictus Dwiagus S. <[email protected]>
To: [email protected]; [email protected]
Sent: Monday, January 5, 2009 10:11:42 AM
Subject: [referensi] Iklan PNPM berlebihan (??)


Ada email dari warga klaten nih, (saya tempeldi bawah berikut) mengenai PNPM….
 
Saya pernah melihat sebuah wawancara talkshow dengan Pak Sudjana Royat, Deputi 
MenkoKesra, pemegang tanggung jawab PNPM ini,…..
Ada banyak cerita-cerita sukses yang dijabarkan beliau dalam acara tersebut,..
 
Banyak pula cerita-cerita sukses yang ditampilkan di iklan media TV dan cetak,….
 
Tapi demi keseimbangan, dan tidak berkesan berlebihan mungkin perlu diceritakan 
pula, permasalahan dan tantangan dan kendala-kendalanya,…
Biar keliatan key suksesnya apa,.. tapi juga key gagalnya juga,..
Untuk pembelajaran bagi semua orang,….
 
*Pak Sudjana bilang sih,jangan memandang PNPM sebagai alat politis/kampanye 
pihak tertentu,….., tapi toh persepsi itu tidak bisa dihindari,… susah ya. 
 
Apa ada information center untuk PNPM ini ya? Biar mereka yang bertanya-tanya 
soal PNPM bisa langsung mengakses informasi,…
 
*kemarin saya liat ada jembatan cilik terbuat dari semen, di pinggiran 
borobudur, dengan logo tulisan PNPM mandiri dari semen dengan cat warna-warni 
,.. 
Saya penasaran, warga candi Borobudur bangga dan dapat sentuhan PNPM Mandiri 
juga ya,.. 
 
Ada yang mau cerita?
Pak Ibnu Tufan, mungkin,… hehehehhehe
 
Thanks. 
 
--------------------------------------------------------
Iklan PNPM berlebihan 
Posted by: "Abdul Rohim" [email protected]   peduli_klaten 
Fri Jan 2, 2009 3:46 pm (PST) 
Iklan PNPM berlebihan.
Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat Mandiri (PNPM). Ada di berbagai media 
cetak, elektronik yang tiap hari tercetak dan disiarkan di televisi dan radio. 
PNPM butuh dana yang banyak hanya untuk komsumsi iklan saja. Bila sekali siaran 
30 detik di media televisi butuh dana 20 juta, bila media cetak setengah 
halaman butuh dana 1/2 juta dana radio 100 ribu sekali siaran (ini hanya 
perumpamaan saya saja). Sungguh sangat banyak hanya untuk iklan saja. Apabila 
dana untuk iklan betul-betul dialihkan ke program PNPM bisa menghidupkan 
program PNPM berapa kecamatan dan berapa ribu rakyat miskin yang terbantu oleh 
program PNPM, Bila betul-betul terserap oleh masyarakat miskin pedesaan.
Iklan yang manjur apabila PNPM itu dalam pelaksanaan program dalam 
penanggulanagan kemiskinan pedesaan betul-betul terasakan aleh masyarakat 
miskin pedesaan bukan di dalam iklan PNPM yang kelihatan mudah tanpa rintangan 
semua program cepat terwujud, hingga masyarakat pedesaan merasa terbantu dalam 
program PNPM. Tetapi iklan yang murah dan mudah apabila program pemberdayaan 
masyarakat miskin pedesaan yang mengatakannya. Bahwa betul-betul bermamfaat 
dalam arti sudah terlaksana di pedesaan dan yang mengatakan bukan pegawai PNPM, 
Camat, Lurah, RW atau RT tetapi masyarakat itu sendiri. Indonesia sekarang 
sedang kena krisis ekonomi global yang dimulai dari Amerika Serikat dan sudah 
sampai ke Indonesia. Sudah ada dampak dari krisis tersebut dengan adanya PHK 
massal buruh-buruh. Atau iklan PNPM itu adalah iklan terselubung penguasa 
sekarang untuk pemilu 2009. Jadi numpang iklan gratis.

http://media-klaten.blogspot.com/
salam
Abdul Rohim
--------------------------------------------------------
Best Regards,
 
Benedictus Dwiagus S.
http://bdwiagus.blogspot.com
http://bdwiagus.multiply.com 
 
"The most difficult thing in the world is to know how to do a thing and to 
watch somebody else doing it wrong, without comment."  - T. H. White
 
:::... Indo-MONEV ...:::
Indo-MONEV is a mailing list to build a network of Indonesian People anywhere 
in the world who are interested, dedicated, and profesionalised to the work on 
monitoring and evaluation and other related development issues including 
development aid works, particularly in Indonesia.
Join in by sending an email to:  [email protected] 
  


      

Kirim email ke