+++: Saya kira kita sudah sampai pada `kunci permasalahan' pengembangan wilayah 
khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu `stabilisasi harga'. 
Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat tinggi, jauh melebihi KBI. Sebagai 
contoh tarif penginapan `standar' sudah Rp 400.000. Harga BBM di Wamena Rp 
15.000 / liter, dst. 
Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan di resto Padang di 
Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal ini sudah dapat 
dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk men-`start up' industri 
(apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali tentunya pengusaha yang mengandalkan 
komoditi setempat; atau hanya yang bermain di `ekonomi hulu'.
>>>:  Harga ‘mahal tak wajar’ perlu dibedakan menjadi 2 hal…… ke- (1)  adalah 
>>>“harga ‘ mahal’ yg tapi ‘terbuka’/ fair”……seperti tarip penginapan, atau 
>>>kalau di Wamena tentang harga BBM…….dimana sebelum membeli atau sebelum 
>>>membayar kita sudah tahu duluan ttg harganya itu mahalnya berapa….. tinggal 
>>>kita boleh pilih…..mau beli atau tidak…….. Model harga “mahal” yg  “terbuka/ 
>>>fair” inilah yg menantang utk dapat diupayakan menjadi sedikit ‘normal’ dgn 
>>>cara a.l. memperbaiki pola transport menjadi lebih murah……. Seperti  Wamena 
>>>misalnya utk jangka panjang perlu (dan bisa nggak secara teknis/ topografis) 
>>>memiliki jalur darat  menuju pantai……. Sehingga pola angkutan tidak melulu 
>>>hrs hanya lewat udara saja yg tentu mahal sekali……..
Dan ke-(2)…… adalah … “harga ‘ mahal’ yg tapi ‘menjebak/ tidak terbuka/ tidak 
fair/ spt memeras”… seperti pengalaman pak Eka dan pak Wawo di Tobelo, 
Halmahera…… dimana makan ber-5 dirumah makan padang dicharge dengan 1.5 juta 
rp………. Atau rombongan kami  ‘sedikit beruntung’ ….. di Tobelo juga…… mau makan 
didekat pelabuhan….. ada  warung berupa rumah panggung sederhana dari kayu…… 
kami ber-8 mau makan tapi kebetulan nasinya habis.. jadi kami semua hanya minum 
teh saja seorang segelas (plus nitip baggage)……. . dichargenya 130 ribu rp…… 
untung nasinya habis….… coba kalau kami jadi makan….. entah dichargenya berapa 
juta…...
Yg model harga ‘menjebak/ memeras ’ begini tak usah di KTI…… dijln. Melawai 
Blok M diseberang Melawai Plaza dulu juga ada….. jualan bakso dll. hanya 
ditenda… harganya juga selangit…….. belum lagi dibanyak tempat lain di Jawa/ 
Jkt juga ada…… padahal banyak rumah makan cina bahkan sampai memajang daftar 
menu berikut harganya dengan tulisan besar2 didepan tokonya…… tanda mereka 
menjual dengan fixed price yg  fair dan tak bermaksud ‘menjebak’……..
Model “harga tak wajar yg tidak fair” begini seperti ‘barang makanan’…… yg 
kalau sudah kadung dimakan dan masuk perut  tak mungkin mau bilang ‘nggak jadi’ 
lalu kembali lagi utuh…. Kiranya  tak usah dibahas pakai teori ekonomi….. krn 
tak bakal terjawab……… ini jelas model cara menjual yg ‘menjebak setengah 
memeras’….... krn kita tak tahu sebelumnya harga barang yg akan kita bayar……… 
ia mungkin lebih cocok dibahas melalui pendekatan KUHP……kalau perlu dengan 
model “pembuktian terbalik”….. seperti bgmn ceritanya kok harga makanan padang 
seporsi  bisa jadi 300 ribu rp.. atau segelas teh manis kok harganya bisa 15 
ribu rp….. pasti lawyer kita  pak H. Eka bisa memberi pencerahan dan tunjukkan 
pasalnya……….
 
+++: Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di Jakarta lebih rendah dan di 
Makasar lebih tinggi. Namun dari aspek transport cost dan pertimbangan 
pengusaha, ada perhitungan `subsidi'.
Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah dalam kebijakan kita, sehingga 
masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah. Sebagai contoh misalnya, 
kebijakan penetapan harga BBM secara nasional seharusnya juga berlaku untuk 
Wamena. Demikian juga biaya start-up industri (manufaktur) dll.
>>>: Barang manufaktur dari sektor modern umumnya harga pokoknya tak lebih dari 
>>> 39-40%  dari harga jualnya……… dan pada umumnya biaya transport yg masih 
>>>dapat dibilang ‘wajar’ adalah biaya angkutan darat plus angkutan laut…… yg 
>>>posnya sudah termasuk didalam  ‘harga pokok’ yang 40% dari harga jual 
>>>itu……... 
Kita tahu banyak barang impor bulky dari seluruh pelosok dunia dengan jarak 
sampai puluhan ribu kmpun beredar di negeri kita dan banyak masyarakat kita 
mampu membelinya……… mungkin krn sejak dari negara asalnya sana……. barang2 bulky 
dikirim banyak dengan kombinasi angkutan darat dan laut saja……...
Wamena adalah  kasus  yg ekstrim….. semua  jenis barang baik ringan atau bulky  
seperti semen atau kulkas …. semuanya hanya bisa diangkut lewat udara saja 
(padahal di Jabodetabek…… toko bangunan hanya untung 300 rp utk satu zak 
semen)……  cara kebijakan harga dgn subsidi (biaya transport) utk jangka panjang 
barangkali  kurang edukatip……utk jangka panjang seyogyanya harus ada jalur 
darat….. walau  sifatnya masih jalan ALS (asal lewat saja) dan katakanlah 
awalnya hanya dapat ditempuh dengan kuda beban sekalipun (‘BBM’nya 100% lokal, 
rumput dan dedak)…..
 
Salam,
aby
 
 
On January 29, 2009 2:16 AM "ffekadj" 4ek...@......... wrote :
 
Pak BTS dan Pak Nuzul ysh,
Saya kira kita sudah sampai pada `kunci permasalahan' pengembangan wilayah 
khususnya untuk Indonesia Timur, yaitu `stabilisasi harga'. 
Di KTI harga-harga berfluktuasi sangat tinggi, jauh melebihi KBI. Sebagai 
contoh tarif penginapan `standar' sudah Rp 400.000. Harga BBM di Wamena Rp 
15.000 / liter, dst. 
Dulu bersama Pak Wawo dan 5 rekan lainnya sempat makan di resto Padang di 
Tobelo, kena Rp 1,5 juta sekali makan. Sehingga dari hal ini sudah dapat 
dilihat, siapapun investor-nya pasti akan ngeri untuk men-`start up' industri 
(apalagi manufaktur) di KTI. Kecuali tentunya pengusaha yang mengandalkan 
komoditi setempat; atau hanya yang bermain di `ekonomi hulu'.
Persoalan ini sebenarnya masalah ekonomi nasional, yang hingga saat ini belum 
tersedia teorinya dan juga kebijakannya. 
Saya teringat sedikit pelajaran teori lokasi Pak Widiarto, yang menentukan 
harga produk berdasarkan biaya produksi dan biaya transport. 
Biaya produksi bersifat fixed cost dan biaya transport bersifat variable cost. 
Untuk harga satu saset Rinso di Jakarta harganya Rp 2.000 misalnya, maka harga 
yang sama juga berlaku di Medan, hingga mungkin sampai ke Makasar; walau produk 
itu diproduksi di Tangerang. 
Berdasarkan nilai jarak seharusnya harga di Jakarta lebih rendah dan di Makasar 
lebih tinggi. Namun dari aspek transport cost dan pertimbangan pengusaha, ada 
perhitungan `subsidi'.
Masalah `subsidi' ini yang belum terlalu terolah dalam kebijakan kita, sehingga 
masih ada diferensiasi harga di berbagai wilayah. Sebagai contoh misalnya, 
kebijakan penetapan harga BBM secara nasional seharusnya juga berlaku untuk 
Wamena. Demikian juga biaya start-up industri (manufaktur) dll.
Sewaktu di Asmat dulu sempat diskusi dengan teman-teman PDT, Bappenas, dan 
Cifor, yang waktu itu kami mengeluhkan biaya transport Timika-Agats. Sempat 
kami toleh kebijakan DAU dan dana Otsus, yang dirasa masih kurang tepat 
sasaran, khususnya untuk KTI. Mungkin sedikit saran untuk otoritas keuangan 
kita agar sebagian dana itu dapat diarahkan untuk subsidi beberapa produk 
tertentu, misalnya BBM dan barang-barang produksi yang dapat membangkitkan 
ekonomi lokal.
Demikian dulu pak, mohon pencerahannya. Salam.
-ekadj
 
 
 
 


      

Kirim email ke