--- On Mon, 2/2/09, ffekadj <4ek...@gmail. com> wrote:
“….Karena DAK dan DAU masuk dalam komposisi APBD, maka :
…3).Berapakah rata-rata alokasi anggaran untuk pembangunan infrastruktur dalam
APBD Prov/Kab/Kota?
Saya mengasumsikan anggaran infrastruktur ini adalah kegiatan yang terkait
dengan 'fisik ruang' (tidak termasuk pengawasan dan konsultansi) ; sehingga
terkait dengan sektor ke-pu-an, perhubungan, dan sektor teknis tertentu
lainnya. Atau 'fisik ruang' ini selama ini diasumsikan sebagai 'pembentuk
struktur ruang'.
Bila dapat diperkirakan, maka indikasi program utama akan 'earmarked'.
Atau sebatas itulah sebenarnya prediksi realistis yang dapat dilakukan oleh
perencana.Mohon kontribusi rekan-rekan. Sebelumnya terima kasih…….”
Sahabat H. Ekadj dan milisters ysh,
Setelah anda sangat tertarik dan mendpt penjelasan ttg DAK dan DAU dalam
rangka minat anda membangun ‘struktur ruang daerah’ melalui pembangunan
infrastruktur… yg ini menurut anda sekiranya dapat didanai oleh APBD……. dan
nampaknya anda jg sangat memikirkan dgn sungguh2 ttg nasib harga2 yg melangit
di Wamena sbg contoh ekstrim tempat terpencil…… dan nampaknya anda terus
berpikir keras ttg bgmn mencari jalan keluarnya…….
Skrg tolong izinkan saya… utk ganti ingin sekuat tenaga menarik perhatian anda
juga pada….. ‘bgmn membangun struktur ruang sosial ekonomi daerah’…... yg tentu
tdk bergantung kuat pada APBD….tapi lbh bergantung pada dinamika swasta dan
kewiraswastaan…. Dgn harapan moga2 agar terdapat keseimbangan visi……. Terlebih
bahwa yg terakhir ini spt lebih banyak senada dgn saran World Bank tentang bgmn
negara2 sebaiknya menata kembali geografi ekonominya……….
Pertama….
Benar bahwa sesuai sejarah perkembangan kelahirannya teknik PWK…. Baik seblm
lahirnya revolusi industri maupun sesudahnya…..spt di Inggris misalnya berupa
lahirnya kota-kota baru yg indah….. sbg anti klimaks dari berkembangnya kota2
industri yg amat tak sehat, kelam, kotor krn asap pabrik, tanpa sewerage
system, tanpa RTH……. Maklum pembangunan pabrik2 tdk/ blm memakai advis planning
krn memang kala itu blm muncul apa yg dinamai sbg sains city planning……..
Benar bahwa tujuan lbh utama tentang ‘perencanaan kota’ kala itu adalah lbh
dlm rangka mengejar tujuan mencapai ‘kota yg indah dan sehat’… itu krn masalah
yg dihadapi bukannya “perekonomian negara yg lesu”… atau “angka penggangguran
yg tinggi”… atau “ketimpangan kemajuan antar wilayah”…..….. dan bukan pula bgmn
“membangun kota bagi tempat orang2 menganggur dpt memperoleh pekerjaannya”……
maka tepatlah bila kala itu “mengembangkan struktur fisik ruang kota2 baru
pada negara2 maju yg kini menjadi veteran pembangunan wilayah”…… adalah tujuan
utama dari PWK…....
Zaman bergulir…… teknologi terus berkembang pesat….. lalu modernitas kota itu
merembet masuk pula kenegara2 sedang berkembang… sementara negara2 (terlebih)
yg sdg berkembang tak mampu menjaga keseimbangan perkembangan populasi
penduduknya…. sehingga penduduk yg berkembang pesat dan sulit memperoleh
penghidupan yg layak didesa dan kota kecil lalu mengalir kekota dlm proses
‘urbanisasi’ sampai melebihi kapasitas kecepatan perkembangan kota2 utk
menampungnya …… lalu bersamaan dgn itu muncul pula fenomena “wilayah2
terpencil” dan lalu karenanya “tertinggal”……. ‘Tertinggal’ dalam hal
kemajuannya….. sehingga tak menarik utk menjadi tempat2 favorit bagi tinggal
dan mencari pekerjaan…... maka bersama dengan itu muncullah kebutuhan lain
idealisme PWK untuk….. “bgmn membangun kota2 didaerah menjadi sedemikian
menariknya”…. sehingga arus penduduk yg menyerbu kekota besar tak harus
menyebabkan ketimpangan kepadatan
persebaran penduduknya…. Terlebih utk negara Indonesia yg amat luas dgn
kendala kondisi geografiknya yg termasuk salah satu terganas dan terberat
didunia………….
Kebutuhan idealisme ‘baru’ PWK ini juga didasari pula alasan bhw proporsi
penduduk desa-kota kita yg pada awal kehadiran PWK di Indonesia semula
berkisar 80%-20%... kini telah menjadi 50%-50%.... dan tak mungkin dibendung…
akan menuju angka sebaliknya… ialah 20%-80%...... shg kebutuhan pembangunan
kota sebenarnya tak sekedar utamanya memerlukan ‘struktur ruang fisik kota’…
tapi tak kalah penting kini justru diperlukan mempersiapkan ‘struktur ruang
ekonomi sosial kota”…….
Jika semula pada suatu waktu dulu sebelum thn 1940 dinegara maju “membangun
kota yg indah” (fisik kota, Howard, Geddes) pernah lebih merupakan tujuan utama
utk menjawab kebutuhan meninggalkan kondisi kota2 industri yg kumuh, kusam dan
tak sehat (dlm keadaan banyak penduduk bekerja serta memperoleh pendapatan yg
cukup)…… kini nampaknya (bagi negara, utamanya yg sdg berkembang)…. membangun
kota-kota besar dan industri2 bagi menampung luapan tenaga kerja (beda dgn
industrialis developer properti komersial yg cukup membangun ‘produk rumah’
pada ‘kota satelit’ menempel pd kota besar yg ada)…. lebih merupakan kebutuhan
ttg…. bgmn menjawab pertanyaan ttg “tingginya angka pengangguran” (mslh -sosial
ekonomi kota)…. akibat laju angka kelahiran penduduk yg tak seimbang dgn
kecepatan penciptaan kesempatan kerja……. maupun juga akibat kelebihan angkatan
kerja pertanian dipedesaan……..
Dinegara sdg berkembang (pasca 1970) terdapat keperluan menjadikan kota2
(besar) lbh sbg “ruang penyedia kesempatan kerja bagi penduduk” (jadi amat
berbeda nuansanya dengan masa sblm 1940 dinegara maju)….. dimana kebutuhan ttg
“perumahan atau lingkungan yg sehat” akan dijawab kelewat gesit oleh pasar
(dan pengembang, sambil mencari keuntungan)….. sampai2 stoknya berlebih…..…
Sementara itu “masalah kesempatan kerja” (secara nasional) tinggallah menjadi
masalah pelik yg harus trs dipikirkan oleh pemerintah (Menko ekon?)…… disamping
bhw utk masalah “industri dan jasa” sbg lapangan kerja masyarakat….. berbeda
dgn negara maju (GNP diatas 20.000 dollar) yg “selalu bbrp langkah didepan” dan
menguasai dunia, teknologi serta inovasi…… negara2 sdg berkembangpun (GNP
dibawah 3000 dollar) atas nama ‘globalisasi’ msh hrs terengah2 beradu keuletan
dgn sesama banyak negara lain dlm hal ‘industri, jasa dan ekspor’……..
Krn itu kalau masyarakat perencanaan kita msh saja berasyik masuk dgn (sekedar)
masalah pro-pasip ‘fisik kota’ terus… dan masih ingin terus menjadi peran
“pupuk bawang” serta “menjaga jarak jauh terus" dalam hal “pembangunan ruang
sosial-ekonomi kota”……… janganlah kita pernah berharap bahwa masyarakat
perencanaan akan “dimasukkan dalam hitungan” serta “didudukkan ditempat
terhormat dijajaran terdepan” dalam menghadapi beratnya beban pembangunan
(ekonomi-sosial) nasional kita……..
Sementara demikian dulu, Wamenanya nyusul diposting berikutnya…..
Salam, aby