Uda Eka,
Selama saya 6 bulan di Wamena, harga BBM yang bersubsidi harganya sama dengan 
yang di jakarta, tapi limited untuk mendapatkannya bisa antre sampai dua hari.  
Yang Rp 15.000 mungkin dibeli dari swasta pak

Salam
Aunur Rofiq


--- On Sun, 2/1/09, ffekadj <[email protected]> wrote:

> From: ffekadj <[email protected]>
> Subject: [referensi] Re: Soal Harga Tak Wajar Di KTI
> To: [email protected]
> Date: Sunday, February 1, 2009, 9:44 PM
> Pak Aby ysh, terima kasih atas tanggapannya. Saya ingin
> mengomentari
> paragraf terakhir bapak, bila ketersediaan BBM itu adalah
> esensial untuk
> mendukung peradaban di KTI. Kebutuhan mereka tidak
> konsumtif, tapi
> sekedar berusaha wajar saja. Tahun lalu saya baca di koran
> bila
> ketersediaan listrik di Wamena hanya sekitar 6 jam per
> hari, lagi-lagi
> karena BBM mahal dan mempengaruhi tarif listrik setempat.
> Tahun lalu
> melalui usaha mandiri Pemda akhirnya dapat membeli satu
> unit pembangkit
> diesel ukuran besar yang diharapkan dapat mencukupi
> kebutuhan listrik
> seluruh kota. Namun kapasitas besar tanpa didukung input
> tentunya akan
> sia-sia.
> 
> Kembali kepada kisah Ahmad dari Asmat
> <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4130>
> , kemampuan
> beroperasi PPNS Perikanan ini hanya 1-2 kali dalam sebulan.
> Bukan karena
> mereka memiliki keterbatasan kemampuan, tetapi lebih karena
> keterbatasan
> dana operasional. Sekali beroperasi mereka butuh dana
> sekitar Rp 4 juta,
> walaupun 'hasil tangkapan' 'selalu dapat'
> bisa melebihi Rp 800 juta.
> Saya bertanya untuk apa dana Rp 4 juta itu, dan Ahmad
> menjawab, "hampir
> semuanya untuk beli BBM, dan sisanya untuk honor kami
> berlima". Bila
> harga nasional dapat diterapkan di Asmat, saya yakin Ahmad
> dkk bisa
> mendatangkan uang untuk Asmat Rp 800 juta tiap hari.
> 
> Demikian dulu pak. Salam.
> 
> -ekadj
> 
> 
> --- In [email protected], hengky abiyoso
> <watashi...@...> wrote:
> >
> > +++: Saya kira kita sudah sampai pada `kunci
> permasalahan'
> pengembangan wilayah khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu
> `stabilisasi
> harga'.
> > Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat tinggi, jauh
> melebihi KBI.
> Sebagai contoh tarif penginapan `standar' sudah Rp
> 400.000. Harga BBM di
> Wamena Rp 15.000 / liter, dst.
> > Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan
> di resto Padang
> di Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal
> ini sudah
> dapat dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk
> men-`start
> up' industri (apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali
> tentunya pengusaha
> yang mengandalkan komoditi setempat; atau hanya yang
> bermain di `ekonomi
> hulu'.
> > >>>:  Harga `mahal tak wajar' perlu
> dibedakan menjadi 2
> hal…… ke- (1)  adalah "harga ` mahal' yg tapi
> `terbuka'/ fair"……seperti tarip penginapan,
> atau kalau di
> Wamena tentang harga BBM…….dimana sebelum membeli atau
> sebelum
> membayar kita sudah tahu duluan ttg harganya itu mahalnya
> berapa…..
> tinggal kita boleh pilih…..mau beli atau tidak……..
> Model harga
> "mahal" yg  "terbuka/ fair" inilah yg
> menantang utk
> dapat diupayakan menjadi sedikit `normal' dgn cara a.l.
> memperbaiki pola transport menjadi lebih murah…….
> Seperti  Wamena
> misalnya utk jangka panjang perlu (dan bisa nggak secara
> teknis/
> topografis) memiliki jalur darat  menuju pantai…….
> Sehingga pola
> angkutan tidak melulu hrs hanya lewat udara saja yg tentu
> mahal
> sekali……..
> > Dan ke-(2)…… adalah … "harga ` mahal'
> yg tapi
> `menjebak/ tidak terbuka/ tidak fair/ spt memeras"…
> seperti
> pengalaman pak Eka dan pak Wawo di Tobelo, Halmahera……
> dimana makan
> ber-5 dirumah makan padang dicharge dengan 1.5 juta
> rp………. Atau
> rombongan kami  `sedikit beruntung' ….. di Tobelo
> juga…… mau makan didekat pelabuhan….. ada  warung
> berupa rumah
> panggung sederhana dari kayu…… kami ber-8 mau makan
> tapi kebetulan
> nasinya habis.. jadi kami semua hanya minum teh saja
> seorang segelas
> (plus nitip baggage)……. . dichargenya 130 ribu rp……
> untung
> nasinya habis….… coba kalau kami jadi makan….. entah
> dichargenya berapa juta…...
> > Yg model harga `menjebak/ memeras ' begini tak
> usah di
> KTI…… dijln. Melawai Blok M diseberang Melawai Plaza
> dulu juga
> ada….. jualan bakso dll. hanya ditenda… harganya juga
> selangit…….. belum lagi dibanyak tempat lain di Jawa/
> Jkt juga
> ada…… padahal banyak rumah makan cina bahkan sampai
> memajang daftar
> menu berikut harganya dengan tulisan besar2 didepan
> tokonya…… tanda
> mereka menjual dengan fixed price yg  fair dan tak
> bermaksud
> `menjebak'……..
> > Model "harga tak wajar yg tidak fair" begini
> seperti
> `barang makanan'…… yg kalau sudah kadung dimakan
> dan masuk
> perut  tak mungkin mau bilang `nggak jadi' lalu kembali
> lagi
> utuh…. Kiranya  tak usah dibahas pakai teori ekonomi…..
> krn tak
> bakal terjawab……… ini jelas model cara menjual yg
> `menjebak
> setengah memeras'….... krn kita tak tahu sebelumnya
> harga barang yg
> akan kita bayar……… ia mungkin lebih cocok dibahas
> melalui
> pendekatan KUHP……kalau perlu dengan model
> "pembuktian
> terbalik"….. seperti bgmn ceritanya kok harga
> makanan padang
> seporsi  bisa jadi 300 ribu rp.. atau segelas teh manis kok
> harganya
> bisa 15 ribu rp….. pasti lawyer kita  pak H. Eka bisa
> memberi
> pencerahan dan tunjukkan pasalnya……….
> >
> > +++: Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di
> Jakarta lebih rendah
> dan di Makasar lebih tinggi. Namun dari aspek transport
> cost dan
> pertimbangan pengusaha, ada perhitungan `subsidi'.
> > Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah
> dalam kebijakan kita,
> sehingga masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah.
> Sebagai
> contoh misalnya, kebijakan penetapan harga BBM secara
> nasional
> seharusnya juga berlaku untuk Wamena. Demikian juga biaya
> start-up
> industri (manufaktur) dll.
> > >>>: Barang manufaktur dari sektor modern
> umumnya harga pokoknya tak
> lebih dari  39-40%  dari harga jualnya……… dan pada
> umumnya biaya
> transport yg masih dapat dibilang `wajar' adalah biaya
> angkutan
> darat plus angkutan laut…… yg posnya sudah termasuk
> didalam 
> `harga pokok' yang 40% dari harga jual itu……...
> > Kita tahu banyak barang impor bulky dari seluruh
> pelosok dunia dengan
> jarak sampai puluhan ribu kmpun beredar di negeri kita dan
> banyak
> masyarakat kita mampu membelinya……… mungkin krn sejak
> dari negara
> asalnya sana……. barang2 bulky dikirim banyak dengan
> kombinasi
> angkutan darat dan laut saja……...
> > Wamena adalah  kasus  yg ekstrim….. semua  jenis
> barang baik
> ringan atau bulky  seperti semen atau kulkas …. semuanya
> hanya bisa
> diangkut lewat udara saja (padahal di Jabodetabek……
> toko bangunan
> hanya untung 300 rp utk satu zak semen)……  cara
> kebijakan harga dgn
> subsidi (biaya transport) utk jangka panjang barangkali 
> kurang
> edukatip……utk jangka panjang seyogyanya harus ada jalur
> darat….. walau  sifatnya masih jalan ALS (asal lewat
> saja) dan
> katakanlah awalnya hanya dapat ditempuh dengan kuda beban
> sekalipun
> (`BBM'nya 100% lokal, rumput dan dedak)…..
> >
> > Salam,
> > aby
> >
> >
> > On January 29, 2009 2:16 AM "ffekadj"
> 4ekadj@ wrote :
> >
> > Pak BTS dan Pak Nuzul ysh,
> > Saya kira kita sudah sampai pada `kunci
> permasalahan' pengembangan
> wilayah khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu `stabilisasi
> harga'.
> > Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat tinggi, jauh
> melebihi KBI.
> Sebagai contoh tarif penginapan `standar' sudah Rp
> 400.000. Harga BBM di
> Wamena Rp 15.000 / liter, dst.
> > Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan
> di resto Padang
> di Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal
> ini sudah
> dapat dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk
> men-`start
> up' industri (apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali
> tentunya pengusaha
> yang mengandalkan komoditi setempat; atau hanya yang
> bermain di `ekonomi
> hulu'.
> > Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi nasional,
> yang hingga saat
> ini belum tersedia teorinya dan juga kebijakannya.
> > Saya teringat sedikit pelajaran teori lokasi Pak
> Widiarto, yang
> menentukan harga produk berdasarkan biaya produksi dan
> biaya transport.
> > Biaya produksi bersifat fixed cost dan biaya transport
> bersifat
> variable cost. Untuk harga satu saset Rinso di Jakarta
> harganya Rp 2.000
> misalnya, maka harga yang sama juga berlaku di Medan,
> hingga mungkin
> sampai ke Makasar; walau produk itu diproduksi di
> Tangerang.
> > Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di Jakarta
> lebih rendah dan
> di Makasar lebih tinggi. Namun dari aspek transport cost
> dan
> pertimbangan pengusaha, ada perhitungan `subsidi'.
> > Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah
> dalam kebijakan kita,
> sehingga masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah.
> Sebagai
> contoh misalnya, kebijakan penetapan harga BBM secara
> nasional
> seharusnya juga berlaku untuk Wamena. Demikian juga biaya
> start-up
> industri (manufaktur) dll.
> > Sewaktu di Asmat dulu sempat diskusi dengan
> teman-teman PDT, Bappenas,
> dan Cifor, yang waktu itu kami mengeluhkan biaya transport
> Timika-Agats.
> Sempat kami toleh kebijakan DAU dan dana Otsus, yang dirasa
> masih kurang
> tepat sasaran, khususnya untuk KTI. Mungkin sedikit saran
> untuk otoritas
> keuangan kita agar sebagian dana itu dapat diarahkan untuk
> subsidi
> beberapa produk tertentu, misalnya BBM dan barang-barang
> produksi yang
> dapat membangkitkan ekonomi lokal.
> > Demikian dulu pak, mohon pencerahannya. Salam.
> > -ekadj


      

Kirim email ke