Pak Aby ysh, tidak perlu diragukan lagi ideologi saya tentang pembangunan infrastruktur sebagaimana dapat dilihat pada postingan ini <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4279> dan ini <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4806> . Hanya perlu 2-3 tahun saja, entah dimulai dari tahun berapa, untuk meyakinkan bahwa membangun itu mudah dan murah. Ketika 2 tahun lalu sebagaimana disebutkan Pak Nuzul, Papua mendapatkan 2% APBN untuk pembangunan infrastruktur, saya memperkirakan akan terjadi 'boom infrastruktur'. Namun tidak <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/4112> terjadi. Saya pernah cek ke salah satu kabupaten, dan ternyata mereka hanya mengalokasikan 7% APBD untuk infrastruktur. Saya hitung DAU + dana Otsus lebih 600 M; berarti hanya mengalokasikan sekitar 40an M untuk infrastruktur. Saya kira ini kebangetan. Atau RTRW (segala level) kita underlook terhadap kemampuan keuangan daerah?
Masalah peran masyarakat (swasta) juga pernah kita singgung, dan sungguh sulit <http://groups.yahoo.com/group/referensi/message/2765> dilakukan bila tidak ada subsidi dari Pemerintah. Skim subsidi ini yang ingin kita diskusikan, terlebih bila dikaitkan dengan mekanisme insentif/disinsentif. Saya baca bila pembangunan infrastruktur adalah program pemerintah yang paling terukur dalam menyerap lapangan pekerjaan. Walaupun memang tenaga kerja itu tidak menjadi leverage sektor usaha lain. Sektor industri memang lebih terbukti. Sehingga seharusnya pembangunan infrastruktur dibarengi juga dengan pengembangan industri. Hal-hal lain yang menjadi keprihatinan Pak Aby akan saya perhatikan. Sementara demikian dulu pak. Salam. -ekadj --- In [email protected], hengky abiyoso <watashi...@...> wrote: > > > --- On Mon, 2/2/09, ffekadj 4ek...@gmail. com> wrote: > > " .Karena DAK dan DAU masuk dalam komposisi APBD, maka : > 3).Berapakah rata-rata alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur dalam APBD Prov/Kab/Kota? > Saya mengasumsikan anggaran infrastruktur ini adalah kegiatan yang terkait dengan 'fisik ruang' (tidak termasuk pengawasan dan konsultansi) ; sehingga terkait dengan sektor ke-pu-an, perhubungan, dan sektor teknis tertentu lainnya. Atau 'fisik ruang' ini selama ini diasumsikan sebagai 'pembentuk struktur ruang'. > Bila dapat diperkirakan, maka indikasi program utama akan 'earmarked'. > Atau sebatas itulah sebenarnya prediksi realistis yang dapat dilakukan oleh perencana.Mohon kontribusi rekan-rekan. Sebelumnya terima kasih ." > > Sahabat H. Ekadj dan milisters ysh, > > Setelah anda sangat tertarik dan mendpt penjelasan ttg DAK dan DAU dalam rangka minat anda membangun `struktur ruang daerah' melalui pembangunan infrastruktur yg ini menurut anda sekiranya dapat didanai oleh APBD . dan nampaknya anda jg sangat memikirkan dgn sungguh2 ttg nasib harga2 yg melangit di Wamena sbg contoh ekstrim tempat terpencil dan nampaknya anda terus berpikir keras ttg bgmn mencari jalan keluarnya . > Skrg tolong izinkan saya utk ganti ingin sekuat tenaga menarik perhatian anda juga pada .. `bgmn membangun struktur ruang sosial ekonomi daerah' ... yg tentu tdk bergantung kuat pada APBD .tapi lbh bergantung pada dinamika swasta dan kewiraswastaan . Dgn harapan moga2 agar terdapat keseimbangan visi . Terlebih bahwa yg terakhir ini spt lebih banyak senada dgn saran World Bank tentang bgmn negara2 sebaiknya menata kembali geografi ekonominya . > > Pertama . > Benar bahwa sesuai sejarah perkembangan kelahirannya teknik PWK . Baik seblm lahirnya revolusi industri maupun sesudahnya ..spt di Inggris misalnya berupa lahirnya kota-kota baru yg indah .. sbg anti klimaks dari berkembangnya kota2 industri yg amat tak sehat, kelam, kotor krn asap pabrik, tanpa sewerage system, tanpa RTH . Maklum pembangunan pabrik2 tdk/ blm memakai advis planning krn memang kala itu blm muncul apa yg dinamai sbg sains city planning .. > > Benar bahwa tujuan lbh utama tentang `perencanaan kota' kala itu adalah lbh dlm rangka mengejar tujuan mencapai `kota yg indah dan sehat' itu krn masalah yg dihadapi bukannya "perekonomian negara yg lesu" atau "angka penggangguran yg tinggi" atau "ketimpangan kemajuan antar wilayah" .. .. dan bukan pula bgmn "membangun kota bagi tempat orang2 menganggur dpt memperoleh pekerjaannya" maka tepatlah bila kala itu "mengembangkan struktur fisik ruang kota2 baru pada negara2 maju yg kini menjadi veteran pembangunan wilayah" adalah tujuan utama dari PWK .... > > Zaman bergulir teknologi terus berkembang pesat .. lalu modernitas kota itu merembet masuk pula kenegara2 sedang berkembang sementara negara2 (terlebih) yg sdg berkembang tak mampu menjaga keseimbangan perkembangan populasi penduduknya . sehingga penduduk yg berkembang pesat dan sulit memperoleh penghidupan yg layak didesa dan kota kecil lalu mengalir kekota dlm proses `urbanisasi' sampai melebihi kapasitas kecepatan perkembangan kota2 utk menampungnya lalu bersamaan dgn itu muncul pula fenomena "wilayah2 terpencil" dan lalu karenanya "tertinggal" . `Tertinggal' dalam hal kemajuannya .. sehingga tak menarik utk menjadi tempat2 favorit bagi tinggal dan mencari pekerjaan ... maka bersama dengan itu muncullah kebutuhan lain idealisme PWK untuk .. "bgmn membangun kota2 didaerah menjadi sedemikian menariknya" . sehingga arus penduduk yg menyerbu kekota besar tak harus menyebabkan ketimpangan kepadatan > persebaran penduduknya . Terlebih utk negara Indonesia yg amat luas dgn kendala kondisi geografiknya yg termasuk salah satu terganas dan terberat didunia . > > Kebutuhan idealisme `baru' PWK ini juga didasari pula alasan bhw proporsi penduduk desa-kota kita yg pada awal kehadiran PWK di Indonesia semula berkisar 80%-20%... kini telah menjadi 50%-50%.... dan tak mungkin dibendung akan menuju angka sebaliknya ialah 20%-80%...... shg kebutuhan pembangunan kota sebenarnya tak sekedar utamanya memerlukan `struktur ruang fisik kota' tapi tak kalah penting kini justru diperlukan mempersiapkan `struktur ruang ekonomi sosial kota" . > > Jika semula pada suatu waktu dulu sebelum thn 1940 dinegara maju "membangun kota yg indah" (fisik kota, Howard, Geddes) pernah lebih merupakan tujuan utama utk menjawab kebutuhan meninggalkan kondisi kota2 industri yg kumuh, kusam dan tak sehat (dlm keadaan banyak penduduk bekerja serta memperoleh pendapatan yg cukup) kini nampaknya (bagi negara, utamanya yg sdg berkembang) . membangun kota-kota besar dan industri2 bagi menampung luapan tenaga kerja (beda dgn industrialis developer properti komersial yg cukup membangun `produk rumah' pada `kota satelit' menempel pd kota besar yg ada) . lebih merupakan kebutuhan ttg . bgmn menjawab pertanyaan ttg "tingginya angka pengangguran" (mslh -sosial ekonomi kota) . akibat laju angka kelahiran penduduk yg tak seimbang dgn kecepatan penciptaan kesempatan kerja . maupun juga akibat kelebihan angkatan kerja pertanian dipedesaan .. > Dinegara sdg berkembang (pasca 1970) terdapat keperluan menjadikan kota2 (besar) lbh sbg "ruang penyedia kesempatan kerja bagi penduduk" (jadi amat berbeda nuansanya dengan masa sblm 1940 dinegara maju) .. dimana kebutuhan ttg "perumahan atau lingkungan yg sehat" akan dijawab kelewat gesit oleh pasar (dan pengembang, sambil mencari keuntungan) .. sampai2 stoknya berlebih .. > Sementara itu "masalah kesempatan kerja" (secara nasional) tinggallah menjadi masalah pelik yg harus trs dipikirkan oleh pemerintah (Menko ekon?) disamping bhw utk masalah "industri dan jasa" sbg lapangan kerja masyarakat .. berbeda dgn negara maju (GNP diatas 20.000 dollar) yg "selalu bbrp langkah didepan" dan menguasai dunia, teknologi serta inovasi negara2 sdg berkembangpun (GNP dibawah 3000 dollar) atas nama `globalisasi' msh hrs terengah2 beradu keuletan dgn sesama banyak negara lain dlm hal `industri, jasa dan ekspor' .. > Krn itu kalau masyarakat perencanaan kita msh saja berasyik masuk dgn (sekedar) masalah pro-pasip `fisik kota' terus dan masih ingin terus menjadi peran "pupuk bawang" serta "menjaga jarak jauh terus" dalam hal "pembangunan ruang sosial-ekonomi kota" janganlah kita pernah berharap bahwa masyarakat perencanaan akan "dimasukkan dalam hitungan" serta "didudukkan ditempat terhormat dijajaran terdepan" dalam menghadapi beratnya beban pembangunan (ekonomi-sosial) nasional kita .. > Sementara demikian dulu, Wamenanya nyusul diposting berikutnya .. > > Salam, aby

