Pak Aby ysh, terima kasih atas tanggapannya. Saya ingin mengomentari
paragraf terakhir bapak, bila ketersediaan BBM itu adalah esensial untuk
mendukung peradaban di KTI. Kebutuhan mereka tidak konsumtif, tapi
sekedar berusaha wajar saja. Tahun lalu saya baca di koran bila
ketersediaan listrik di Wamena hanya sekitar 6 jam per hari, lagi-lagi
karena BBM mahal dan mempengaruhi tarif listrik setempat. Tahun lalu
melalui usaha mandiri Pemda akhirnya dapat membeli satu unit pembangkit
diesel ukuran besar yang diharapkan dapat mencukupi kebutuhan listrik
seluruh kota. Namun kapasitas besar tanpa didukung input tentunya akan
sia-sia.

Kembali kepada kisah Ahmad dari Asmat
<http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4130> , kemampuan
beroperasi PPNS Perikanan ini hanya 1-2 kali dalam sebulan. Bukan karena
mereka memiliki keterbatasan kemampuan, tetapi lebih karena keterbatasan
dana operasional. Sekali beroperasi mereka butuh dana sekitar Rp 4 juta,
walaupun 'hasil tangkapan' 'selalu dapat' bisa melebihi Rp 800 juta.
Saya bertanya untuk apa dana Rp 4 juta itu, dan Ahmad menjawab, "hampir
semuanya untuk beli BBM, dan sisanya untuk honor kami berlima". Bila
harga nasional dapat diterapkan di Asmat, saya yakin Ahmad dkk bisa
mendatangkan uang untuk Asmat Rp 800 juta tiap hari.

Demikian dulu pak. Salam.

-ekadj


--- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote:
>
> +++: Saya kira kita sudah sampai pada `kunci permasalahan'
pengembangan wilayah khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu `stabilisasi
harga'.
> Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat tinggi, jauh melebihi KBI.
Sebagai contoh tarif penginapan `standar' sudah Rp 400.000. Harga BBM di
Wamena Rp 15.000 / liter, dst.
> Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan di resto Padang
di Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal ini sudah
dapat dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk men-`start
up' industri (apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali tentunya pengusaha
yang mengandalkan komoditi setempat; atau hanya yang bermain di `ekonomi
hulu'.
> >>>:  Harga `mahal tak wajar' perlu dibedakan menjadi 2
hal…… ke- (1)  adalah "harga ` mahal' yg tapi
`terbuka'/ fair"……seperti tarip penginapan, atau kalau di
Wamena tentang harga BBM…….dimana sebelum membeli atau sebelum
membayar kita sudah tahu duluan ttg harganya itu mahalnya berapa…..
tinggal kita boleh pilih…..mau beli atau tidak…….. Model harga
"mahal" yg  "terbuka/ fair" inilah yg menantang utk
dapat diupayakan menjadi sedikit `normal' dgn cara a.l.
memperbaiki pola transport menjadi lebih murah……. Seperti  Wamena
misalnya utk jangka panjang perlu (dan bisa nggak secara teknis/
topografis) memiliki jalur darat  menuju pantai……. Sehingga pola
angkutan tidak melulu hrs hanya lewat udara saja yg tentu mahal
sekali……..
> Dan ke-(2)…… adalah … "harga ` mahal' yg tapi
`menjebak/ tidak terbuka/ tidak fair/ spt memeras"… seperti
pengalaman pak Eka dan pak Wawo di Tobelo, Halmahera…… dimana makan
ber-5 dirumah makan padang dicharge dengan 1.5 juta rp………. Atau
rombongan kami  `sedikit beruntung' ….. di Tobelo
juga…… mau makan didekat pelabuhan….. ada  warung berupa rumah
panggung sederhana dari kayu…… kami ber-8 mau makan tapi kebetulan
nasinya habis.. jadi kami semua hanya minum teh saja seorang segelas
(plus nitip baggage)……. . dichargenya 130 ribu rp…… untung
nasinya habis….… coba kalau kami jadi makan….. entah
dichargenya berapa juta…...
> Yg model harga `menjebak/ memeras ' begini tak usah di
KTI…… dijln. Melawai Blok M diseberang Melawai Plaza dulu juga
ada….. jualan bakso dll. hanya ditenda… harganya juga
selangit…….. belum lagi dibanyak tempat lain di Jawa/ Jkt juga
ada…… padahal banyak rumah makan cina bahkan sampai memajang daftar
menu berikut harganya dengan tulisan besar2 didepan tokonya…… tanda
mereka menjual dengan fixed price yg  fair dan tak bermaksud
`menjebak'……..
> Model "harga tak wajar yg tidak fair" begini seperti
`barang makanan'…… yg kalau sudah kadung dimakan dan masuk
perut  tak mungkin mau bilang `nggak jadi' lalu kembali lagi
utuh…. Kiranya  tak usah dibahas pakai teori ekonomi….. krn tak
bakal terjawab……… ini jelas model cara menjual yg `menjebak
setengah memeras'….... krn kita tak tahu sebelumnya harga barang yg
akan kita bayar……… ia mungkin lebih cocok dibahas melalui
pendekatan KUHP……kalau perlu dengan model "pembuktian
terbalik"….. seperti bgmn ceritanya kok harga makanan padang
seporsi  bisa jadi 300 ribu rp.. atau segelas teh manis kok harganya
bisa 15 ribu rp….. pasti lawyer kita  pak H. Eka bisa memberi
pencerahan dan tunjukkan pasalnya……….
>
> +++: Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di Jakarta lebih rendah
dan di Makasar lebih tinggi. Namun dari aspek transport cost dan
pertimbangan pengusaha, ada perhitungan `subsidi'.
> Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah dalam kebijakan kita,
sehingga masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah. Sebagai
contoh misalnya, kebijakan penetapan harga BBM secara nasional
seharusnya juga berlaku untuk Wamena. Demikian juga biaya start-up
industri (manufaktur) dll.
> >>>: Barang manufaktur dari sektor modern umumnya harga pokoknya tak
lebih dari  39-40%  dari harga jualnya……… dan pada umumnya biaya
transport yg masih dapat dibilang `wajar' adalah biaya angkutan
darat plus angkutan laut…… yg posnya sudah termasuk didalam 
`harga pokok' yang 40% dari harga jual itu……...
> Kita tahu banyak barang impor bulky dari seluruh pelosok dunia dengan
jarak sampai puluhan ribu kmpun beredar di negeri kita dan banyak
masyarakat kita mampu membelinya……… mungkin krn sejak dari negara
asalnya sana……. barang2 bulky dikirim banyak dengan kombinasi
angkutan darat dan laut saja……...
> Wamena adalah  kasus  yg ekstrim….. semua  jenis barang baik
ringan atau bulky  seperti semen atau kulkas …. semuanya hanya bisa
diangkut lewat udara saja (padahal di Jabodetabek…… toko bangunan
hanya untung 300 rp utk satu zak semen)……  cara kebijakan harga dgn
subsidi (biaya transport) utk jangka panjang barangkali  kurang
edukatip……utk jangka panjang seyogyanya harus ada jalur
darat….. walau  sifatnya masih jalan ALS (asal lewat saja) dan
katakanlah awalnya hanya dapat ditempuh dengan kuda beban sekalipun
(`BBM'nya 100% lokal, rumput dan dedak)…..
>
> Salam,
> aby
>
>
> On January 29, 2009 2:16 AM "ffekadj" 4ekadj@ wrote :
>
> Pak BTS dan Pak Nuzul ysh,
> Saya kira kita sudah sampai pada `kunci permasalahan' pengembangan
wilayah khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu `stabilisasi harga'.
> Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat tinggi, jauh melebihi KBI.
Sebagai contoh tarif penginapan `standar' sudah Rp 400.000. Harga BBM di
Wamena Rp 15.000 / liter, dst.
> Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan di resto Padang
di Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal ini sudah
dapat dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk men-`start
up' industri (apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali tentunya pengusaha
yang mengandalkan komoditi setempat; atau hanya yang bermain di `ekonomi
hulu'.
> Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi nasional, yang hingga saat
ini belum tersedia teorinya dan juga kebijakannya.
> Saya teringat sedikit pelajaran teori lokasi Pak Widiarto, yang
menentukan harga produk berdasarkan biaya produksi dan biaya transport.
> Biaya produksi bersifat fixed cost dan biaya transport bersifat
variable cost. Untuk harga satu saset Rinso di Jakarta harganya Rp 2.000
misalnya, maka harga yang sama juga berlaku di Medan, hingga mungkin
sampai ke Makasar; walau produk itu diproduksi di Tangerang.
> Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di Jakarta lebih rendah dan
di Makasar lebih tinggi. Namun dari aspek transport cost dan
pertimbangan pengusaha, ada perhitungan `subsidi'.
> Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah dalam kebijakan kita,
sehingga masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah. Sebagai
contoh misalnya, kebijakan penetapan harga BBM secara nasional
seharusnya juga berlaku untuk Wamena. Demikian juga biaya start-up
industri (manufaktur) dll.
> Sewaktu di Asmat dulu sempat diskusi dengan teman-teman PDT, Bappenas,
dan Cifor, yang waktu itu kami mengeluhkan biaya transport Timika-Agats.
Sempat kami toleh kebijakan DAU dan dana Otsus, yang dirasa masih kurang
tepat sasaran, khususnya untuk KTI. Mungkin sedikit saran untuk otoritas
keuangan kita agar sebagian dana itu dapat diarahkan untuk subsidi
beberapa produk tertentu, misalnya BBM dan barang-barang produksi yang
dapat membangkitkan ekonomi lokal.
> Demikian dulu pak, mohon pencerahannya. Salam.
> -ekadj


Kirim email ke